Waktu Aku Kecil Aku Kira Aku Bodoh Sekali

(Lah emangnya aslinya pinter vin? ..)

Waktu itu aku kelas 1 SD. Aku terpilih mewakili sekolah untuk ikut lomba 3 M (Membaca, Menulis, Menghitung) di SD Santo Yusup. Lomba tingkat apa aku tidak tahu.

Aku ingat pada saat itu aku masih belum bisa makan buah jeruk ‘seperti orang dewasa’. Pada hari lomba aku ingat menyesap sari jeruk dan melepeh sisa jeruknya. Aku ingat aku merasa malu.

Lombanya sangat.. tidak seru, menurutku saat itu. Tidak seperti lomba 17 Agustusan yang semarak. Aku ingat di salah satu sesi lomba aku diminta membaca kata pada kartu dan menyentuh benda yang sesuai dengan kata tersebut. Waktu itu menurutku ini lomba remeh sekali, Gini doang siapa yang nggak bisa?

Lomba pun selesai. Baru beberapa hari kemudian aku mengetahui hasil lomba dari guru kelasku. Katanya aku ada di posisi harapan 2.

Wah aku langsung kecewa.

Dalam kepalaku saat itu, beginilah urutan ranking kejuaraan:
“Juara 1”
“Juara 2”
“Juara 3”
Seluruh peserta lain yang tidak ‘juara’
“Harapan 1”
“Harapan 2”

Jadi dalam kepalaku posisi harapan 2 adalah posisi paling buncit, di bawah peserta-peserta lain yang tidak mendapat gelar ‘juara’.

Yah, habis namanya ‘harapan’. Seperti sesuatu yang jauh dan tidak tergapai gitu kan.

Advertisements

Belajar Membaca: Awalnya

Kalau kamu sedang membaca post ini, berarti jelas kamu bisa membaca. Kemampuan satu ini–membaca–sudah sangat lama kita miliki sampai kita lupa rasanya tidak bisa membaca. We take it for granted. Ketika menghadapi orang yang tidak bisa membaca, kita tidak bisa membantu karena kita tidak paham bagaimana caranya membaca. Kita pikir pokoknya kalau sudah ngerti huruf ya bisa baca. Padahal membaca adalah kegiatan kompleks yang melibatkan banyak hal secara visual, auditori, dan kinestetik.

Awalnya

Setelah semester lalu menangani kelas 4, di Serambi Inspirasi semester ini aku ternyata kedapatan menangani kelas 1. Sebagai orang yang tidak terampil menghadapi anak kecil, aku sedikit khawatir ketika menerima pengumuman itu. Tapi, yowislah, aku pikir akan jadi medan latihan.

Ternyata bukan (hanya) tentang ‘sabar menghadapi anak kecil’. Menangani kelas 1 mendorongku untuk mencari tahu tentang hal-hal dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Alhamdulillah.

Kemudian suatu hari kakakku mengirim pesan singkat menanyakan apakah aku tahu metode mengajarkan anak membaca. Aku nggak pernah tahu ‘metode’, tapi aku jadi kepikiran untuk membagikan saja beberapa pelajaran yang kuambil dari browsing-browsing tentang mengajarkan membaca. Di samping itu aku jadi bisa punya catatan yang agak rapi untuk diintip kemudian hari. Semoga ada manfaatnya.

Setelah mengamati beberapa pelajaran membaca dalam konteks Bahasa Inggris, aku berkesimpulan Bahasa Indonesia ini termasuk bahasa yang gampang dibaca. Bunyi hurufnya secara umum konsisten. Tidak seperti Bahasa Inggris yang huruf-hurufnya bisa dibaca dengan cara berbeda: bunyi A pada ‘apple’ berbeda dengan A pada ‘water’. CH pada ‘school’ berbeda dengan CH ‘chair’. Bikin bingung kan. Nah, jadi tidak akan susah kok mengajarkan membaca dalam Bahasa Indonesia.

Membaca adalah kemampuan dasar yang akan menjadi pondasi untuk kemampuan-kemampuan lainnya. Aku ingin mengajak kamu bersama-sama belajar lebih dalam tentang membaca supaya bisa mendukung anggota keluarga atau orang-orang terdekat di komunitasmu menguasai kemampuan ini. Yuk yuk.

Disclaimer

Aku tidak punya latar belakang ilmu pendidikan/pedagogi. Konsentrasi ilmu psikologi yang kuambil selama kuliah adalah psikologi sosial dan psikologi perkembangan, keduanya tidak membicarakan tentang belajar membaca. Kebanyakan materi yang kupelajari diambil dari konteks Bahasa Inggris. Jadi tidak semuanya bisa diterapkan pada konteks belajar membaca dalam Bahasa Indonesia. Semua yang aku tuliskan adalah berdasarkan pemahamanku sendiri, bisa salah-salah. Aku akan menyertakan link sumber bacaan/tontonan supaya kamu juga bisa merumuskan pemahaman sendiri.

Mulai Belajar

Kita mulai saja ya.

Ini rangkuman beberapa menit awal video dari Logic of English berjudul Teaching Struggling Readers and Spellers. Lanjutannya akan kutuliskan di posting lain, insyaallah.


Beberapa Prinsip tentang Mengajarkan Membaca:

1. Jangan menghubungkan fonogram dengan gambar

(Fonogram adalah simbol yang merepresentasikan suara. Dalam Bahasa Inggris terdapat 74 fonogram.)

8b8c4ca641d2facb601441947e634f3b--spalding-phonograms-kids-reading

Untuk Bahasa Indonesia, hal ini tidak relevan sebab konsep fonogram sendiri sepertinya tidak digunakan (tolong dikoreksi). Dalam bahasa Inggris, menghubungkan huruf A dengan gambar apel bisa problematis karena fonogram ‘A’ bisa merepresentasikan 3 suara berbeda. Jika dihubungkan dengan gambar apel, anak bisa menyangka bahwa ‘A’ melambangkan satu jenis suara saja.

2. Mulailah dengan mengajarkan huruf kecil, baru huruf kapital

Sebab kebanyakan huruf yang kita temui dalam bacaan adalah huruf kecil. Gunakan huruf kapital hanya pada awal kalimat atau kata tertentu yang memang membutuhkannya.

3. Ajarkan bunyi huruf, bukan nama huruf

Mengetahui bahwa kata ‘baca’ terdiri dari huruf ‘be’, ‘a’, ‘ce’, ‘a’ tidak membantu kita untuk membaca ‘baca’. Ajarkan nama huruf kemudian, yakni saat mengajarkan huruf kapital.
Untuk memperjelas yang dimaksud dengan ‘bunyi huruf’ dan ‘nama huruf’, kita ambil contoh untuk huruf B, F, dan K. Masing-masing memiliki nama huruf ‘be’, ‘ef’, dan ‘ka’, sedangkan bunyi hurufnya /b/, /f/, dan /k/. Coba ucapkan masing-masing huruf tanpa diimbuhi huruf vokal sama sekali, itulah bunyi hurufnya.


Sumber:

Logic of English: Teaching Struggling Readers and Spellers

 

Day to Day Survival Guide: Strikethru System

Dalam ikhtiar mengorganisasi kehidupan, aku mulai mencari-cari tentang journaling. Salah satu pemantiknya adalah ketika aku membaca Where Good Ideas Come From oleh Steven Johnson. Di sana Steven banyak menulis tentang Charles Darwin yang rajin sekali menulis jurnal. Teori evolusi yang dicetuskan Darwin bermula sebagai slow hunch yang seiring waktu dan penambahan informasi baru akhirnya menjadi jalinan ide utuh. Jurnal bisa dibilang menjadi ‘ekosistem’ tempat ide-ide hidup dan berinteraksi, mungkin juga beranak pinak.


Bullet Journal

Daily Journal is my ‘liberal approach’ towards journaling. Tapi sebenarnya hal pertama yang aku temukan mengenai jurnal adalah Bullet JournalDalam situsnya, diterangkan bahwa “The Bullet Journal is a customizable and forgiving organization system. It can be your to-do list, sketchbook, notebook, and diary, but most likely, it will be all of the above. It will teach you to do more with less.” Sounds ok.

Sayangnya, aku merasa langsung tidak cocok dengan bullet journal begitu menemukan contoh jurnal para praktisinya. Lihatlah:

Bullet-Journal-111
sumber: https://www.bohoberry.com

Buatku ini adalah.. utopia.

Bahkan ketika para praktisi bilang mereka cuma asal ‘oret-oret’ aja hasilnya masih masyaallah aesthetic. Rasanya hampir-hampir mangkel, seperti mendengar orang jago masak yang ketika ditanya resep menjawab, “Ah ini gampang cuma pake bawang merah bawang putih doang.”

Aku tidak akan bisa ‘njurnal’ secantik itu. Atau, aku akan menghabiskan seumur hidup untuk berusaha menulis satu halaman. Atau, skenario lebih buruknya, aku akan berakhir frustrasi sendiri melihat jurnal awut-awutan dengan nilai estetika 0.

Weekly
sumber: http://bulletjournal.com

IS THIS EVEN A HANDWRITING?! IT’S A FONT!

Begitulah. Kuakui aku sudah ilfil duluan sebelum paham benar sistem jurnalnya seperti apa. Kalau kalian merasa ada chemistry, coba saja cari tahu lebih lanjut.


Strikethru System

Di sela video-video bullet journal fancy, aku menemukan video tentang Strikethru System dan langsung merasa cocok, karena…

Yak karena inilah ‘jurnal’ yang aku bayangkan. Lugas. Simpel. Jelas. Atau, seperti kata founder-nya, “No need for washi tape, glitter unicorns or fancy handwriting around here.” Heheh.

Pada dasarnya sebuah strikethru journal terdiri dari 4 bagian:

1. The Dump
Pada bagian ini kita bisa menuliskan segala macam ide-ide random. Bagian ini cenderung tidak tertata. Pada The Dump ini kita bisa melakukan brainstorming yang nantinya bisa saja menghasilkan to-do-list.

2. The Vault
Bagian ini seperti Bank Tugas, tempat tugas-tugas didaftar berdasarkan kategori. Misalnya daftar film yang mau ditonton (ha) atau daftar tugas-tugas kepanitiaan (ha). Di sini kita juga bisa ‘menyimpan’ tugas-tugas yang tidak berhasil selesai pada suatu hari, untuk kemudian dikerjakan lagi pada hari lain.

3. The Calendar
Di sini kita menuliskan tugas-tugas yang punya waktu spesifik, seperti pleno kepanitiaan (…) atau tanggal sidang skripsi (…).

4. The Live List
Live List menurutku adalah bagian utama dari strikethru journal. Di sini kita menuliskan tugas-tugas yang sedang ‘live’ atau harus dikerjakan ‘sekarang’. Live List ini disusun dalam daftar harian.

8b09e585eaa74216ac69b58373316aed_original
sumber: Kickstarter.com

How I Do My Strikethru

Sampai saat ini aku belum menggunakan The Calendar, dan tidak maksimal menggunakan The Dump. Simpelnya, beginilah caraku mengaplikasikan Strikethru System:

Di pagi hari (atau malam hari sebelumnya) aku menulis tugas-tugas yang ingin dilakukan hari itu pada The Live List. Lalu cek The Vault, kalau-kalau ada tugas yang sebelumnya sudah aku ‘simpan’. Kalau ada, dan kalau sekiranya bisa dikerjakan pada hari itu, aku mentransfer tugas tersebut ke The Live List.

Di setiap harinya, di dalam The Live List, dua baris teratas selalu kuisi dengan ‘habitual tasks’, yakni hal-hal yang ingin kujadikan kebiasaan setiap hari. Biasanya pada awal bulan (kalau sedang rajin) aku menetapkan beberapa habit untuk dilakukan. Bulan lalu, misalnya, daftarku mencakup mandi pagi, minum suplemen, olahraga ringan, dzikir pagi-petang, membaca, menulis, tilawah, dan shalat dhuha.

Tugas-tugas yang sudah selesai kemudian dicoret (hence the name ‘strikethru’). Kalau ada tugas yang tidak relevan lagi, aku mencoret dan membubuhkan tanda X di samping kanan. Kalau ada tugas di The Live List yang ingin disimpan dulu di The Vault, aku mencoret dan membubuhkan tanda > di samping kanan.

Tugas pada The Live List ini jangan sampai kebanyakan. Set jumlah maksimal menurut kesadaran diri masing-masing. Kalau dari Strikethru System sendiri seingatku menyarankan 9 tugas. Tugas yang terlalu banyak dan akhirnya terbengkalai justru akan menimbulkan learned-helplessness.

media-20170824

Untuk strikethru journal, aku menggunakan notes seukuran telapak tangan dengan halaman bergaris. Notes ini juga dilengkapi dengan pulpen yang disematkan di bagian ‘flap’. Sayangnya pulpennya sudah rusak..

media-201708243

Ini adalah contoh halaman ketika aku tergolong berprestasi. Tentu saja, ada hari-hari ketika aku tidak menyelesaikan sebagian besar tugas. Ada juga hari-hari ketika aku sangat malas sampai tidak menyentuh jurnal ini sama sekali…

Tidak apa-apa. At the end of the day, yang terpenting (bagiku) adalah self-compassion. Lagipula jurnal-jurnal ini hanyalah alat untuk menjaga kewarasan diri. Jangan sampai memaksakan alat malah membuat tujuan besarnya tidak tercapai.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Strikethru System, tengoklah halaman Kickstarter nya di sini.


Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya cara tertentu untuk mengorganisasi tugas sehari-hari? Punya strategi andalan untuk menyelesaikan tugas-tugas itu? Bagi-bagi ceritamu ya..

For me, and for many of us, our first waking thought of the day is “I didn’t get enough sleep.” The next one is “I don’t have enough time.” Whether true or not, that thought of not enough occurs to us automatically before we even think to question or examine it. We spend most of the hours and the days of our lives hearing, explaining, complaining, or worrying about what we don’t have enough of. …Before we even sit up in bed, before our feet touch the floor, we’re already inadequate, already behind, already losing, already lacking something. And by the time we go to bed at night, our minds are racing with a litany of what we didn’t get, or didn’t get done, that day. We go to sleep burdened by those thoughts and wake up to that reverie of lack. …This internal condition of scarcity, this mind-set of scarcity, lives at the very heart of our jealousies, our greed, our prejudice, and our arguments with life.

– Lynne Twist