Strategi Marketing/Curhat?

Ada dua cerita. Yang pertama melibatkan seorang bapak yang menjual kain jilbab dan yang kedua melibatkan seorang adik yang menjual koran.

 

1

Setelah beberapa lama duduk di halte bis, aku memutuskan untuk beranjak. Saat berdiri, kudengar suara samar-samar seperti memanggil. Aku menoleh. Seorang bapak yang membawa sebuah kantong plastik hitam besar tengah menatapku.

“Beli jilbab dek?”

Dahiku mengerut. Sebelumnya aku nggak pernah menemukan orang yang menjual barang selain koran dan makanan di lingkungan ini. Karena cuma memiliki kain jilbab dalam jumlah yang minim, aku jadi tertarik melihat dagangan bapak itu.

“Beli dek. Dari tadi keliling-keliling, capek, belum ada yang laku,” kira-kira begitulah ucapannya saat itu.

“Biasanya juga jualan di sekitar sini Pak?” tanyaku sambil melihat-lihat kain-kain yang.. err.. ternyata pinggirannya sudah ‘dipercantik’ dengan payet. Padahal aku pingin beli yang polosan saja.

“Nggak, hari ini saja kebetulan,” jawabnya. “Ini kalo nggak puasa udah minum saya. Capek dari tadi keliling.”

Menurut pandanganku saat itu, mimik wajahnya terlihat disedih-sedihkan.

Di plastik kain-kain itu tertempel label dengan angka 35000. Wew, mahalnya. Maka setelah proses tawar-menawar yang singkat, aku membeli satu kain berwarna kelabu dengan harga dua puluh ribu rupiah.

 

2

Selesai kegiatan orientasi belajar di gedung Fakultas Psikologi, aku berjalan menuju ke masjid. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menghentikan langkahku.

“Kak, korannya Kak,” katanya sambil menyodorkan setumpuk Kompas.

Aku kaget dan kikuk. Well.. selalu seperti itu rasanya kalau didekati anak kecil. Basa-basi saja aku tanya, “Adanya cuma Kompas? Nggak ada MI?”

“Nggak ada Kak.”

Oh yaya.. err.. “Berapa?”

“Dua ribu Kak.”

Aku sedang mengeluarkan lima ribu rupiah dari dompet, dia lantas bercerita,  “Buat beliin adik saya baju lebaran Kak.”

Wah, aku jadi tambah kikuk. Kalau aku menghadapi seorang teman yang bercerita seperti itu, mungkin aku akan menanggapi dengan bercanda seperti ini: “Haha, sapa yang nanya?” Tapi nggak mungkinlah aku bilang begitu ke adik ini. Maka, setengah basa-basi setengah ingin tahu, aku bertanya, “Adiknya cewek apa cowok?”

“Cewek Kak.”

Aku senang dengan jawaban itu. Rasanya selalu keren membayangkan seorang kakak laki-laki yang sayang dan perhatian sama adik perempuannya. Tiba-tiba adik ini terlihat agak bersinar, seperti superhero.

Transaksi berlangsung. Aku menerima tiga lembar seribu dan sebuah Kompas darinya, lalu melanjutkan berjalan.

 

Jadi apa yang menghubungkan kedua cerita tadi?

Begitu kedua transaksi selesai, pertanyaan ini muncul: kenapa ya dia cerita seperti itu?

Apakah itu tadi strategi marketing? (wah licik sekali pikiranku)

Atau apakah mereka sebenarnya memang sedang butuh untuk bercerita?

Setelah berpikir beberapa saat, aku rasa jauh lebih menyenangkan kalau kemungkinan kedualah yang benar. Maka aku memilih untuk memercayainya. Apakah ceritanya benar atau bohong bukan urusanku kok.

Cara pikir inilah yang sedang berusaha aku biasakan setiap kali menolong orang. Karena sering kali yang menghentikan kita untuk mengulurkan tangan bukannya halangan dari luar, tapi keraguan dalam diri sendiri.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Strategi Marketing/Curhat?”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s