Halo, Siapa Namamu?

Suasana asing langsung menyergap begitu kakiku melangkah masuk melalui pintu depan. Rumah ini bukan ‘rumah’ bagiku. Tapi tidak apa-apa, di sini tenang. Setidaknya aku sudah terbebas dari suasana hingar bingar pesta yang membisingkan, memusingkan.

Lalu lelaki asing itu menoleh ke arahku. Ia memberi isyarat agar aku duduk di sofa, di sampingnya. Aku melangkah ragu, menurut saja.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

Aku tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu. Jujur saja rasanya aneh, seakan dunia berputar terlalu cepat dan segala perubahan terjadi dalam satu detik yang begitu singkat. Kemarin Ibu masih mengomeliku karena tidak membereskan kamar. Sekarang aku tidak akan mendengar omelan itu lagi. Mulai hari ini kami akan tinggal di tempat yang terpisah. Dan aku akan mulai hidup bersamanya, seseorang yang tidak kukenal.

Alisku mulai berkerut dan tanganku saling meremas. Melihat hal ini, lelaki di sampingku tergelak tipis. Apakah aku begitu menggelikan?

“Aku bahagia.” Ia memulai. “Tapi aku tidak ingin bahagia sendirian. Jadi, bagaimana perasaanmu… sayang?”

Kata terakhir itu melipatgandakan kerutan di dahiku. Telingaku terasa digelitik begitu parah sampai-sampai timbul ‘clekit’ yang aneh di dada. Aku belum siap dipanggil seperti itu. Dapatkah dia mengerti? Bisakah aku dimaklumi?

“Ah, maaf, maaf!” Ia menundukkan kepala sambil memasang ekspresi menyesal. “Jadi bagaimana aku harus memanggilmu?”

Hening.

Lalu aku berkata pelan, “Aku tidak tahu. Aku tidak yakin.”

Aku melirik sedikit untuk memeriksa reaksi di wajahnya. Aduh, sepertinya jawabanku mengecewakan.

“Bukan begitu, maksudku..” Aku mencoba menjelaskan, tapi seluruh kata seakan bersembunyi di sudut-sudut terpencil. Aku tidak bisa menemukan mereka untuk menyusun kalimat yang menenangkan.

Tentu saja aku merasa tegang tiba-tiba harus tinggal dengan lelaki asing ini. Tapi aku juga tidak ingin menyakitinya sebelum kami memulai apapun. Perjodohan ini toh bukan salahnya. Dan bahkan perjodohan pun bukanlah suatu kesalahan.

Lalu ia memandang lurus ke mataku, berkata, “Maafkan aku karena terlalu bersemangat sendirian.”

Sambil menunduk aku menjawab lirih, “Itu.. bukan kesalahan.” Apakah dia mendengar?

“Aku mengerti. Jadi, kita mulai dari awal ya?”

“Ya..” Kalimatku terasa menggantung di udara.

“Baiklah.” Dia mengulurkan tangannya sambil melanjutkan, “Halo, aku Dani. Siapa namamu?”

Aku menyambut tangannya sambil tersenyum tenang, “Halo, Dani. Aku Arisa.”

Dan bersama-sama kami memulai kehidupan baru ini yang dinamakan keluarga.

Bukan apa-apa kok –v cuma buat #15hariNgeblogFF

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

5 thoughts on “Halo, Siapa Namamu?”

    1. Halo Dieta, makasih udah mampir :D
      Itu.. habis tema ‘perjodohan’ lagi rame di sekitarku –‘ nulis pun yang keluar masalah itu. Glad that you like that line though :)

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s