Dia Bilang ‘Hanya’

Seorang pria bunuh diri setelah membunuh anaknya sendiri hanya karena himpitan ekonomi.

Kemarin malam aku melihat mbak-mbak cantik di televisi, dengan gayanya yang anggun mengucapkan kalimat di atas tadi.

Sesuatu menusukku.

Dia bilang ‘hanya’.

Menurutku, orang-orang yang nggak pernah terhimpit masalah ekonomi nggak berhak berkata ‘hanya’. Kamu, mbak, kamu cuma pembaca berita. Kamu nggak layak bilang ‘hanya’. Karena, kalaupun kamu pernah menghadapi himpitan ekonomi dan menang melawannya, kamu tetap seorang pembaca berita. Kamu bukan seorang pribadi yang sedang ngobrol dengan temannya.

Di sudut lain dunia, di luar studio yang dingin itu, ada seorang janda yang masih berduka. Hm ini aku ngarang aja sih. Yasudah, siapapun lah. Yang jelas aku yakin ada orang yang masih berduka, kehilangan pria itu.

Dan kamu bilang ‘hanya’.

Entah kenapa aku sakit hati sekali.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Dia Bilang ‘Hanya’”

  1. kalau kita memandang hidup “hanya” di dunia saja, memang kata “hanya” dari pembaca berita itu adalah sesuatu yang sangat-tidak-peka. Tapi kalau kita memandangnya dari bahwa dunia ini bahkan lebih hina dari sayap seekor nyamuk, lalu membayangkan ancaman yg diterima oleh pembunuh anak dan bunuh diri, maka kurasa kata “hanya” disini rada tepat. Bagaimana mungkin gara-gara sayap seekor nyamuk, rumah idaman di akhirat dijual?? CMIIW

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s