Menghadapi Logical Fallacies

Originally written as jurnal #3 MA Logika dan Penulisan Ilmiah

Malam itu acara penutupan Kegiatan Awal Mahasiswa Baru (KAMABA) tengah berlangsung di Fakultas Psikologi sebuah universitas negeri ternama. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan bersama panitia di dalam aula. Setelah saling memberikan persembahan terakhir, acara ditutup dengan pidato pembina kegiatan, yakni seorang pengajar di fakultas tersebut.

“Angkatan kalian harusnya bangga. Kalian baru saja berhasil menyelesaikan KAMABA terbaik di unversitas ini.”

Ruangan langsung riuh dengan tepuk tangan bangga. Mahasiswa baru dan senior yang menjadi panitia merasa tersanjung dengan kata-kata sang dosen.

“Kenapa saya berani mengklaim bahwa fakultas ini memiliki model KAMABA terbaik? Di sini kami tidak sembarangan merancang. Kakak-kakak kalian mempersiapkan kegiatan ini sejak tiga bulan yang lalu. Setiap acara telah kami simulasikan. Bahkan semuanya kami susun menggunakan teori-teori psikologi.”

Beberapa mahasiswa baru terkesima, menyesali makian yang sempat ia tujukan diam-diam untuk panitia.

Sang dosen melanjutkan, “Setiap tahun mahasiswa psikologi sering diminta mengajari fakultas-fakultas lain merancang ospek. Kalian bisa tanya ke tetangga-tetangga kita, adakah yang membedah teori psikologi sebelum mengeksekusi acara?”

Percakapan di atas adalah ilustrasi yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Kalau kita amati dengan sedikit lebih teliti, argumen-argumen yang diberikan oleh sang dosen sebenarnya tidak logis. Ia berkata KAMABA di Fakultas Psikologi adalah yang terbaik dengan menyatakan beberapa argumen pendukung:

  1. Para panitia telah mempersiapkan acara sejak tiga bulan lalu
    Argumen ini seolah berkata bahwa semakin lama persiapan panitia maka kualitas akan semakin baik. Benarkah? Jangan lupa ada faktor lain seperti kejenuhan yang mungkin justru membuat performa panitia menurun.
    Kalaupun benar bahwa semakin lama persiapan akan menghasilkan output lebih baik, maka apakah tiga bulan sudah dapat dikatakan ‘lama’? Jika ternyata fakultas-fakultas lain mempersiapkan KAMABA-nya lebih lama daripada Fakultas Psikologi maka argumen ini tidak dapat mendukung argumen utama.
  2. Setiap acara telah disimulasikan dan disusun berdasarkan teori-teori psikologi
    Lebih tepatnya teori apakah yang digunakan? Bukankah dalam Il PrincipeMachiavelli juga menggunakan teknik-teknik psikologis untuk mempertahankan kekuasaan? Bukankah pengondisian tertentu bisa memberikan efek Stockholm Syndrome? Karena sang dosen belum (atau memang tidak berniat untuk) menjelaskan teori yang digunakan, maka argumen ini belum bisa mendukung argumen utama.
  3. Mahasiswa fakultas psikologi sering diminta mengajari fakultas lain merancang kegiatan ospek fakultasnya
    Fenomena ini mungkin berarti fakultas lain melihat bahwa mahasiswa psikologi lah yang paling tahu cara-cara menghadapi manusia (baca: mahasiswa baru). Namun apakah penilaian itu objektif? Apakah tidak terpengaruh bias dan stereotipe?
  4. Yang terakhir, predikat ‘terbaik’ adalah masalah perbandingan. Apakah sang dosen telah mengamati setiap KAMABA yang berlangsung di universitas tersebut? Seperti apakah standar ‘baik’ yang digunakannya? Hal ini sama sekali tidak disinggung dalam pidatonya.

Ilustrasi di atas bermaksud memberi gambaran tentang logical fallacies yang kerap terjadi pada keseharian kita. Praktik ini sering terjadi pada sambutan, orasi, dan acara motivasi. Walau mengandung kesalahan logika toh kata-kata tersebut sering kali berhasil memberi suntikan semangat pada audience. Justru pendengar yang kritis akan kesulitan mengambil hikmah dari kata-kata sang pembicara.

Saya jadi bertanya-tanya.. apakah dulu Bung Tomo membakar semangat arek-arek Suroboyo dengan menggaungkan orasi yang logis? Atau hanya rangkaian indah retorika?

Saya menyimpulkan bahwa menjadi critical thinker saja tidaklah cukup. Kita harus pandai-pandai menyeimbangkan aspek kognitif, afektif, dan konatif agar menjadi manusia seutuhnya, dan bukan hanya mesin berpikir yang bisa berjalan.

Btw aku belum nemu judul yang pas untuk jurnal ini –a

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

11 thoughts on “Menghadapi Logical Fallacies”

  1. Logical Fallacies… jadi inget kuliahku, Mat Diskret… –‘ oh tidak sabtu ini ujian :’O #curcol

    hmm… apa mungkin karena mereka sendiri yang mengatakannya jadinya terkesan sangat subjektif? gimana kalo semua yang dikatakan di atas itu merupakan perkataan dari pihak ketiga? tetap logis dan dapat diterima?

    tapi sering kan kenyataan itu ga berjalan sesuai logika. ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi. jadi kalo menurutku sih, mereka bilang kayak gitu, sekedar biar mereka mendapat pengakuan (biarpun dari diri sendiri aja) dan biar suasana rame aja hahaha

    toh zaman sekarang logika malah banyak ga masuk akalnya. –‘ kalo mau pasti masuk akalnya ya maen-maen logika sama komputer aja tuh :P #eh #kabur

    woke, sekian. sori nyampah yo Vin. huehuehue

    Like

    1. Kalo pernyataan itu dibilang oleh orang ketiga, mungkin nggak terlalu ketoro kalo nggak logis. Tapi tetep aja, sebelum ada data pasti dan penelitian, ga boleh ngeklaim sembarangan. Nah ini susah banget kan. Mungkin kesalahan terletak di pendengar (aku ._.), mungkin pada situasi tertentu ya nggak usah mikir kelogisan segitunya lah. Telen aja motivasi-motivasi kayak gitu bulat-bulat.

      suwun buat komentarnya mawaan :D *sawat komputer*

      Like

  2. Setelah beberapa kali mampir ke blog vinci akhirnya komen juga. :)
    Saya suka tulisan ini, ternyata kamu orangnya teliti dan analis sekali ya?
    Wah, seperti harus hati2 kalau ngomong didepan vici. :)

    Keep writing!
    *semoga masih inget saya. :p

    Like

    1. Huoaa ada MasBig :0
      Wah Mas, ngomong itu memang harus hati-hati, nggak perlu kalau di depan saya aja :) hehe. Terima kasih untuk kunjungan dan komentarnya.

      *eh post ini dikomentari orang-orang Fasilkom ya :D

      Like

    1. eh nanti kesannya kayak jurnal ini fokus di ‘Menjadi Pengajar’. lebih buruk lagi kalo jadi terkesan menyerang seseorang secara khusus .__. anyway suwun sarannya

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s