Bertanya pada yang Awam

Malam ini aku bertanya padanya tentang tujuan. Memang, hanya dengan mengetahui ini kita bisa merasa tenang dalam setiap tindakan. Dia pun mengakuinya. Tapi kemudian diam.

“Kamu merasa nggak bisa menjelaskannya?”

Anggukan.

“Tapi kamu masih merasa memiliki tujuan?”

Anggukan, dengan senyuman.

Kadang kita sendiri sebenarnya tidak punya jawaban. Lalu diri itu malu, dan untuk menutupinya ia menipu. Kita, entah bagaimana, jadi percaya bahwa kita memiliki jawaban itu. Hanya saja kita sedang susah menjelaskan.

Itulah dalihnya. Bahwa penciptaan pertama di kepala telah berhasil dirampungkan, namun penciptaan ke dunia konkret masih dalam proses. Haha, yakin?

Sebentar, untuk apa aku mengorek jawaban dan cerminan dari orang ini? Kenapa tidak menanya yang lebih ahli?

Ah ya, aku pengecut. Seperti seorang yang tidak siap menerima vonis dokter dan memilih untuk bertanya pada tetangga yang awam.

*btw bingung harus ngasih judul apa*

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s