Aku dan Kursi

“Titip tempat!”

“Aku sebelahmu ya!”

Dulu aku sering mendengar kalimat ini saat pelajaran TIK dimulai. Pelajaran berlangsung di lab komputer, jadi kita harus pergi meninggalkan kelas. Di lab komputer ada kursi-kursi tertentu yang menjadi rebutan. Misalnya yang terletak paling belakang, tepat diterpa udara dingin AC. Di sana mas-mas pengajar akan susah mengontrol sehingga kita bisa menyalahgunakan koneksi internet yang dibayar sekolah dengan sesuka hati. Ada juga sih yang lebih senang duduk di depan, biar jelas kelihatan papan. Karena spidol-spidol yang dipakai mas-mas itu memang suka bandel. Dan tulisan mereka kadang menyaingi font dokter.

“Jagain kursiku!”

“Tag-in dong!”

Kalimat itu juga sering terdengar jika pada jam pertama diadakan ulangan harian. Kursi-kursi depan adalah tempat yang paling sering dihindari. Sebagian besar ingin duduk di bangku belakang, entah hanya karena grogi jika berada di dekat jangkauan guru atau memang ingin melakukan ‘sesuatu’.

Tapi aku bukanlah orang yang mengucapkan kalimat itu. Aku tidak punya tempat duduk favorit. Yang mana saja aku terima. Bisa dikatakan aku lebih suka menerima kejutan dari nasib. Akan ditempatkan dimanakah kali ini? Pada dasarnya aku selalu percaya bahwa.. tidak akan ada yang salah.

Mereka yang meminta dipesankan tempat adalah mereka yang tidak percaya bahwa tiap kursi memiliki kebaikannya. Mereka merasa bahwa jika dibiarkan ‘berjalan sendiri’, nasib akan mengacaukan segalanya. Mereka yang ingin cepat-cepat mengamankan tempat sebelum acara dimulai sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa. Kursi itu bahkan belum menjadi hak mereka.

Tapi.. bagaimana ya? Kali ini aku punya tempat khusus yang aku inginkan. Aku masih ingin menerima kejutan, tapi sekarang adalah tentang bagaimana aku akan ditempatkan di sana; bagaimana tempat itu akan menjadi yang paling sempurna.

(Seharusnya) aku percaya. Tidak akan ada yang salah. Tapi aku takut. Wajar kan?

Aku ingin berada di kursi itu. Dan hanya di situ saja.

Kursi itu, semoga saja bersedia menerimaku. Dan hanya aku saja.

Tuhan, bolehkah aku meminta begitu banyak?

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s