Our Story?

All this time, I’d thought that our story was just that: our story. But it turns out you had your own story, and I had mine. Our stories might have overlapped for a while–long enough that they even looked like the same story. But they were different.  And that made me realize this: everyone’s story is different, all the time. No one is ever really together, even if it looks for a while like they are.

from The Thing About Jellyfish by Ali Benjamin

Nguping Ibu-Ibu: Yang Terhormat, Pak Suami..

Terjebak di antara obrolan ibu-ibu dan inilah yang aku dapatkan..

“Kalau saya, setiap kali cerita, tanggapan suami cuma Ohh, Iyaa, Sedih banget..”

“Me too… Hiks. Beliau ga yakin juga sih tentang kemampuan saya. :(“

“Sedih banget kan mba rasanya. Saya selalu berusaha mengerti kalau dia juga punya kesibukan dan tanggung jawab besar di kantor. Tapi seharusnya nggak menyerahkan perkembangan anak 100% ke istri kan ya? Inginnya saya sih gapapa lah weekdays anak full sama saya, dan weekend anak harusnya berkegiatan dengan ayah.. Tapi ngga pernah terlaksana.”

“Suami liburnya hari Minggu aja. Itu pun nggak mau diganggu anak-anaknya. Pusing banget. Akhirnya sepakat kalau Minggu itu waktu keluarga, renang sama anak-anaknya. Awalnya ngga mau, tapi lama-lama mau juga hihihi… Kasihan kan anak-anak juga pengen main sama ayahnya.”

“Iya mba, hari libur kebanyakan tidur dia.. huhu.. :'(
Renang juga sering mba, tapi anakku ngga mau kalo sama ayahnya aja. Anakku juga pasti temper tantrum kalo sama ayahnya.”

“Iya eh mba. Anakku ga pernah mau ditidurin ayahnya..”

“Gapapa, sabar. Pelan-pelan aja mba.”

“Iya. At least bisa diajak mengubah kebiasaan buruk dulu lah..
Tapi beberapa bulan terakhir aku ga terlalu banyak ngomongin anak, karena dia baru naik jabatan. Dari wajah terlihat banyak pikiran. Jadi aku ga berani juga ngajak diskusi tentang anak.”

Haum.. Menghela nafas…..

Kalau kamu, apa yang kamu rasakan saat membaca percakapan di atas?

Lupa, Fragmen 1: Ayah

Ngambil rapor itu gimana sih?

Sejak seminggu yang lalu aku sudah mencari referensi tentang ‘mekanisme mengambil rapor anak SMP’ ke berbagai sumber. Jawabannya pun cukup sederhana. Aku hanya perlu datang, mencari kelas anakku, mengisi daftar hadir, dan menunggu giliran sampai wali kelas memanggil.

Biasanya wali kelas akan mendiskusikan hal-hal tertentu tentang si anak, memberitahu apa yang sudah baik dan apa yang masih bisa diperbaiki. Dengan kata lain: basa basi. Aku tidak percaya wali kelas yang cuma bertatap muka (paling banyak) 3 jam dalam seminggu itu bisa mengingat kelakuan 30 anak di kelasnya.

Oke. Jadi sebenarnya cukup sederhana. Mengambil rapor tidak akan seribet mendaftar BPJS.

Tapi pagi ini pertanyaan itu kembali terulang di kepala. Mungkin aku agak deg-degan saja karena ini pengalaman pertama. Rapor-rapor Naya saat SD selalu diambil oleh ibunya. Kali ini, rapor pertama Naya di SMP, kondisi Ilma tidak memungkinkan untuk melakukannya.

Aku sudah sampai di sekolah Naya. SMP dengan lapangan alakadarnya yang dikelilingi oleh deretan kelas tiga lantai. Katanya sih ini SMP favorit. Kalau aku jadi siswa, aku tidak mungkin akan mem-favorit-i SMP yang lahan main bolanya cuma seuprit dan warna catnya norak begini.

Di rumah tadi Naya sudah memberi ancer-ancer. Kelasnya ada di lantai dua, paling dekat dengan tangga. Jadi aku langsung menuju ke sana dan menuliskan nama di daftar hadir. Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku paling belakang. Kelas sudah cukup ramai dengan ibu-ibu.


Rupanya nama siswa dipanggil berdasarkan urutan rata-rata nilai dari yang tertinggi. Setahuku sekolah jaman sekarang sudah tidak pakai ranking-ranking-an. Jadi ini pasti inisiatif mandiri dari wali kelas. Barangkali ia ingin menerapkan sedikit sistem reward and punishment… kepada orang tua murid.

Yah, cukup masuk akal sih. Orang tua dengan anak-anak pintar bisa pulang paling cepat. Mereka bisa berbangga sedikit ketika orang tua lain menyadari kehebatan anaknya. Di rumah ia akan ‘mengoper’ reward tersebut pada anaknya dalam bentuk puja-puji. Sementara itu orang tua dengan anak-anak mbeler yang terlalu lama menunggu giliran akan pulang dengan perasaan dongkol. Mereka kemudian ‘mengoper’ punishment pada anaknya dalam nada bicara ketus atau nasihat panjang.

Naya anak yang pintar. Aku duga ini ia peroleh dari faktor keturunan. Gen dari ayahnya ini memang, ahem, cukup berkualitas lah. Jadi aku pede saja akan dipanggil pada urutan-urutan awal. Mungkin bahkan yang pertama.

Hehe.

Tapi ternyata tidak. Sudah ada lima nama murid disebutkan. Naya bukan salah satunya.

Oke aku memang agak terlalu jumawa. Ini sekolah favorit, jadi murid-muridnya pasti.. ganas. Wajar kalau Naya tidak berada di urutan lima teratas.

Kemudian nama demi nama kembali disebutkan. Aku tidak menyimak secara pasti, tapi rasanya sudah ada belasan nama yang dipanggil. Aku mulai khawatir berada di kelas yang salah. Eh tapi tidak mungkin. Aku ingat tadi benar-benar melihat nama Naya di daftar murid kelas ini.

Kelas semakin sepi. Selain aku, tinggal tersisa tiga ibu-ibu lain. Dan satu per satu ibu-ibu itu dipanggil maju untuk menerima rapor anaknya. Ibu yang terakhir maju dengan alis mengkerut dan wajah takut-takut. Ketika ia akhirnya selesai mendengarkan ‘laporan’ dari wali kelas, ia menyempatkan menoleh ke arahku dan memberikan tatapan yang seolah berkata.. turut prihatin ya Pak.

Ini tidak benar. Pasti ada yang salah. Aku tahu Naya tidak sebodoh itu.

Sejenak wali kelas Naya merapikan mejanya. Sembari menepuk-nepuk tumpukan kertas, matanya menatap lurus ke arahku dari balik kacamata.

Setelah kuperhatikan lagi, guru Naya ini wajahnya jelek sekali. Lapisan bedak tebal dan lipstik merah tidak bisa menyembunyikan itu. Kulitnya keriput. Sudut-sudut matanya kendur. Rambutnya jelas-jelas hasil ‘pelurusan paksa’. Aku bisa melihat helaian rambut ikal yang memberontak di sekitar telinganya.

Aku curiga ia sebenarnya adalah seorang penyihir. Ia pasti sudah menjampi Naya sehingga kemampuan akademiknya merosot begini.

“Bapak Aziz, orang tua Sanaya?” keluar suara parau dari mulutnya.

Aku mengangguk dan berdiri. Kuperiksa pedang di pinggang kiriku untuk bersiap maju menghadapi penyihir jahat yang telah menyakiti putri kecilku.

Kenapa Ayah Bekerja?

Pertanyaan ini sering aku dengar keluar dari mulut anak-anak. Mungkin kamu juga sering dengar. Aku ingat dulu pun pernah menangisi kepergian orang tua yang bekerja sambil bertanya-tanya: kenapa? (Sebelum akhirnya aku terbiasa dan menikmati berada sendirian di rumah, haha.)

Orang-orang dewasa yang ditanyai begitu oleh anak-anak umumnya menjawab begini:
– Ayah kerja untuk kamu.
– Supaya bisa dapat uang.
– Supaya kamu bisa sekolah.
– Supaya bisa beliin kamu mainan.
– Supaya bisa beli susu untuk adek.
dan semacamnya. Ya kan?

Suatu hari, aku tidak sengaja mendengar percakapan ini dari pasangan ibu-anak. Ibu ini memberikan jawaban yang berbeda mengenai alasan suaminya bekerja.

Anak: “Abi mana, Mi?”
Ibu: “Abi kerja.”
Anak: “Kenapa kok kerja?”
Ibu: “Karena kerja itu ibadah. Wajib buat Abi. Kalau Abi nggak kerja nanti gimana dong ibadahnya?”

Widih.

Aku tidak tahu apakah anak sekecil itu dapat memahami konsep ‘ibadah’. Barangkali jawaban yang lebih konkret seperti mainan, peningkatan daya beli, dan daya jajan bisa lebih ditangkapnya. Tapi aku kagum dengan ikhtiar ibunya untuk menanamkan pola pikir ini sejak dini: alasan kita melakukan (segala) sesuatu adalah karena Allah. Kerjanya ayah ini bukan cuma untuk mendapatkan uang, tapi untuk menunaikan kewajiban sesuai yang diperintahkan oleh Allah.

Barangkali kita belum berada pada posisi ditanyai seperti itu oleh anak-anak kita. Tapi terkadang pertanyaan itu lewat juga di dalam hati sendiri. Kenapa aku bekerja? Agar bisa bayar kost? Agar bisa bayar asuransi kesehatan mama papa? Agar legit menjadi manusia dewasa?

Jangan berhenti sampai situ ya. Ayo kita cari makna sampai ke ujung muaranya.

Selamat bersiap untuk hari Senin!