Di tempatku, hidup adalah anak baik yang main perosotan. Paling banter ayunan. Di tempatmu, hidup adalah bocah petualang yang berlari tanpa alas kaki. Tapaknya tertusuk paku karatan, dan ia selamat dari tetanus. ..hanya untuk kemudian lepas berlarian lagi. Kamu mengira ia mengidap ADHD akut.

Hidup di tempatku adalah perahu yang menyusuri sungai-sungai bening. Mereka melepasku di dermaga dengan lambai dan perbekalan. Sementara hidup di tempatmu adalah bus kota dengan penumpang yang naik dan turun. Di setiap pemberhentian kamu bertanya tidak sabar, “Kali ini siapa ya? Apa ya?”

Kamu berkali-kali berkenalan dan ditinggalkan. Melepaskan.

Jujur, aku tak tahu apa bagusnya membelah debu jalanan. Mungkin kalau lancang kutanya kamu akan katakan dengan gusar, “Itu pak supir yang kendalikan.” Seperti kamu pun rasanya tak ‘kan paham, apa serunya melihat pantulan wajah sendiri di permukaan air.

Tapi teknologi kan sudah canggih begini. Bisa lah sesekali kita berbincang. Aku di perahu, kamu di bus. Kirimkan foto titik hujan di jendelamu. Akan kurekam suara kecipak air di sela dayungku.

Aku tidak berharap sejauh itu, tapi mungkin kernyit di dahi kita bisa memudar, berubah angguk, dan sepenggal ujar,

“Ooh.”

Menjadi Anak-Anak, Lagi oleh Riri Rustam

Sudah lama nggak benar-benar menulis di sini. Posting-posting terakhir isinya sekadar salinan dari tulisan lain. Lama-lama Out of Cave jadi majalah?

Dan kali ini pun akan begitu. Pagi ini aku menemukan tulisan dari seseorang yang namanya iseng ku-googling: Riri Rustam, senior-jauh di Fakultas Psikologi dan founder Eye to Eye yang verbatimnya bikin pegel tangan dan pusing kepala.

Tulisannya berjudul Menjadi Anak-Anak, Lagi.


“Gimana rasanya mau punya bayi lagi di umur 40?”. 

Masih nempel banget pertanyaan itu di kepala saya. Dari seorang teman, waktu saya sedang hamil Lila di bulan ketiga atau keempat. Waktu ditanya, saya bingung juga, apa ya rasanya. Ada senengnya, pasti. Ada bingungnya juga. Jarak Tara bayi dengan kelahiran Lila itu 7 tahun. Banyak yang saya sudah lupa, dan ingin lupakan…haha… Hayo udah deh jujur aja para ibu yang menjalani menyusui – edisi bangun malem kalau boleh maunya lewat secepat kilat kaaaannn..

Tapi mungkin a lingering question saat itu adalah: beda umur saya dengan Lila 40 tahun!. Empat puluh tahun. How will I cope with her growing up with me growing old?. Saya bukan orang yang takut menjadi tua. Tapi bagaimanapun juga, menjadi tua itu secara alamiah akan berarti penurunan fungsi tubuh dalam berbagai skalanya. Itu juga berarti akan ada hal-hal yang saya mau tidak mau harus kompromikan dengan badan saya. Sementara, Lila yang sedang bertumbuh pasti justru sedang butuh seseorang yang bisa aktif menemani dia.

Jadi pertanyaan itu menggelitik saya: how will I cope?.

Sekarang, 3 tahun 7 bulan kemudian, apa rasanya?.

Sekarang, kalau ditanya lagi, saya akan jawab dengan mantap, “It’s one hell of a ride, my elixir of youth, my energy for rejuvenating myself, a continuous reminder that we are here to keep on moving”. 

Benar bahwa punya anak itu adalah keberkahan dan rejeki. Tapi saya merasakan ada rejeki tambahan: punya 2 anak di tahap perkembangan yang sangat berbeda, itu menyenangkan.

Tara sudah 10, sebentar lagi 11, tahun. Sudah ‘tiga perempat’ pre-teen. Dia sudah kurang lebih melihat dunia dengan cara yang mirip dengan kita, orang dewasa. Kalaupun ada yang tidak dia pahami, dia sudah bisa mencari informasi sendiri dan berinisiatif mengajak kami diskusi, kami tinggal mengarahkan dan menjaga koridor dimana dia mencari informasi. Tara sudah bisa menentukan sendiri pilihannya. Sudah bisa bilang, “Aku mau di rumah aja, nggak mau ikut ayah bunda”, dan konsisten pada pilihan-pilihannya.

Dengan Tara, saya betul-betul jadi ‘orang dewasa’. Saya harus bisa menunjukkan pada dia bahwa ada tanggung jawab yang harus dia pikul kelak sebagai manusia, dan sebagai anggota masyarakat. Saya harus pelan-pelan mulai sekarang mempersiapkan dia menghadapi kehidupan kelak. Misalnya saja, pertengkaran kami yang paling sering adalah soal uang. Saya sering sekali minta dia untuk berpikir ulang saat minta sesuatu dan dia sering menantang saya untuk menjelaskan, “Kenapa?”. Dan saat Tara bertanya, “Kenapa?”, saya selalu tahu itu artinya kami harus duduk bersama dengan wajah serius.

Dan sesuai dengan tahap perkembangannya, Tara sudah lebih banyak bertanya tentang kehidupan, kadang juga, kematian.

Jujur walaupun saya menikmati itu juga, ada saat-saat dimana saya kangen jadi anak kecil lagi bersama dia. Tapi hasilnya sekarang, walaupun dia mengatakannya dengan suara sayang, dia sering sekali bilang, “Bunda nih konyol”. Saya menyukainya. Tapi saya juga harus bisa menjaga supaya suara sayangnya itu tidak lalu berubah menjadi suara kesal, nanti saat dia pre-teen (OMG…how time flies).

Sementara itu Lila – dengan pertanyaan-pertanyaannya tentang segala rupa di sekeliling dia, yang dia lontarkan secara sembarangan dan jujur. Dia sedang membentuk pemahamannya tentang dunia, tentang orang-orang di sekitarnya, bahkan tentang kami orang tuanya. Dia sedang belajar tentang banyak hal.

Dia mencintai air persis seperti saya, tapi belum bisa berenang. Dia sangat sayang pada si kakak, tapi belum bisa menahan diri untuk tidak merebut barang kakak. Dia menyayangi Omanya, tapi kejujuran kanak-kanaknya masih saja membuat dia terdengar usil saat dia bilang, “Oma baunya oma-oma jadi aku nggak mau cium”.

Nah. Dengan Lila-lah saya menemukan ‘anak kecil’ di dalam diri saya sendiri. Anak kecil yang sedang belajar dan menganggap semua hal adalah baru dan menarik.

Saat saya malas menjadi orang dewasa, bersama Lila saya jadi punya alasan untuk jadi anak kecil lagi. Untuk main pasir lagi, untuk jerit-jerit saat diterpa ombak, untuk lari-lari mengejar burung, untuk terpesona lihat ulat bulu sambil jerit-jerit saat ulat itu bergerak, untuk tiduran telentang di atas rumput sambil berkhayal awan-awan itu adalah monster yang sedang kejar-kejaran dan kami cekikikan sampai sakit perut.

Bersama Lila saya menemukan kenapa, pada akhirnya, umur tidak perlu jadi alasan untuk saya menjadi khawatir. Oh yes of course saya sering berkata pada diri sendiri, “Gue nggak mau sakit-sakitan saat Tara dan Lila harus menikmati keindahan masa muda mereka di usia 20an dan gue udah umur 60an”. Itu  kekhawatiran saya yang ada kaitannya dengan menjadi tua dan segala yang berkaitan dengan penurunan fungsi fisik. But then, dengan dia, saya merasa sehat!.

So to me, Lila is definitely my elixir of youth. Dia membuat saya bisa merasakan, LITERALLY, that life DOES BEGIN AT 40!.

Saya tidak pernah khawatir dengan pertambahan umur, dan uban, dan kerut. Saat saya ulang tahun ke-40 (yang sudah 4 tahun lalu…haha…what a wonderful life…), saya tahu bahwa ini adalah usia dimana saya punya legitimasi untuk tidak lagi menerima any non-sense nor bullshit dari siapapun. Dengan kehadiran Lila, saya merasa saya punya legitimasi tambahan, untuk berkata pada dunia, “Hey, look, 40 is the new childhood!”


Ketika membaca ini aku teringat pernah bertanya pada Didi, “Umur 40 hamil memungkinkan gak Di?” yang kemudian dijawab, “Mungkin banget. Kenapa? Kamu hamil di usia 60 lho bisa, biidznillah.”

:”)

Nah, adakah tabel warna-warni ini sempat mampir di chat window-mu? :)))

34546597721-tabel-nikah

Ceritanya aku kepikiran untuk punya anak banyak (hah) dan sampai saat ini proses produksi pertama aja belum dimulai (…). Kalau aku sungguh ingin mengusahakan memiliki anak banyak tentunya proses produksi itu akan memakan waktu panjang. (Sepuluh, dua puluh tahun? Whoa..) Jadi kekhawatiran soal usia tua dan penurunan fungsi fisik serta ekonomi juga mampir di kepalaku.

Iya iya, aku tahu aku nggak begitu terampil ‘megang’ anak-anak. Gapapa kan nanti kan ada bapaknya atau nenek-kakeknya atau baby sitter. Oknum Z pernah bilang aku berpotensi membunuh anak (aku harap dia bercanda ya). Tapi aku bisa bilang bahwa aku bukannya nggak suka anak-anak. Aku suka kok… hanya saja dari jarak jauh. .__. Perhatikan saja, dalam blog ini pun aku cukup banyak menulis tentang anak-anak. Ya kan? Kan?!!

Aku senang membaca tulisan Mbak Riri di atas. Terasa menenangkan. Ia menceritakannya dengan baik. Walaupun ia tidak menuliskan sama sekali perihal urusan finansial, yang aku ambil secara garis besar adalah ini:

Setiap jalan kehidupan punya petualangannya masing-masing. Mungkin tidak selancar yang kita rencanakan, tapi it will be fine, it will be fun! Biidznillah. :)

Semoga jarak umur dua puluh sekian, tiga puluh sekian, empat puluh sekian, atau berapapun tidak akan membuatku terlalu tua untuk kembali ‘menjadi anak-anak’ lagi bersama.. mereka nantinya.

Ah. Iya kalo ada. (……..)

 

A rational nation ruled by science would be a terrible idea

Neil deGrasse Tyson imagines a country called Rationalia, a society where policy is based on the weight of evidence. That’s a bad idea, says Jeffrey Guhin

Imagine a future society in which everything is perfectly logical. What could go wrong?

“Scientism” is the belief that all we need to solve the world’s problems is – you guessed it – science. People sometimes use the phrase “rational thinking”, but it amounts to the same thing. If only people would drop religion and all their other prejudices, we could use logic to fix everything.

Last week, US astrophysicist Neil deGrasse Tyson offered up the perfect example of scientism when he proposed the country of Rationalia, in which “all policy shall be based on the weight of evidence”.

Tyson is a very smart man, but this is not a smart idea. It is even, we might say, unreasonable and without sufficient evidence. Of course, imagining a society in which everyone behaves logically sounds appealing. But employing logic to consider the concept reveals that there could be no such thing.

There has always been a hope, especially as elites became less religious, that science would do more than simply provide a means for learning about the world around us. Science should also teach us how to live, pointing us towards the salvation that religion once promised. You can see this in any of the secular utopianisms of the 20th century, whether it’s the Third Reich, scientific Marxism, or the “modernisation thesis” of Western capitalism.

Yet each of these has since been summarily dismissed, and usually for the same two reasons.

Flawed science

First, experts usually don’t know nearly as much as they think they do. They often get it wrong, thanks to their inherently irrational brains that – through overconfidence, bubbles of like-minded thinkers, or just wanting to believe their vision of the world can be true – mislead us and misinterpret information.

Rationality is subjective. All humans experience such biases; the real problem is when we forget that scientists and experts are human too, and approach evidence and reasoned deliberation with the same prior commitments and unspoken assumptions as anyone else. Scientists: they’re just like us.

And second, science has no business telling people how to live. It’s striking how easily we forget the evil that following “science” can do. So many times throughout history, humans have thought they were behaving in logical and rational ways, only to realise that such acts have yielded morally heinous policies that were only enacted because reasonable people were swayed by “evidence”.

Phrenology – the determination of someone’s character through the shape and size of their cranium – was cutting-edge science. (Unsurprisingly, the upper class had great head ratios.) Eugenics was science, as was social Darwinism and the worst justifications of the Soviet and Nazi regimes.

Scientific racism was data-driven too, and incredibly well-respected. Scientists in the 19th century felt quite justified in claiming that “the weight of evidence” supported African slavery, white supremacy and the concerted effort to limit the reproduction of the “lesser” races.

It wasn’t so long ago that psychiatrists considered homosexuality unhealthy and abhorrent. There is at least one prominent, eminently rational psychiatrist who hasn’t come around on transgenders. And many scientists decided that women were biologically incapable of the same kind of rationality you find in men, a scientific sexism reborn in contemporary evolutionary psychology.

Positive vibes

And yet, despite its abysmal track record, people continue to have extremely positive opinions of “science.” As a sociologist, I do a lot of fieldwork with creationist evangelicals, and I’m struck by how rarely any of them dislike “science” as such; they don’t like certain scientists, and they especially don’t like evolution, but “science” is always just fine.

And for those who more strongly identify with the idea of rational thinking, their commitment is immutable. Just ask the 25 million people who “fucking love science”.

Part of the problem here is that nobody really knows what science means. Most people define it as the exploration of the world we live in, which is a fair if simplistic description (and not much on which to base a nation). The academic definition is frequently debated, without any really clear headway. (It’s hard even to figure out how to define physics, chemistry and biology.)

What is rational?

Philosopher Susan Haack has argued that science is, at its most basic, just thinking rationally. This is as good a definition as any, even if it leads to another problem: what do we mean by the word rational?

My work with creationists shows how impossible it is for humans to behave rationally. We are always informed by our biases. For example, a careful analysis of creationists’ scientific knowledge shows that they know as much science as anyone else. It’s just that they deny scientific claims.

In my fieldwork at one creationist evangelical high school, I found students perfectly capable of correctly answering every question about evolution in a biology exam. They simply used phrases such as “scientists believe” in their answers so as not to betray their creationist bona fides. This is actually an extremely rational way for them to handle the discrepancy between their faith and mainstream science.

In fact, creationism has a lot more in common with scientism than people such as Tyson or Richard Dawkins would ever admit. Like Tyson, creationists begin with certain prior commitments (“evolution cannot be true”, for example, substitutes for “science cannot be wrong”) and build an impressively consistent argument upon them. Just about everyone is guilty of some form of “motivated reasoning”: we begin with certain priors, and then find a way to get the evidence to do what we want.

The past mistakes of science should make us sceptical that it could be used to build a utopia. But, the scientists might say, science is most important for its ability to self-correct. Psychiatry has come around on homosexuality, for example. This may be true, yet it presents the precise reason why attempting to act only accounting for the “weight of evidence” is so flawed.

The elusive truth

Science may give us data, but it doesn’t mean that data points to truth – it’s just what we currently understand as truth. So how we act on the data requires nuance and judgement. It’s philosophical, maybe religious, and certainly political.

Scientists can’t tell us if it’s right to kill a baby with a developmental disability, despite how well they might marshal evidence about the baby’s life prospects or her capacity to think or move on her own. There’s no easy answer on how we ought to weigh those things up, just like there’s no easy way to decide whether tradition is superior to efficiency or monogamy is better than lots of random sex.

Scientism refuses to see this. The myopia of scientism, its naive utopianism and simplistic faith, bears an uncanny resemblance to the religious dogmatisms that people such as Tyson and Dawkins denounce.

Back in February, some of my sociologist friends retweeted another Tyson quip: “In science, when human behavior enters the equation, things go nonlinear. That’s why Physics is easy and Sociology is hard.”

We sociologists appreciated the recognition, even if some of us resented needing a famous astrophysicist as our hype man. Yet it’s simply galling that a person who can recognise the difficulties of studying social life somehow doesn’t connect those same challenges to their philosophical and political implications. If simply studying sociology is complex, governing society with it is anything but simple.

Science is not straightforward – as Tyson himself admits. Our interpretation of it simply requires insights and wisdom well beyond what science can provide. To claim otherwise is simply irrational.

Source: A rational nation ruled by science would be a terrible idea

Dirindui

“Sabiq kangen, mau telepon.”

Pesan itu muncul beberapa detik sebelum ponselku berdering, menandakan panggilan masuk dari nomor kakakku. Ketika kuangkat, terdengar suara anak kecil berhalo-halo beberapa kali dari seberang.

“Aku kangen. Aku kangen. Aku kangen,” kata Sabiq berulang-ulang.

Aku, seperti gadis remaja yang peragu dan selalu butuh kepastian, bertanya, “Kangen siapa?”

“Kangen tante vivin,” jawabnya lugas.

Lalu aku, kembali seperti gadis remaja yang peragu dan selalu butuh diyakinkan, bertanya lagi, “Kenapa kok kangen?”

Alah vin. Aku segera mendapat hinaan dari diriku sendiri: pertanyaan bodoh, vin. Dalam kepalaku terkilas satu episode One Piece yang kutonton beberapa hari lalu. Ada kata-kata Sengoku yang terasa begitu relevan bagi orang seperti aku:

“Don’t try to find a reason for someone’s love!”

Tapi kalau boleh, aku ingin mengedit sedikit kata-kata Sengoku sebagaimana yang diterjemahkan oleh http://watchop.io itu. Ketimbang love, lebih meyakinkan kalau kita operasionalkan saja menjadi good deeds. Kata abstrak semacam love hanya akan membuat curigaku bertamasya ke mana-mana.

Ketika orang berlaku baik, tidak perlu buang-buang energi dengan merangkai-rangkai rasionalisasi tentang mengapa ia berbuat baik. Cukup katakan terima kasih. Alasannya bukan urusanmu. Tidak ada gunanya merasa bahwa kamu hanyalah batu loncatan baginya untuk meraih surga. Pun kalaupun perlakuannya adalah bagian dari konspirasi jahat. Bukan urusanmu.

Apalagi ketika keponakanmu menyatakan sayangnya, rindunya, dan bertanya kapan kamu akan pulang. Tidak perlu buang-buang energi dengan mempertanyakan apakah anak sekecil itu memiliki kapabilitas untuk merasakan ‘sayang’ dan ‘rindu’ yang sesungguhnya. Resapi saja rasanya. Izinkan emosi itu memengaruhimu.

Sayangnya, pelajaran sederhana ini baru sampai ke teras pengetahuanku saja. Aku belum mampu menghayati, menghidupinya. Kepalaku masih terlalu besar. Terlalu menyukai jalan-jalan nirfaedah yang melelahkan.

Maaf ya, Sabiq. Terima kasih.