Menyambutmu: Kacamata, Tali

Aku sungguh ingin tahu pendapatmu mengenai semuanya. Tentang tanah dan suara-suara. Aku ingin kamu mengamati seluruhnya dengan kacamata yang beberapa tahun lalu telah diberikan oleh seseorang. Sejak saat itu pasti kacamatamu tidak polos lagi. Mungkin sangat banyak tercoret garis di sana sini. Tapi yang penting hanyalah kesadaranmu bahwa itu hanya kacamata. Bahwa ketika kamu melepasnya dan mengganti dengan yang baru, semua bisa tampak berbeda.

Tahun lalu, ketika badanku bebas melayang gamang, seseorang memberiku kacamata yang menakutkan. Dia menyebutnya kebenaran. Realitas. Yang paling menyeramkan adalah sampai saat ini ternyata ternyata susah sekali untuk melepasnya.

Karena itulah aku tidak akan memberimu kacamata lagi. Aku yakin kacamatamu yang lama masih berfungsi dengan baik. Sesuai porsi. Setelah itu, sebenarnya aku ingin membandingkan pemandangan yang kita gambar. Aku butuh untuk memastikan, apakah ini memang kebenaran atau hanya ilusi perasaan. Kerinduan. Kutukan kesetiaan.

Maka untuk sekarang terbanglah yang tinggi agar semuanya bisa terlihat. Tapi aku tidak akan membiarkanmu terus begitu. Sudah kusiapkan beberapa tali untuk mengikat, mengiringi kebebasanmu.

Nah. Kamu tidak boleh melupakan makna kebebasan sejati.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s