Don Lino, Where Are You, Sir?

Beberapa hari yang lalu aku membaca post-nya Mas Big yang ini, tentang dirinya dan sang Eternal Rival. Aduh, aku langsung mengingat kamu, Sir.

Dulu, di dekatmu aku sering merasa terintimidasi. Terancam irisan tajam mata bulemu itu, haha. Sejak tiga tahun lalu aku sudah tidak bisa merasakan sensasi seru itu, kecuali pada saat-saat tertentu yang sangat jarang, ketika kita dipertemukan dalam satu arena. Sekarang? Ah, kamu seakan hilang sama sekali.

Bolehkah aku menuliskan ulang sebuah note yang beberapa bulan lalu aku buat?

Bismillah..

Well, err.. hari ini aku mendapatkannya. Sebenarnya sebuah jaket yang biasa saja. Tapi melalui perjalanan panjang para pemakainya, jaket ini sekarang jadi simbol yang amat membanggakan bagi para mahasiswa. Aku sendiri tidak merasakan perasaan yang istimewa.

Eh ada sih, hanya satu.

Aku teringat kamu.

Aku ingat warna ini adalah favoritmu. Dan tempat ini juga impianmu.

Aku mengingat saat aku harus mencoret satu baris mimpiku pagi itu, bukan karena berhasil tercapai tapi justru karena gagal. Kamu tahu apa isi mimpi itu?

Berteman denganmu di tempat ini.

Aku ingat saat itu aku kecewa, bukannya malah menyemangatimu yang pasti sedang dirundung kecewa lebih dalamAh nggak sopan sekali ya. Bahkan sampai sekarang pun kadang aku berandai dalam hati, seandainya kamu di sini..

Ah, ya sudahlah. Aku tidak akan melanjutkan pada bahasan tentang keadilan dan nasib seperti biasanya. Seharusnya aku tahu pembicaraan semacam itu tidak akan membuat apapun, dan siapapun, jadi lebih baik. Aku percaya padaNya.

Semoga kamu bersinar dan berbahagia di sana.

Aku nggak yakin kamu sudah sempat membacanya. Maka, yah, siapa tahu kamu kebetulan melewati laman ini (seperti saat itu), aku harap kata-kata di atas mencapaimu.

Oh iya Sir, yang paling aku benci darimu adalah bahwa aku tidak pernah bisa menemukan jejakmu. Tidak pernah bisa memegang ekormu. Sejak dulu! Jujur saja, beberapa kali aku mengetikkan namamu di google. Tapi aku tidak bisa menemukan apa-apa. Entahlah apakah kita ini bisa dibilang ‘berteman’, tapi yang jelas aku merasa kehilangan.

Rasanya aku ingin sekali bilang keras-keras, “Bikin twitter sana kenapa sih!” (Atau..kamu sebenarnya pun aktif di dunia maya tapi tidak mau tersentuh aku sama sekali? :0)

Walaupun kamu sendiri pernah bilang “Just tell me when u’re free,” tentu saja rasanya masih sedikit aneh. Aku kan perlu tahu juga; Seperti apakah kamu sekarang? Apa saja yang berubah darimu? Bagaimana komposisi isi kepalamu? Apa pandangan politikmu? #eh Mendekatimu tanpa pengetahuan apapun tentangmu terasa agak…menakutkan.

Yah, begitulah. Aku cuma ingin tetap punya seseorang di jangkauanku. Seseorang yang… aku juga tidak tahu apa kriterianya. Yang jelas kamu, kamu adalah satu-satunya yang masuk kategori itu.

Sincerely, Lenny
yang sedang mempertahankan endorfin-nya :))

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Don Lino, Where Are You, Sir?”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s