Malam Takbiran, Malam Impian

“Allahuakbar allahuakbar allahuakbar…”

Takbir bersahutan, menggema terpantul-pantul tembok langit yang malam ini sedikit berlapis awan. Bunyi dar-dor kembang api ikut juga meramaikan suasana perayaan.

“Laa ilaaha ilallahu allahu akbar! Allahu akbar wa lillahilham!”

Lantunan takbir itu berasal dari pengeras suara tua milik masjid. Satu-satunya masjid di desa di kaki gunung ini. Begitulah tradisi yang berjalan setiap tahun. Kalau masih agak ‘sore’ begini, anak-anak laki-lakilah yang ramai berkumpul di masjid, bergantian memegang mikrofon untuk memamerkan kerasnya suara masing-masing. Nanti kalau malam sudah lebih larut mulailah para pemuda yang mengambil peran, berusaha bertakbir sefasih-fasihnya, sepanjang-panjangnya (di baliknya mungkin ada harapan agar dilirik Pak Kiyai yang anak gadisnya mulai beranjak dewasa).

Seperti biasa, anak-anak laki-laki selalu punya semangat yang berkobar-kobar pada malam takbiran. Agaknya itu karena mereka belum begitu sering mengalami suasana hari raya, tidak seperti para orang tua yang sudah berpuluh kali merayakan Idul Fitri dalam hidupnya.

“ALLAAAAHUUWAAKBAARRRHH ALLLAAHHUUWWAKBAAR ALLAAHUAKBARR!”

Nah. Dengar kan. Saking bersemangatnya, anak-anak itu mulai berteriak-teriak. Orang-orang tua sering kesal dengan hal ini. Menurut mereka seharusnya malam takbiran itu sendu dan syahdu. Sayangnya bagi anak-anak malam takbiran itu harus seru!

Di tengah-tengah suasana ini duduklah Ahmad. Ia sudah bukan anak-anak tapi juga belum terlalu dewasa. Yah bisa kita bilang baru mencicip masa remaja. Ia diam saja sendirian, tidak terlihat ada teman sebaya di sekelilingnya. Renungnya amat dalam. Keramaian di masjid itu tidak memberi peduli barang sedikit pada Ahmad dan benaknya. Oh, padahal kalau mereka tahu.. Kalau saja ada yang mau mengajaknya ikut bertakbir untuk mengusir segala pikiran gila yang tengah berkelibat dalam kepala kosong itu..

Tapi karena hal itu tidak terjadi, karena semangat anak-anak yang tengah bertakbir itu menyedot segala perhatian, karena suara ledakan kembang api dan petasan membuat langit hitam jadi sedikit meriah, dan karena suasana itu mengingatkan Ahmad pada suatu acara yang pernah ia tonton di televisi, di sebuah panggung hiburan, ia akhirnya sampai pada suatu keputusan.

Keputusan itu bulat. Sebulat buah semangka.

Ahmad bangkit. Matanya terisi penuh tekad. Dihampirinya seorang anak yang sedang meneriakkan takbir dengan penggalan kata yang ganjil.

“LAAA ILAA AHA ILAL LAAH… HU! ALLAH… HU! AAKBARR!”

Anak itu bernama Akbar. Dari tadi ia bangga sekali karena namanya disebut berkali-kali.

“Hei,” Ahmad menepuk pelan bahu Akbar. “Mik-nya.” Singkat saja, tangannya langsung menjulur meminta. Matanya yang begitu dalam ternyata membuat Akbar gemetar sedikit. Ia bisa merasakan bahwa jika mikrofon itu tidak segera ia berikan, bisa-bisa tangan yang tadi menepuk pelan itu berubah menjadi kepalan dan meninju pipi gembulnya. Maka tanpa protes diberikanlah mikrofon tua yang pasrah itu.

Maka inilah.

Ahmad mengambil nafas. Lalu..

“IBUK-IBUK BAPAK-BAPAK SIAPA YANG PUNYA ANAK BILANG AKUU.. AKU YANG SEDANG MALU KARNA TEMAN-TEMANKUU.. KARNA CUMA DIRIKU YANG TAK LAKU-LAKUU..”

Benar. Syair itulah yang keluar dari mulut Ahmad.

Sesungguhnya irama dan nadanya pas. Suara Ahmad juga mengalir jernih dan lancar, tidak terdengar ada getaran sedikit pun karena grogi atau cemas. Padahal pada saat itu seluruh pasang mata yang ada di masjid langsung tertuju padanya. Bahkan kucing juga berhenti menggaruk dagu dan membelalak heran.

Tapi biar bagaimanapun ini kan malam takbiran..

Tapi juga, inilah satu-satunya kesempatan Ahmad pada tahun ini. Biasanya setiap tanggal 17 Agustus akan diadakan lomba menyanyi sedesa. Tapi karena 17 Agustus tahun ini masih dalam bulan Ramadhan, kontes itu tidak diadakan. Padahal itulah kontes yang selalu diidamkan Ahmad.

Kalian harus mengerti. Ahmad adalah anak yang pemalu. Ia belum pernah berhasil mengajak kakinya melangkah ke meja pendaftaran peserta. Keberaniannya, yang biasanya sudah ia siapkan sejak sebelum tidur pada malam hari, selalu kabur ke balik semak-semak pada siang harinya.

“Ini kesempatanmu satu-satunya!” Begitulah bunyi suara di dalam kepalanya tadi. “Maju saja! Tidak apa-apa.”

Maka berlanjutlah nyanyian itu, “..TOLONG CARIKAN DIRIKU KEKASIH HATIKU.. SIAPA YANG MAUU.. OW-O-O-O-O.. KU TAK LAKU-LAKU..”

 

Esoknya desa di kaki gunung ini menyambut Idul Fitri dengan resah. Awan yang semalam tipis melapis hari ini jadi bertambah tebal. Ia menggantung saja di atas sana, menahan diri agar tidak jatuh membasahi orang-orang yang tengah bersujud di lapangan.

Pada saat khotbah sang penceramah halus menyindir insiden kemarin malam. Ia memulai kalimatnya sambil menutup mata dengan penghayatan yang dalam, “Kemarin kita mendengar alunan takbir yang menggetarkan dari masjid..” lalu dilanjutkannya dengan cepat-cepat, “walaupun-setelah-itu-ada-suatu-suara-yang-mengacaukan,” lalu kembali lagi pada nada oratorisnya yang semula, “Begitulah tanda-tanda orang yang beriman. Bila disebut nama Allah hatinya bergetar!”

Seluruh pasang mata melirik Ahmad. Bahkan kucing yang semalam hadir di masjid pagi ini juga mondar-mandir di lapangan.

Sebelum sanksi sosial itu, Ahmad tentu saja sudah terlebih dulu menerima hukuman di rumah. Punggungnya dipukul dengan selang air oleh sang ayah. “Ngisin-isini! Nggak ngerti aturan!” Tapi entah kenapa pukulan itu tidak terasa menyakitkan. Sepertinya ayahnya sengaja melembutkan tangan.

Setelah itu ibu Ahmad menghampiri dan membisikinya malu-malu, “Suaramu ternyata apik juga ya le.” Hal itu diucapkan pelan sekali, hampir-hampir tidak terdengar. Tapi Ahmad yakin betul kalimatnya berbunyi begitu. Maka karena satu pujian itu, segala sindiran dan hujatan tidak lagi bisa menembus hatinya yang sedang sibuk berkebun bunga.

Saat keluarga Ahmad berkeliling mengunjungi rumah para tetangga, anak-anak perempuan terlihat malu-malu. Kepala mereka ditundukkan dan mata mereka sesekali menatap ke wajah Ahmad. Di balik sikap patuh yang selalu mereka sandang, anak-anak perempuan itu diam-diam ingin juga menentang aturan. Mengetahui ada seorang laki-laki yang dengan berani telah melanggar kebiasaan, anak-anak itu pun terkagum-kagum.

Hari ini seluruh desa tidak yakin bagaimana harus bersikap. Menyanyi keras-keras pada malam takbiran jelas menyalahi tradisi, tapi semua orang diam-diam bersepakat  bahwa suara Ahmad semalam mengalun sangat indah. Malah jauh lebih bagus daripada penyanyi aslinya.

Tampaknya suasana kikuk ini masih akan berlangsung sampai beberapa lama.

 

[Beberapa masa kemudian]

Tahun ini Ahmad sudah tidak berada di desa di bawah kaki gunung ini lagi. Ia sedang memulai debutnya sebagai penyanyi di ibukota. Entah bagaimana, berita mengenai aksi nekatnya pada malam takbiran tahun lalu terbawa sampai ke telinga seorang produser rekaman. Lalu begini, lalu begitu, hal-hal rumit terjadi, dan tiba-tiba saja Ahmad sudah muncul di televisi.

Kali ini adalah Ihsan yang duduk sendiri di tengah keramaian suasana takbiran. Dia sudah bukan anak-anak tapi juga belum terlalu dewasa. Yah bisa kita bilang baru mencicip masa remaja. Ia diam saja sendirian, tidak terlihat ada teman sebaya di sekelilingnya.

Beberapa saat kemudian bangkitlah Ihsan dari duduknya, menghampiri seorang anak yang tengah menguasai mikrofon, dan menepuk pundaknya pelan. “Mik-nya.”

Mikrofon berpindah tangan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh! Hei hei, halo semuanya! Kenalin ya, namaku Ihsan Kece dan kalian lagi dengerin 109,7 Masjid FM! Apa kabar nih sobat muda semua? Pasti lagi pada menikmati suasana takbiran ya? Wah pas suasana seperti ini paling cocok kalau kita maaf-maafan. Yuk bagi semua yang pingin ngucapin salam, langsung aja datang ke masjid sekarang!”

Malam itu pengeras suara tua milik masjid tidak hanya memperdengarkan alunan takbir. Ada beberapa nada malu-malu berbunyi “Salam buat Ratih yang sedang di rumah. Aku harap di hari raya yang suci ini kamu bisa maafin kesalahanku.”

Begitulah. Sejak itu masjid di desa di kaki gunung selalu punya hal berbeda di tiap malam-raya. Satu malam itu menjadi waktu bagi para pemimpi untuk mendeklarasikan perjuangannya.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s