Just Watched: “Hafalan Shalat Delisa”

Kemarin siang aku menonton Hafalan Shalat Delisa di bioskop.

(btw aku rasa si Kak Sovi ini ga cukup signifikan buat dipajang di poster :/)

Sebenarnya aku udah luwama banget nggak nonton film di tempat itu, terakhir kali nonton kayaknya Ice Age 2 deh (._. Wew itu jaman kapan ya?) Dan alasanku kemarin menonton sebenarnya karena ada yang ngajak dan nraktir. Kalo nggak begitu aku nggak bakal kolu lah ngeluarin uang dan waktu 2 jam untuk nonton genre drama –”

Alrite cukup pendahuluannya. Tentu saja di post ini aku ingin mengomentari “Hafalan Shalat Delisa”.

Di awal penayangan film, air mataku udah menitik-nitik nih. Padahal cerita intinya, konfliknya aja belum mulai. Sebenarnya aku juga bingung kok bisa begitu. Mungkin karena aku sudah tau ceritanya akan seperti apa. Mungkin aku langsung mengharapkan sesuatu yang menggugah.

Tapi.. err.. lama-lama aku jadi ketawa sendiri –v

Efek-efek animasinya…. kurang bagus. Kayak animasi sinetron-sinetron laga di salah satu stasiun TV kesayangan kita yang bulan Januari ini berulang tahun. Bedanya, nggak ada adegan Delisa nggak naik elang atau semacamnya .–. Beberapa detil juga kurang pas. Satu contoh, pada saat tsunami menerjang, Delisa ditayangkan tenggelam dikepung air jernih berwarna biru segar. Kayak lagi di kolam renang pek –‘

Lalu tentang karakter. Hmm.. kurang dalem, aku bilang bisa lebih dieksplor lagi. Kejadian pertengkaran Aisyah dan Delisa juga jadinya nggak alami bets  –” Sebentar iri banget, dinasihati dikit langsung sadar. Kalo pake bahasaku, di filmnya si Aisyah ini labil dan ‘murah’ banget.

Menurutku juga ada yang aneh dengan dinamika film ini. Kurang halus. Banyak adegan pendek yang.. oke lah, sama kayak yang diceritakan di buku.. tapi jadinya nggak pas tuh kalo ditaruh di film. Apa yang bisa disajikan melalui lembaran kertas kan sangat berbeda dengan apa yang bisa disajikan melalui layar. Untuk contohnya aku agak lupa sih –a. Mungkin  karena merupakan adaptasi dari novel, maka filmnya jadi mampat banget gitu ya? Kalau gitu mungkin sebaiknya bikin mini series di televisi aja daripada film layar lebar :/

Oh iya, ada satu yang bagiku sangat mengganggu. Adegan seorang ibuk-ibuk bule bersama anak lelakinya yang sedang menangisi kuburan massal, lalu Delisa dan abinya menghampiri. Entahlah apa yang salah. Pemeran bulenya? Kacamata aliennya? Sungguh, itu…. nganu. –‘

Kalau banyak yang tergugah dan memberikan 5 stars untuk Hafalan Shalat Delisa, maka bagus deh. Selamat untuk tere-liye dan Sony Gaokasak. Makasih juga udah memproduksi film yang ada isinya di tengah banjir film sampah (ups). Tapi izinkan aku ngasih 2 stars saja untuk filmnya. Mending baca novelnya saja.

Hmmm.. pendapat pribadiku sih, kalau mau menghayati tentang tsunami dari sudut pandang anak-anak, mending baca Kiamat Sudah Lewat.

Kiamat Sudah Lewat
Kiamat Sudah Lewat, oleh 12 anak-anak Aceh

Genuine, asli tulisan anak-anak korban tsunami Aceh. Habis kalau baca yang fiksi itu aku ngerasa kayak lagi dibohongi (like, “Ih mana mungkin beneran ada anak kayak Delisa?”) jadinya kurang bisa terinspirasi aja :/

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Just Watched: “Hafalan Shalat Delisa””

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s