Jalan Santai atau Bergulung-gulung?

Jujur aku sedang bingung menentukan pilihan. Yah mungkin bukan fenomena yang spesial, karena aku memang tidak ahli dalam memilih. Tapi kali ini tentang sesuatu yang besar..

Di depanku adalah jalan kehidupan. Dan sekarang aku harus menentukan, ingin melewatinya dengan jalan santai atau bergulung-gulung bersama pusaran..

Aku pun sudah pernah mencoba kedua cara itu.

Di SMP aku menjalani hidup yang cukup santai. Biasanya setiap pulang sekolah aku langsung masuk ke kamar, menyalakan komputer, dan menghabiskan waktu di hadapannya sampai ngantuk. Setelah itu ya tidur. Apa saja yang aku lakukan? Kebanyakan adalah hal kurang penting: main warcraft, main PS, main RuneScape, buka Friendster, baca manga, dan googling hal-hal trivial.

Tapi di sela-sela itu aku bisa dibilang ‘produktif’ juga lho. Aku membaca, aku menulis, aku mulai menggambar dengan krayon, dan aku memasak (baking, to be precise). Sebuah resensiku dimuat di koran. Aku belajar menggunakan HTML dan CSS sendiri sebelum kelas komputer membahasnya. Kepalaku penuh ide dan aku selalu bisa langsung menuliskannya. Aku menggunakan waktuku untuk melakukan hal-hal yang aku suka.

Coba bandingkan dengan kehidupan SMA. Tiga tahun lalu memang aku masih cukup santai. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang kira-kira dua tahun lalu, ketika aku ‘menjebakkan’ diri ke dalam ‘pusaran’. Aku hanya punya sedikit waktu untuk membaca. Di waktu senggang, yang mencuat di kepala adalah ide-ide abstrak tentang cara mengendalikan manusia mengorganisasi hal-hal. Itu bukan keahlianku. Rasanya jadi ruwet dan memusingkan. Aku terpaksa memilih untuk berhenti belajar Bahasa Prancis karena tidak punya cukup waktu untuk berkonsentrasi di sana. Aku hanya sempat membaca beberapa buku di perpustakaan padahal banyak sekali yang ingin aku selami isinya. Apalagi dalam hal menulis, aku semakin jarang melakukannya.

Tapi di sisi lain aku terlibat dalam banyak hal baru. Aku bertemu dengan orang-orang hebat dengan isi kepala yang menarik. Aku mulai belajar membangun hubungan dengan orang lain. Rasanya seperti keluar dari tempurung dan menjajaki dunia yang lebih luas.. tidak terbatas pada diri sendiri. Overall, aku merasa berubah dan berkembang cukup banyak karena ‘pusaran’ ini.

Jadi…

Saat SMP aku tidak tahu bahwa ada pilihan lain selain hidup semacam itu. Saat SMA aku masuk ke pusaran tanpa tahu konsekuensi dari pilihanku.
Sekarang aku bisa memilih dengan sadar jalan hidupku, paling tidak untuk sekitar empat tahun ke depan.

Sebagian besar orang berkata bahwa hidup kita harusnya bermanfaat untuk orang lain, dan mereka bilang cara untuk bermanfaat adalah dengan ‘mengikuti organisasi’. Mereka mengagumi orang-orang yang sibuk dengan banyak amanahnya.

Aku.. agak tidak rela kalau itu berarti harus mengorbankan hal-hal yang aku suka. Aku ingin membaca dan menulis, menggambar dan memotret, merenung, belajar. Pergi ke perpustakaan pada hari libur, menjelajahi isinya tanpa perasaan terburu seperti “Eh, setengah jam lagi harus ke anu buat nganu-nganu.”

Seorang kawan yang mencoba jadi kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) selama dua pekan ini merasa hidupnya jadi hambar. Menurutnya tidak sibuk malah membuatnya merasa tidak berguna. Intinya tidak menyenangkan. Sesuatu mengganjal pikiranku lagi.. seakan-akan pleasure yang kita dapat saat menyibukkan diri itu hanya ilusi. Jangan-jangan  kami cuma merasa berguna.padahal sebenarnya tidak.

Bagaimana dengan analogi air dan gelas? Gelas kosong tidak mungkin menuangkan air pada gelas kosong lain. Hal pertama yang harus kita lakukan untuk dapat bermanfaat adalah dengan menjadi egois, mengisi ‘gelas’ sendiri.

Tapi kemudian seseorang bilang bahwa aku punya potensi. Eh? Intinya, aku sudah bukan gelas kosong lagi, dan ini sudah waktunya bagiku untuk menuang air ke gelas lain.

Cap study oriented biasanya terkesan jelek di telinga. Katanya nih, mereka adalah mahasiswa yang tidak sempat memikirkan nasib bangsa karena tenggelam dalam tugas, jurnal, praktikum, dan ujian.. semua itu demi IPK diri sendiri.

Benarkah begitu? Setelah beberapa pekan menjalani perkuliahan, rasanya aku ingin belajar psikologi sedalam-dalamnya. Aku ingin mengalokasikan waktu untuk menghayati setiap tugas dan jurnal. Apakah itu demi IPK sendiri? Jelas bukan lah. Apakah aku jadi apatis terhadap nasib bangsa? Oh, err.. mungkin juga :/

Tapi aku ragu sih. Dengan hidup simpel dan santai aku berharap bisa menemukan harta karun yang selama ini tidak disadari orang-orang sibuk itu. Tapi jangan-jangan hengkang dari pusaran malah akan membuatku jadi orang malas dan nggak peka.

Mungkin aku harus memilih kombinasi yang pas antara kedua pilihan itu. Sekarang belum menemukan formulanya nih.

Duh tulisan ini jadi panjang, random, dan nggak terstruktur –‘

Sementara ini aku belum menemukan seorang pun yang hidupnya sangar dan bermakna tanpa menyibukkan diri pada organisasi. Kalau kamu–pembaca–kenal seseorang yang seperti itu, tolong beri tahu aku.

Jalan santai atau bergulung-gulung? Keduanya bisa jadi membawaku ke tujuan yang sama sekali berbeda.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

4 thoughts on “Jalan Santai atau Bergulung-gulung?”

  1. Aku punya saran (yang sebenernya dari kamu). Arahkan saja hidupmu menuju figur ideal yang kamu inginkan. Bagaimana pun jalannya, yang penting sampai kan? :D

    Like

  2. Reblogged this on Jagoan's and commented:
    Yah kira-kira cukup mewakili isi pikiranku di awal semester lalu, ketika memutuskan untuk mengambil amanah ini. Walaupun akhirnya aku senang menjalani keputusan ini, tapi rasanya akan lebih bijak kalau waktu itu aku memikirkan hal ini dan itu dan hal lainnya sedikit lebih dalam.

    mungkinn dengan menuangkannya di sebuah tulisan? :)

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s