Balik Kucing

Setelah selama 26 hari merayap-rayap di tanah asing, akhirnya pada tanggal 27 Agustus kemarin aku balik kucing ke gua.

Rasanya?

Hmmh.. agak sulit untuk digambarkan :/ Di luar dugaan, rasanya nggak lega, senang, dan santai. Malah agak terasa asing dan dingin.

Saat menapakkan kaki keluar gerbong, udara sejuk pagi hari menyambutku. Berjalan bersama teman-teman ASUI terasa aman. Tapi saat kami keluar stasiun, bertemu keluarga masing-masing, dan berpisah, rasanya mulai agak menakutkan.

Kenapa? Errh.. entahlah.

Melihat jalanan yang dulu akrab aku lewati melalui jendela taksi terasa.. agak aneh. Rasanya sedikit ingin menangis nggak tau kenapa. Surabaya pagi itu cukup lengang, seharusnya terasa damai ya. Tapi duduk di kursi penumpang bersama Papa malah terasa agak menegangkan.

Aku meraih handphone, mengirim beberapa pesan singkat pada beberapa teman yang sekiranya (aku harap) bisa membantu mengembalikan perasaan homey. Tapi nggak berhasil eh.

Begitu sampai di rumah dan membuka pintu kamar, rasanya kaget banget. RAPI! –‘ argh. Justru hal ini membuat kamarku terasa asing dan.. kayak bukan milikku. Aku tau deh yang merapikan punya niat mulia sekali. Tapi ya.. –‘ ya begitulah yang aku rasakan. Tiba-tiba aku jadi beneran menangis di dalam kamar. Cuma sedikit kok tapi.

Lalu kengangguran terasa sangat menyayat. Mengontak seorang teman, aku (sedikit) memaksa untuk bertemu. Alhamdulillah dia mengabulkan. Setidaknya bersama orang yang cukup kukenal ini aku (untuk sementara) terbebas dari kekosongan (agaknya dia nggak sadar bahwa telah membantuku sebanyak itu).

Nah anehnya, berada bersama keluarga malah memperparah rasa nggak nyaman itu. Sekarang, beberapa hari setelah aksi balik kucing, yang aku rasa aku inginkan adalah mendekam sendirian di kamar atau sekalian keluar bersama teman.

Ini agak menakutkan deh –‘ sepertinya aku sudah kehilangan kandang. Baik di gua maupun di tanah asing, perasaan nyaman dan utuh nggak bisa mengisi hatiku lagi. Sama sekali nggak nyangka rasanya akan seperti ini.

Ada yang punya saran atau komentar? Butuh sekali nih, tolong ya..

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

12 thoughts on “Balik Kucing”

      1. kalo ntar aku nyusul trus ikut2an kehilangan kandang gimana? untuk sementara ini, aku nemenin kamu di dalem goa dulu aja deh. call me anytime.
        btw, jangan2 kamu pingin bukumu ndang di balikin biar aku main ke rumahmu ya? biar kamu ada temennya ya? kamu kangen sama aku ya? kamu naksir aku ya? x_x

        Like

      2. lha ngapain kamu di gua, aku loh sekarang udah berpetualang lagi –‘ kamu ngendok terus gitu, nakalan.
        :) rif.. walaupun toh misalnya aku naksir kamu, itu sudah dengan kesadaran bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan kok :,) aku dukung kamu dengan yang itu :))))

        Like

  1. awal-awal aku ngekos dulu juga gitu mbak, tapi lama kelamaan biasa kok. Akhirnya aku malah merasa rumah dan sekolah itu dua dunia yang beda, yang gak ada hubungannya sama sekali. Tapi mungkin kasus kita beda ya?

    Di jalanin dulu aja mbak… Mungkin karena masih adaptasi suasana *sotoy

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s