Menjawab Masa Lalu: Sesak Nafas

Menemukan tulisan di bawah ini dalam salah satu folder:


Aku tidak tahu persis aku akan jadi orang yang seperti apa.

Bahkan persisnya mau jadi seperti apa pun belum tergambar dengan jelas. Hanya saja aku punya bayangan. Aku bisa tahu bidang-bidang apa yang benar-benar kuinginkan.

Tandanya ada satu: sesak nafas.

Kalau bahasa kerennya mungkin ‘breath-taking’. Ya. Aku yang sesak nafas ketika menjelajah perpustakaan dan toko buku. Aku yang sesak nafas ketika menyaksikan Taufiq Ismail dan Joko Pinurbo. Aku yang sesak nafas ketika bertemu dan mendengarkan Bu Septi.

Dan aku yang sesak nafas saat ini. Di depan layar laptop.

Kadang-kadang tidak selalu jelas kemana arus hidup menghanyutkan kita.

Sesak-sesak nafasku hari ini mungkin sangat dipengaruhi oleh malam-malam panjang bersama Beauty and the Beast. Atau siang-siang singkat yang habis sambil menggenggam joystick. Atau hari itu, ingat? Kelas satu smp? Ketika seorang teman dari dunia maya, melalui Yahoo Messenger mengenalkanku pertama kali pada.. pemrograman. Pascal. Yaampun Pascal!

Aku tidak tahu bagaimana mengakomodasi semua sesak-nafas ini. Tidak tahu. Kadang kalau kita melihat ke belakang ‘tahu-tahu sudah jadi sebuah cerita’ (seperti kata Budi Darma). Semoga saja ada satu cerita indah yang terjalin dari semua sesak ini.


 

Tulisan di atas aku unggah pada Februari 2015. Itu masa-masa aku mulai mensinkronisasi isi laptop ke awan GDrive. Jadi mungkin menulisnya pada tahun 2014, sebelum sibuk skripsian.

Ini adalah salah satu hal yang indah dari kebiasaan menulis: ketika menemukan tulisan-tulisan lama. Diri-masa-lalu itu walau lebih muda, walau suka alay juga, tapi tidak jarang sangat kontemplatif, sangat sederhana, sangat jujur. Rasanya aku ingin duduk lama-lama mengobrol dengan dia.

Hai, Fin. Aku di 2018 ini alhamdulillah sehat. Sudah jarang ke toko buku karena sudah jarang beli buku karena agak trauma melihat lembaran kertas tertimbun lumpur banjir. Sekarang lebih memilih ebook. Buku terakhir yang aku baca adalah The Opposite of Loneliness karya Marina Keegan. Beberapa tahun lalu aku, Binar, dan Gugum membuat satu folder bersama yang berisi banyak sekali ebook. Teman-teman ada yang mau? Bisa diakses di sini: bit.ly/bukubukuabg

Kemarin ada acara menghadirkan Aan Mansyur tapi aku nggak datang karena ada jadwal les tahsin. Yang datang Fitri sama Faiza, aku kebagian melihati foto mereka saja. Sepulang tahsin kemarin aku lanjut ikut kajian sama ibu-ibu. Temanya tentu saja tentang bersiap-siap menyambut Ramadhan. Tahun ini aku rencananya sih mau melakukan sesuatu dengan Fitri terkait sesak-nafasmu yang ini. Kamu bisa kirim doa ke masa depan ndak agar rencana kami berjalan lancar?

Fin, tidak seperti saat seusiamu, di umur segini aku lebih mudah dekat-dekat dengan komunitas ibu-ibu secara umum. Teman-teman sekolah dan kuliah beberapa sudah jadi ibu. Teman-teman ngaji juga ibu-ibu (aku bahkan dipanggil ‘anak TK’ sama Bu Puji karena kecil sendiri). Akses informasi per-ibuibu-an pun jadi lebih mudah. Aku sekarang jadi admin grup ibu-ibu lho :)) Hehe enggak sih, cuma bantu jadi co-admin. Temanku admin utamanya.

Fin aku sepertinya kurang lebih tahu apa yang sedang kamu sesak-nafas-i ketika menghadap layar laptop itu. Overwhelmed ya pasti. Alhamdulillah aku di 2018 ini sudah ada skill sedikiit di bidang itu. Semoga aku bisa terus rajin belajar agar bisa membuat, melakukan macam-macam hal.

Membaca tulisanmu, rasanya benar: ‘tahu-tahu sudah jadi sebuah cerita’. Aku jadi cukup tenang menghadapi hari-hari ke depan. Terima kasih sudah menulis ya Fin. Luv.

 

Advertisements

So it’s past 2 AM. I feel like I’m regressing to my high-school self: the me who wanted to stay as long as possible on ‘today’ and push the coming ‘tomorrow’ back. I take the awakening from night sleep as the marking of tomorrow, hence I avoid sleep altogether to delay tomorrow. It’s 3 nights in a row now. I don’t remember having these kind of nights on my college life. Or maybe I did, but not so often. As long as I remember, my darkest days on college were late 2012 (Suksesi days) and mid 2015 (skripsi). And at least then I could point some culprits for the gloominess, the haunting uneasiness.. But for these days.. I cannot.

I’m afraid that this means I’m stuck on this mental development phase and won’t be able to function well as a descent human adult. I’m afraid that this means I won’t be able to be a responsible caregiver for other human beings. I’m afraid that this means I’m not worthy.

I’m also afraid that this is just a drama I made up in my head for I don’t know what reason.

I take walks, I meet people, I eat food and sweets, still I don’t feel better. So if you have any technical suggestions about how to get pass this mental episode, please kindly let me know.

Dua Garis

Mata terbuka. Menengok ke kiri dan melihat Rio masih pulas tertidur. Nafasnya panjang teratur.

Sesuai dengan yang kubayangkan (dan.. setengah kuharapkan, setengah kurencanakan) malam kemarin.

Pelan-pelan aku keluar dari selimut. Duduk di tepi kasur. Minum segelas air yang selalu kusiapkan di meja samping tempat tidur. Menguncir rambut sambil berdoa. Menarik pegangan laci dengan hati-hati agar tidak berderit. Mengambil sekotak kemasan yang baru kubeli kemarin sore di apotek. Mengantonginya di saku celana. Menutup kembali laci. Perlahan.

Kulirik lagi Rio untuk memastikan. Benar, masih tidur. Masih bernafas. Hidup.

Aku bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Setelah mengunci pintunya sepelan mungkin (suara ‘ceklek’-nya tidak berkurang walaupun aku menekan pelan-pelan sih), aku melepas celana dan menggantungkannya asal di daun pintu. Kurogoh sakunya, lalu duduk sambil membaca ulang petunjuk penggunaan. Kemarin sudah kubaca lima kali, setidaknya. Aku tidak deg-degan atau apa kok. Hobiku memang membaca.

Merasakan ‘dorongan’ itu mulai muncul, aku mengambil mangkuk plastik yang sudah kusiapkan kemarin malam. Aku menadahi air seni sambil memperhatikan warnanya. FFEECC? Kuningnya mirip dengan desain yang aku kerjakan semalam, hehehe..

Btw kalian merasa tidak nyaman kah aku cerita mendetil begini? Barangkali iya, ya? Baiklah aku coba lebih halus ya.

Setelah selesai dengan urusan kesenian, aku mengambil sebatang test pack. Aku kerjakan langkah-langkah sesuai petunjuk penggunaannya. Lalu menunggu.

Menunggu menunggu menunggu.

Terasa lama.

Betapa lucu. Padahal aku menganggap diriku ahli menunggu. Menunggu ibu menjemput saat pulang sekolah. Menunggu roti matang dipanggang. Menunggu Rio datang.

Dan pada semua momen menunggu itu aku tidak pernah ragu sedikit pun. Entah kenapa. Aku selalu yakin yang kutunggu akan datang pada waktunya. Giliranku akan tiba. Ketika belum, tidak perlu menangis. Berdoa saja.

Barangkali keyakinan itu berasal dari satpam sekolah yang selalu menemaniku menunggu ibu. Namanya Pak Muntazhir. Artinya the one who waits. Dia selalu mengajakku bercerita sembari menunggu. Macam-macam cerita.

Bulan lalu kudengar Pak Muntazhir meninggal setelah mengalami kecelakaan ketika perjalanan pulang dari luar kota. Entah penghayatan macam apa yang akan diresapi oleh anak-anak yang menunggunya pulang, tanpa pernah mendapati kedatangannya.

Ah. Aku melirik lagi test pack yang kugunakan tadi. Ini dia hasilnya.

Dua garis.

Hmm. Ya ya.

Positif hamil adalah hal yang sangat membahagiakan–kalau melihat di filem-filem romansa dan iklan televisi. Apalagi setelah menunggu selama ini. Jadi aku seharusnya bahagia ya.

Hmm tapi sejauh ini (kira-kira 40 detik) rasanya masih biasa saja sih. Mungkin aku juga perlu menunggu sampai rasa itu datang. Tebakanku, dia akan datang berombongan dengan rasa-rasa lain. Ramai-ramai. Aku perlu siap-siap.

Mengusap-usap perut. Aku membayangkan yang ada di dalamnya. (Sate ayam Ponorogo dan lontong, haha!) Ada sesuatu yang masih kecil sekali dan perlahan akan tumbuh membesar. Mendesak-desak. Menendang-nendang. Meronta menangis–merepotkan, hihi. Hidup. Dan menghangatkan.

Aku masih duduk berlama-lama menikmati segala pikiran ini. Segala yang masih milikku sendiri ini. Sesaat lagi, Rio akan bangun. Lalu aku akan memberi tahunya, tentu saja. Lalu bapak dan ibu. Lalu saudara-saudara dan teman-teman. Lingkarannya akan semakin lebar. Mungkin akan semakin bising dan membingungkan.

Setelah capek duduk di atas kloset, aku membereskan diri dan keluar dari kamar mandi. Kuambil handphone di meja kamar dan mengetik..

18 Februari 2018.

Sayang, saat ini kita satu. Kamu di dalamku. Belum masuk hitungan sensus penduduk. Setelah berpisah nanti, kamu akan lupa hari ini. (Yang akan kamu ingat cuma tanggal lahir, karena di hari ulang tahun kamu dapat banyak hadiah dan promo gratisan dari berbagai restoran.) Tapi aku akan ingat. Tidak apa-apa, aku akan mengingatkanmu terus, mengulang-ulang cerita hari ini dengan kebawelan maksimal sampai kamu muak, haha.

Kapan-kapan kita bertengkar yang seru ya, sayang. 

Waktu Aku Kecil Aku Menginap di Rumah Teman dan Menyaksikan Ini…

Seingatku saat itu aku kelas 4 SD. Aku punya teman yang cukup dekat, namanya Susan. Cukup-dekat-nya tuh sampai level kayak gini: Walaupun, tentu saja, setiap hari bertemu di sekolah, aku dan Susan kadang saling mengirim surat via Pos. Hihi dulu aku nulis apa gitu ya..

Nah jadi suatu waktu saat libur bulan puasa, aku menginap di rumah Susan. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Mungkin 15 menit dengan sepeda.

Tiba saat berbuka puasa. Aku, Susan, ayah, ibu, dan adik laki-lakinya duduk mengelilingi meja makan. Aku lupa berapa umur adik laki-laki itu, seingatku 2 atau 3 tahun lebih muda dari kami. Ibu Susan sudah memasak menu berbuka yang terlihat lezat. Kami pun mulai makan.

Aku mulai menyuapkan sesuatu yang tampak seperti perkedel atau kroket ke mulut. Tampaknya sangat enak. Tapi begitu kukunyah.. hmm.. rasanya.. kurang cocok dengan ekspektasiku.. Aku pun mengesampingkan item itu….

Ibu susan kemudian bertanya pada si adik laki-laki, “Enak Fik?” merujuk pada sesuatu/perkedel/kroket yang barusan juga kumakan. Adik itu pun menjawab jujur, “Nggak enak Ma.” Aku tidak ingat apakah aku melihat raut kecewa di wajah ibunya..

Ibu Susan mempersilakan kami melanjutkan makan dan keluar dari ruang makan untuk bersiap shalat. Dan inilah yang aku saksikan..

Susan menoleh pada adiknya dan berkata dengan nada ndawuh, “Kamu itu masio nggak enak bilango aja enak.”

Whoa.

Aku merasa sangat kagum pada Susan saat itu. Kelas 4 SD lho. Susan ini padahal menurutku tergolong polos (pernah mengira Caprisone adalah bir, pernah menangis karena dia kira dia sudah makan tinta timbul dan akan segera mati keracunan). Betapa dia memiliki kepekaan, kelembutan hati, dan unggah-ungguh yang luhur. Apakah karena dia anak sulung? Kadang-kadang anak sulung memang.. hmm… beda.

Kalau di posisi adiknya sepertinya aku akan mengatakan hal yang sama. Dan kalau di posisi Susan sepertinya aku tidak akan kepikiran berbohong demi menyenangkan hati orang tua begitu. Kalau di posisi ibunya.. uwu.. sepertinya aku akan langsung peluk-peluk Susan.

Atau.. apa sebenarnya itu normal ya? Apa memang akhlakku saja yang terlalu rendah ya….


Wah sudah luama tidak menulis di sini. Aku post yang ringan-ringan dulu saja ya.