The Tale of a Calf and a Swallow

Last night I slept teary-eyed, feeling lost and heart broken. Well if you know me, you know it’s not something unusual, me shedding one or two tears. So I’m not trying to make any drama here, alright. I just read some news about people some kilometers away. Some peasants, some police officers. No one I personally know. The news has been slipping here and there in my Twitter timeline. Laying in my bed, I just got the time to read attentively.

Then my mind wandered to some days in May 2013. To Stasiun UI. I keep getting back to that moment because, hmm, that’s the only time I’ve ever encountered such scenario. Such mixed emotion.

People around the city is currently busy fighting about something else. I mean it’s not at all wrong, but nevertheless it makes me feel even more sad. I just.. have this little hope that our fighting spirit could reach.. wider.. beyond..

Ah, okay.

This morning I came across a song.

On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye
High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky

How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer’s night

Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don

Donna Donna. You may know this song from the movie Gie.

“Stop complaining”, said the farmer
“Who told you a calf to be
Why don’t you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free”

When I first listen to this song years ago, I thought it was about don’t be like a calf, be like a swallow. I was 12 or 13 years old, pretty innocent (ha). But after last night, I see this song in a whole different light.

I see it as a satire. What the farmer said was a pure ignorance. It’s like saying to people, “Stop complaining. It’s your own fault that you don’t try hard enough. You quit school because you’re lazy. You don’t earn much because you’re lazy. That miserable life, serves you right.”

Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly

If you feel more like a swallow, instead of just ‘winging swiftly through the sky’, ‘proud and free’, how about caring for our ‘calf’ fellows? Listen to their mourning, look deep into their eyes, or just.. try to do something.

You might think that we can’t do anything to make it better. Like, after all, cows will never be able to fly. Cows would always be bound and slaughtered, that’s just how the world goes. But, mind you, I’m not saying that we should do something for them. No. We should do that for the sake of ourselves.

Ah. At the very least, please don’t be so indifferent like the farmer.

Cita-Citaku

“Tante Vivin cita-citanya pingin jadi apa?”

Itu bukan pertama kalinya Yuna, kelas 4 SD, bertanya soal cita-citaku. Kadang aku merasa pertanyaan macam ini sudah nggak cocok lagi untuk orang seumuranku. Oke, mungkin bukan nggak cocok. Semakin tua, pertanyaan ini menjadi semakin rumit untuk dijawab. Ketika SD mungkin pernyataan cita-cita hanyalah soal definisi identitas, individualitas. Sekarang cita-cita adalah soal tumpuk-tumpukan berbagai soal macam pertanggungjawaban, pengambilan keputusan, kesadaran diri, kekecewaan, persetujuan, kompromi, ‘takdir’… hmm apa lagi ya..

Aih. Begitulah. Cita-cita.

Malam itu, entah kesambet apa, aku lancar saja memberikan jawaban ini.

“Pingin jadi orang yang menyembuhkan luka hati orang lain.”

Pret. Mbelgedhes. Kata sebagian diriku di dalam…. :)

“Aah bukan gitu,” Yuna agak ragu menyalahkan. Mungkin dia menimbang apakah jawabanku masuk dalam kriteria cita-cita atau bukan. “Profesinya?”

Dan lisanku lancar menjawab, “Profesinya jadi pengangguran. Pengangguran profesional.” Jawaban yang sudah cukup sering asal kulontarkan pada teman-temanku. :))

Yuna jelas tampak tidak puas.

“Iya. Jadi orang yang pintar mengatur waktu sampai bisa punya waktu luang untuk nganggur. Terus nganggurnya dibuat untuk hal-hal bermanfaat. Kan ada tuh orang yang ngerasa sibuuuk terus setiap hari sampai nggak punya waktu luang. Padahal sebenarnya dia nggak ngapa-ngapain.”

Ha. Sebagian diriku sebenarnya agak ragu, ini bualan atau sungguhan.

“Jadi aku mau jadi pengangguran profesional. Bukan pengangguran amatiran.”

Gara-gara mengeluarkan istilah baru, Yuna menyambar dengan pertanyaan dan aku jadi kebingungan menjelaskan makna profesional, amatiran, serta perbedaan keduanya. Semoga nggak salah-salah amat.

Baik. Jadi… itulah sekelumit pengakuan tentang cita-citaku. Yah kalau Bu Septi Peni bisa mempopulerkan ibu profesional, maka aku akan mempopulerkan pengangguran profesional!!

 

 

 

 

 

..Halah.

Pohon Mangga yang Bermutasi dengan Ide-Ide Kita

untitled

Aku ingat pertama kali menggambar ‘ilustrasi’ di atas pada buku tulis, yang kemudian kusalin menggunakan aplikasi paint. File gambar itu ternyata tidak sirna bersama laptopku yang diterjang banjir. Gambar itu sudah aku simpan di atas awan Google Drive.

Gambar itu membantuku berpikir tentang sesuatu.

Aku membayangkan sebuah pohon yang seiring tumbuhnya terus bermutasi menjadi sesuatu yang bukan diri aslinya. Bayangkan saja ia bermula sebagai benih mangga. Entah karena kondisi tanah yang bagaimana, akar-akarnya tumbuh menjadi akar mangga dan akar jambu. Masih sama-sama tergolong akar tunggang, tapi tentu beda. Batangnya pun tumbuh mencabang menjadi seperti mangga dan jambu. Lebih aneh lagi ketika ranting-ranting kecil mulai tumbuh. Selain mangga dan jambu, muncul pula ranting durian dan apel. Daun-daunnya lebih beragam lagi: daun mangga, jambu, durian, apel, dan kini bahkan singkong serta pepaya. Bunganya menjelma warna-warni dari ontong sampai melati. Ragam buahnya pun mengalahkan pasar induk kramat jati. Ada buah kombinasi salak-sirsak, buah setengah duku setengah stroberi, bahkan campuran semangka-manggis-nangka.

Tapi, tetap, di antara semua mutasi itu masih ada garis pertumbuhan mangga yang sejati. Yang buahnya berupa mangga tulen, tidak sedikit pun menyelisihi mandat benihnya.

Nah sayangnya aku nggak jago menggambar. Akhirnya alih-alih pohon imajiner yang membingungkan itu, aku hanya menggores beberapa garis beserta tanda O dan X. Gambar itu berawal dari benih O yang terletak di atas, lalu bercabang menjadi O dan X.

Ketika itu aku sedang berpikir tentang bagaimana kita menilai sesuatu yang memiliki posisi sebagai buah, yakni hasil akhir dari garis panjang pertumbuhan selama sekian masa. Hasil akhir dari suatu benih yang terkubur.

Kita melihat buah mangga di antara bunga-bunga ontong dan merasa heran. Ini buah yang salah, harusnya nggak begini. Harusnya pisang. Padahal tidak. Mangga itu sudah benar. Ontong-nya lah yang merupakan kelainan.

Kita melihat buah kelapa di antara rimbunan janur dan blarak, lalu berpikir Oh, ini buah yang benar. Padahal tidak. Kelapa itu terlihat ‘benar’ karena kita hanya melihat sampai daun. Kita tidak merunut asal-usulnya dengan cukup jauh.

Bahkan ketika kita merunut hingga batang utama pohon dengan jeli, kita masih sangat mungkin salah. Nyatanya banyak orang kukuh menganggap bahwa ini pohon jambu.

Sementara itu segolongan besar orang lain.. Ah, ndak usah terlalu analitis la. Kita punya satu pohon dengan berjuta jenis buah. Petik dan makan saja mana yang kita suka. Kalau hari ini kepingin makan mangga ya petik mangga. Kalau besok kepingin makan rambutan, apa salahnya?

Memang sulit mengidentifikasi mana buah yang sejati benar. Benih itu sudah terkubur dan bertumbuh, tidak terlacak lagi. Dan lagi buah-buahan ini enak-enak semua kok.

…..

Apa kamu bisa memahaminya? Sejujurnya sampai sini aku merasa semakin bingung bagaimana cara menceritakan isi kepala. Mungkin harus diendapkan dulu untuk lain waktu dilanjutkan.

Terima kasih sudah bersabar membaca. :)

Di tempatku, hidup adalah anak baik yang main perosotan. Paling banter ayunan. Di tempatmu, hidup adalah bocah petualang yang berlari tanpa alas kaki. Tapaknya tertusuk paku karatan, dan ia selamat dari tetanus. ..hanya untuk kemudian lepas berlarian lagi. Kamu mengira ia mengidap ADHD akut.

Hidup di tempatku adalah perahu yang menyusuri sungai-sungai bening. Mereka melepasku di dermaga dengan lambai dan perbekalan. Sementara hidup di tempatmu adalah bus kota dengan penumpang yang naik dan turun. Di setiap pemberhentian kamu bertanya tidak sabar, “Kali ini siapa ya? Apa ya?”

Kamu berkali-kali berkenalan dan ditinggalkan. Melepaskan.

Jujur, aku tak tahu apa bagusnya membelah debu jalanan. Mungkin kalau lancang kutanya kamu akan katakan dengan gusar, “Itu pak supir yang kendalikan.” Seperti kamu pun rasanya tak ‘kan paham, apa serunya melihat pantulan wajah sendiri di permukaan air.

Tapi teknologi kan sudah canggih begini. Bisa lah sesekali kita berbincang. Aku di perahu, kamu di bus. Kirimkan foto titik hujan di jendelamu. Akan kurekam suara kecipak air di sela dayungku.

Aku tidak berharap sejauh itu, tapi mungkin kernyit di dahi kita bisa memudar, berubah angguk, dan sepenggal ujar,

“Ooh.”