Sebaik-baik Nasihat

Kita tidak akan hidup di tanah ini selamanya.

Kita sudah melihat kematian di sekitar kita. Tentunya tentang ini tidak ada yang ragu. Lalu, bermula dari satu hal itu perenungan-perenungan mulai membadai di kepala masing-masing individu. Bagaimana cara hidup yang benar?

Oh, ternyata tidak semuanya. Tak setiap individu mengizinkan renungnya diambil alih oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Katanya, hari ini adalah hari ini. Dan mereka terlarut dalam aliran. “Tidak akan kita temui sungai dengan air yang persis sama! Mari mencebur dan nikmati segarnya sekarang juga.”

Benar. Selamat kepada kalian yang bisa merasai the present, atau masa kini, atau ‘hadiah’ ini.

Tapi setidaknya tanyalah, ke mana? Ke mana sungai akan berakhir? Sejenak mentas dari sejuknya kekinian, lihat ke depan, jauh. Tertutup kabut? Cobalah teropong, cobalah segala cara. Apa yang akan terjadi di ujung itu?

Memang hari ini harus dihidupi dengan sepenuh hati. Tapi justru mengingat akhir dari hidup akan membuat kita semakin menghargai ‘hadiah’ ini.

Kemudian tentang waktu dan kesehatan..
tentang siapakah diri ini..
juga misi-misi kehidupan.

Sebaik-baik nasihat adalah kematian.

–Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam

For further reading, click here.

Semoga selalu ingat.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s