Menyambutmu: Menyambut Diri-Baruku

Aku adalah seri terakhir dari keluargaku. Jadi sebenarnya aku tidak pernah benar-benar paham bagaimana rasanya menyambut sebuah kelahiran. Tapi rangkaian segala hal akhir-akhir ini kurang lebih memberiku sedikit gambaran.

Ketika seorang bayi lahir, sebenarnya bukan dia saja yang lahir. Segenap keluarganya turut terlahir kembali. Sang ayah akan semakin giat bekerja. Sang ibu akan semakin ulet berusaha. Kakak-kakaknya, walaupun mungkin lebih sering merasa direpotkan, akan berusaha menjadi seorang yang lebih keren dan tidak memalukan.

Bukankah begitu?

Maka begitulah. Dengan kedatanganmu aku berharap bisa turut menyambut diri baruku. Yang lebih giat, ulet, dan keren.

Sore ini ada kombinasi emosi yang kompleks sekali, saat suaramu berusaha menelisik menembus kerumunan, mencoba lantang menentang. Seperti juga sore itu, ketika kakimu membariskan diri-dirinya demi menjawab panggilan para penantang.

Ada beberapa kebanggaan yang berhadapan dengan sebuah kerendahan, semacam.. “Siapakah kamu hingga merasa pantas berbangga?” Ada juga sedikit dorongan pesimistis untuk menyuruhmu diam. Duduk santai saja lah. Nikmati peperangan di panggung laga sambil menyeruput soda dan menutup telinga. Yang paling dominan adalah perasaan kesal. Karena semua ini tidak punya makna. Tidak berguna. Dan terakhir adalah kerinduan pada setting hampir sama di dunia lama kita.

Uh. Tidak semua rangkai emosi ini dapat aku jelaskan.

Aku jadi teringat pada diriku yang dulu sempat berpijak pada petakmu. Aku tidak pernah berhasil melakukan tindakan-tindakan itu, yang padahal perencanaannya sudah berputar-putar kencang dalam kepala. Untuk menghibur diri, aku bisa bilang bahwa aksi-aksi itu memang bukan gayaku. Tapi kalau mau menghujat, boleh juga kamu bilang bahwa aku sekadar pengecut. Dan memang setahun ini tidak ada yang benar-benar aku lakukan. Hanya mencoba berenang dan membiasakan diri dengan gelitik arus, dingin, dan asin.

Coba, apakah yang bisa lebih halus mengaduk racikan beragam perasaan dibanding alir air murni dari mata?

Aku tidak tahu akan seperti apa jadinya, tapi banyak yang aku harapkan sejak titik ini. Kelahiranmu memberiku semangat baru untuk lahir kembali. Lalu semoga saja kelahiran yang lebih besar bisa mengikuti.

Sungguh, semoga.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Menyambutmu: Menyambut Diri-Baruku”

    1. Bukan. Ini untuk.. mereka yang.. tahun ini jadi bagian dari fakultasku. Untuk yang mungkin merasakan sesuatu yang.. rumit.. atau hampir mengecewakan. Untuk yang peduli.
      Duh jadi malu.

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s