Lion or Hippo

Singa atau kudanil, mana yang lebih keren?

Kalau kamu menanyakan pada anak kecil, terutama anak laki-laki, biasanya mereka akan menjawab singa. Kenapa? Ya karena singa itu kuat dan gagah, raja hutan! Mungkin juga karena film yang dibuat Disney adanya Lion King. Kalo Hippo King nggak ada tuh :))

Kenapa bahas hewan-hewan begini?

Haha, nggak papa. Hari ini aku tiba-tiba teringat dengan sebuah cerita dalam Gash Bell, manga karya Makoto Raiku.

(Nah sampai bagian sini aku jadi bingung. Aku ingin menuliskan sepotong cerita dalam manganya.. tapi mungkin akan susah dipahami kalau yang baca nggak pernah mengenal jalan ceritanya Gash Bell.

Ah sudahlah, aku lanjut saja ya. Kalau ada bagian yang nggak mudeng, coba browse deh. Atau tinggalkan pertanyaan melalui komentar. Atau abaikan saja post ini – -”)

Cerita ini dimulai.. kalau nggak salah setelah Faudo Arc, setelah Kyanchome mendapatkan jurus ilusi yang baru di bukunya. Dengan kekuatan baru ini, Kyanchome mendapatkan rasa percaya diri yang baru. Ia tidak lagi takut menghadapi musuh.

Pagi itu Folgore, partner pemegang buku Kyanchome, bersiap keluar rumah untuk mengerjakan suatu urusan. Kyanchome sibuk menyiapkan tanah liatnya. Dia mau membuat figur singa yang gagah menggunakan bahan itu. Dia jadi sedikit cemberut saat tau Folgore tidak akan bisa menemaninya bermain hari ini.

“Apa yang mau kamu buat dengan tanah liat itu?” tanya Folgore.

“Aku mau membuat singa yang keren!” Kyanchome menjawab, bersemangat.

Termenung sedikit, Folgore bertanya lagi. “Kamu suka sekali dengan singa? Kenapa?”

“Lho, sudah jelas kan. Singa itu kuat, gagah, dan keren! Dia raja hutan! Aku juga ingin kuat seperti dia. Memangnya Folgore tidak suka singa?”

“Haha, kalau aku sih lebih suka kudanil.”

Alis Kyanchome langsung berkerut mendengarnya. “Hah? Kudanil? Kudanil kan gendut dan lambat, sama sekali tidak keren.”

“Wah, benarkah?” Folgore tersenyum. “Tapi aku benar-benar suka kudanil. Yasudah ya, aku harus pergi.”

Kyanchome memperhatikan dengan heran saat partner pemegang bukunya itu keluar dari rumah. “Aneh sekali Folgore itu. Singa dengan kudanil, sudah pasti lebih keren singa kan?”

Akhirnya karena agak kesepian, Kyanchome berniat mencari teman bermain. Tidak disangka hari itu ia bertemu dengan Papiprio dan pemegang bukunya, Ruppa. Mereka pun menghabiskan waktu bersama; bermain, makan es krim, dan membuat tanah liat. Dalam waktu singkat keduanya telah menjadi teman baik.

Namun di sore hari serangan tak terduga datang dari seorang mamodo. Serangan ini sampai mengakibatkan terbakarnya buku Papiprio. Kyanchome sangat marah mengetahui sahabat barunya akan segera menghilang. Dengan segenap kekuatan dan amarah, ia menggunakan teknik yang baru dikuasainya untuk melawan mamodo itu. Bahkan saat Kyanchome sudah jelas mendapatkan kemenangan, ia tidak berhenti menyiksa si mamodo dengan teknik ilusinya.

Folgore datang dan mencoba menghentikannya, tapi Kyanchome menolak karena ia tidak mau menjadi lemah seperti sebelumnya. Kyanchome ingin membuktikan bahwa sekarang ia memiliki kekuatan.. seperti singa!

Lalu Folgore bercerita pada Kyanchome. Dulunya dia sendiri adalah seorang singa: pemuda yang kuat dan gagah. Dengan kekuatannya itu Folgore melawan siapapun yang menghalangi tujuannya. Orang-orang di sekelilingnya pun jadi takut dan membenci Folgore. Bahkan orang tua Folgore sendiri mengusirnya dari rumah.

Saat sedang berjalan meninggalkan rumah dengan putus asa, Folgore melihat acara fauna di televisi yang ada di jalanan. Di situ ditayangkan seekor kudanil dengan banyak burung-burung kecil hinggap di giginya. Seekor makhluk yang kuat tapi tetap dapat hidup damai bersama makhluk-makhluk kecil. Ilustrasi ini menginspirasi Folgore. Sejak itu ia pun bertekad untuk berubah menjadi seperti kudanil.

“Seekor kudanil itu kuat! Saat sedang melindungi anak-anaknya, dia menjadi lebih kuat lagi. Bahkan dia bisa mengalahkan seekor singa!” Dengan ucapan Folgore itu akhirnya Kyanchome tersadar dan berhenti menyiksa mamodo musuhnya.

Bagiku pembahasan tentang singa-kudanil ini adalah yang paling mencerahkan dari keseluruhan cerita dalam Gash Bell (buktinya ini yang paling kuingat). Setelah browsing aku pun mendapatkan info menarik tentang kudanil. Ternyata makhluk ini cukup friendly dan tenang. Coba deh cek di sini.

hippo-kun
mangaaaaaaaaaaaaaaaap

Sekarang rasanya aku jadi beneran kagum sama hippo :D

Begitulah. Menjadi orang kuat itu bukanlah segalanya. Lebih utama kalau kita bisa menjadi seseorang yang kekuatannya selalu bermanfaat untuk sekitar kita, bukannya malah merugikan atau menakuti.

Selamat menjadi hippo! :))

 

Oh iya, mengenai cerita di Gash Bell-nya, itu hanya mengandalkan ingatan. Terakhir baca Gash sudah beberapa tahun lalu. Jadi kalau ada yang melenceng mohon dimaafkan atau dikoreksi ya :]

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Lion or Hippo”

  1. nice post!

    wah kebetulan saya baru baca ulang komik gash bell dari awal beberapa hari lalu :v koreksi dikit: yang bakar bukunya papipurio itu clear note, bukan si mamodo yg dilawan kyancome (goomu)

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s