Mengejar Bahagia Sampai ke Negeri Cina

Assalamu’alaykum, readers :)

Boleh minta bantuannya? Tulisan di bawah ini rencananya bakal aku kumpulkan untuk tugas kuliah. Tolong baca dan kasih kritik-saran ya. Terima kasih :D 

 

Beberapa hari yang lalu, seorang teman berbagi sebuah link lewat akun twitternya. Link tersebut mengarah pada sebuah artikel dengan judul “7 Must-Read Books on the Art & Science of Happiness”. Tagline-nya berkata, “From Plato to Buddha, or what imperfection has to do with the neuroscience of the good life.

Di masa kini banyak sekali karya yang menempatkan pencapaian kebahagiaan hidup sebagai fokus utamanya. Ada yang mengatakan bahwa Law of Attraction bisa menarik segala hal yang kita inginkan dalam hidup, sehingga dengan segala pencapaian itu kita bisa menikmati kebahagiaan. Ada juga yang mengatakan bahwa kita sebaiknya hidup dengan amat sederhana, membatasi keinginan, sehingga kita selalu merasa berkecukupan dan bahagia.

Tren ini mengingatkan saya pada paham Epicureanism yang saya baca pada A History of Psycholoy karya King, Viney, dan Woody. Dalam buku itu disebutkan bahwa penganut paham Epicureanism percaya bahwa “pleasure is good and pain is evil to be avoided.” Tapi Epicureanism juga sangat menghindari sifat rakus yang hanya akan membawa kepuasan sesaat dan malah menimbulkan ketidaknyamanan jangka panjang.

Saya rasa ini menarik, ajaran yang pertama kali muncul sekitar 300 tahun sebelum masehi ternyata makin populer di masa kini. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak dulu pencapaian kebahagiaan selalu menarik minat banyak orang, seakan-akan menjadi sebuah misteri bahkan misi hidup.

Tapi saya yakin itu tidak benar. Bagi saya kebahagiaan hanyalah selingan yang hadir dalam proses, dan bukan merupakan tujuan dalam hidup. Sebagaimana yang tercantum dalam Al Quran, inilah fokus utama hidup yang seharusnya:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat ayat 56)

Memang secara alami semua orang menginginkan hadirnya kebahagiaan dalam kehidupan. Dengan menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah hal terpenting dalam hidup, kita menjadi makin sadar bahwa peristiwa menyedihkan tidak berarti keburukan. Inilah yang dikatakan Al Quran mengenai baik, buruk, dan kecenderungan manusia:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah ayat 216)

Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing. Banyak yang memilih untuk mengabdikan hidupnya demi mengejar kebahagiaan, sampai ke negeri Cina jika perlu. Tapi menurut saya kebahagiaan bukanlah hal yang cukup tinggi untuk diperjuangkan hingga menjadi tujuan utama hidup. Kalau sudah bahagia.. lalu apa? Pertanyaan inilah yang perlu dijawab oleh para Epicurean masa kini.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

10 thoughts on “Mengejar Bahagia Sampai ke Negeri Cina”

  1. saya belum bisa memastikan apakah kebahagian adalah tujuan atau sebuah reward.
    Manusia diciptakan untuk beribadah dan beribadah itu sendiri menciptakan rasa tentram. Tentram = bahagia. Iya, kan?

    Like

    1. Karena itu, menurut saya kebahagiaan itu selingan dalam proses.
      Kalau kebahagiaan itu tujuan, maka beribadah -> tentram (bahagia) -> selesai dong? Selama bahagianya masih preserved, maka ga perlu ibadah lagi? Hm :/

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s