Demokrasi oleh SPA, dan kemudian hal-hal lainnya

Pengantar Filsafat Barat oleh Fuad Hassan. Sejak awal semester sudah dipinjami buku ini sama Mbak Anja, tapi ngga pernah kubuka. Baru kemarin, menjelang UTS Filsafat Manusia, aku akhirnya termotivasi untuk membacanya. Sebenernya lebih banyak materi yang keluar dari “An Essay on Man”-nya Cassirer, tapi… buku itu font-nya nggak nyante sekali. Jadi aku memilih untuk menelusuri si buku yang pertama. Dari buku sederhana ini ternyata aku dapat insight yang sangar..

Soal demokrasi. Iya, sistem yang dianut oleh negara ini.

Pertama, Socrates:

Menurut Sokrates, kesejahteraan negara tidak mungkin dicapai jika negara itu dikuasai oleh khalayak ramai dan awam sebagaimana diwujudkan melalui sistem demokrasi. Setiap negara harus mempunyai pimpinan, dan pimpinan itu harus dipercayakan pada beberapa warganya yang terpilih sebagai orang-orang yang arif-bijaksana. Dengan pimpinan yang demikian itulah warga negara akan tunduk pada berlakunya hukum, dan kepatuhan pada hukum yang berlaku niscaya menjamin tertibnya kehidupan bersama dalam wadah suatu negara. Jelas sekali betapa Sokrates tidak sependapat dengan paham demokrasi yang dianut pemerintah Athena waktu itu. Bagi Sokrates, yang penting ialah bagaimana menyelamatkan negara dari rongrongan yang diakibatkan oleh perdebatan berkepanjangan untuk menggalang dukungan perolehan suara terbanyak demi memperoleh kekuasaan dan menjalankan pemerintahan. Mana mungkin pemerintahan bisa berlangsung kalau setiap saat harus memenuhi beraneka ragam angan-angan dan harapan orang terbanyak, sambil mengabaikan keunggulan pikiran dan kebijakan?

Kedua, Plato:

Demokrasi bukanlah didasarkan pada perolehan suara terbanyak, melainkan oleh pemilihan berdasarkan pendidikan (educational election), dengan catatan setiap warga negara harus mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Demokrasi yang didasarkan pada hasil pendidikan lebih menjamin kemantapan kehidupan bermasyarakat dan bernegara karena tatanan masyarakat dan negara diselenggarakan oleh mereka yang mampu melaksanakan tugasnya. Sedangkan demokrasi yang didasarkan pada perolehan suara terbanyak melalui pemungutan suara tidak mungkin menjamin stabilitas negara karena lebih mudah diguncang oleh perubahan sejalan dengan berubahnya kehendak orang banyak dari waktu ke waktu. Demokrasi yang berdasarkan pemungutan suara juga memungkinkan didudukinya berbagai jabatan oleh mereka yang sesungguhnya tidak mampu melaksanakan tugasnya, namun berhasil merebut suara mayoritas dalam masyarakat.

Ketiga, Aristoteles:

Seperti halnya Sokrates dan Plato, Aristoteles pun berpendapat bahwa demokrasi telah berkembang secara berlebihan, sehingga tidak lagi bisa menjamin tata negara yang stabil. Demokrasi yang eksesif itu antara lain berakibat seringnya terjadi perubahan perundang-undangan dan hukum yang berlaku karena lagi-lagi harus disesuaikan dengan tuntutan orang banyak. Padahal kehidupan bernegara memerlukan berlakunya tatanan yang dapat menjamin stabilitas, karena hanya dengan demikian masyarakat dalam negara itu berkesempatan untuk berkembang menuju kejayaan. Menyaksikan penerapan demokrasi gaya Athena yang eksesif di zamannya, Aristoteles berkesimpulan bahwa demokrasi niscaya mengalami destruksi oleh eksesnya sendiri. Maka demokrasi sebagaimana berkembangnya kala itu membawa Aristoteles pada pendapatnya bahwa tatanan bernegara tidak mungkin dijamin stabil apabila nasibnya ditentukan oleh suara orang banyak belaka dan harus setiap waktu sudi diubah untuk memenuhi selera mereka. Aristoteles beranggapan bahwa tata negara harus dipercayakan pada mereka yang sesungguhnya mampu mengelolanya; pendapat Aristoteles ini tidak banyak berbeda dengan pendapat Sokrates dan Plato. Tetapi lebih dari itu, Aristoteles berpendapat bahwa manusia sejak lahir sudah berbeda-beda pembawaannya.

Setelah merenungi hal ini aku sendiri jadi merasakan macam-macam hal..

Pertama, semacam mendapatkan pencerahan mengenai hal yang selama ini aku ragukan. Pada beberapa kesempatan, aku sering merasa nggak sreg dengan aturan ‘yang banyak yang menang’. Setelah membaca ini, aku merasa nggak sendirian.

Kedua, penasaran. Kenapa ya dulu para founding fathers memilih demokrasi? Aku berasumsi bahwa beliau-beliau–yang, tidak diragukan lagi, adalah kaum terpelajar–sudah mengetahui pendapat tiga filsuf besar ini soal demokrasi. Dan aku rasa pemikiranku nggak setajam pemikiran mereka. Mungkin juga aku kurang memahami kondisi pada zaman itu. Pasti ada jawaban. Apa ya pertimbangannya? Apa ya keuntungannya?

Ketiga, yang paling parah, merasa dibodohi :)) Dua belas tahun sekolah, mulai mendapatkan IPS sejak kelas 3 SD, terus dicekoki pemikiran bahwa demokrasi adalah sistem terbaik: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat! Terdengar indah dan manis. Ternyata dari duuuluuu keampuhannya sudah diragukan oleh para pemikir.

Yang ketiga ini bercabang jadi tiga titik satu. Aku bertanya-tanya, apa memang pendidikan kewarganegaraan harus memakai sistem doktrin begitu? Bagaimana ya kalau dari SD kita dipapar oleh bermacam pemikiran tanpa digurui tentang mana yang benar? Eh mungkin SD terlalu kecil ya? SMP deh. Aku ingat lho, pada pelajaran sejarah di SMP Karl Marx dan pemikirannya digambarkan dengan cara yang sangat negatif. Membaca sosialisme-komunisme melalui Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder ternyata memberi kesan yang jauh berbeda.

Keempat, khawatir. Menurutku demokrasi di negara ini sudah ekses banget. Akankah kita hancur?

Empat titik satu: eh jangan-jangan ‘hancur’ itu nggak buruk-buruk amat. Jadi ingat waktu masih kecil, mainan building blocks: lebih gampang membangun sesuatu yang baru dan fresh dari nol (dari kehancuran total) daripada memperbaiki sambil mempertahankan yang sudah berdiri.

Kelima, setelah kemarin malam melihat sidang paripurna melalui TV, rasanya… ow ow. Seakan terdengar celetukan dari Socrates Plato Aristotle, “Tuh, kayak gitu tuh demokrasi! Apa gue bilang!” :))

Wew panjang! :o Terima kasih sudah baca. Feel free to comment and correct me :)

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Demokrasi oleh SPA, dan kemudian hal-hal lainnya”

  1. Btw, inilah definisi demokrasi menurut kamus:

    n (Pol) 1 (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; 2 gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara;

    Definisi demokrasi yang lain, cek di kateglo.

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s