Menjadi Bukan-Dia

Melihat figur-figur hebat dan bersemangat, optimis dan positif, sering kali membuat orang terinspirasi dan berkata dalam hati, “Ah, aku akan jadi orang seperti dia!”

Kadang aku juga mengalaminya. Tapi agaknya ada model inspirasi lain yang lebih ampuh bagiku.

Orang-orang kurang baik, hipokrit, yang tertawa, mengangkat kepala, tidak peka, mengumbar kisah, atau menyembunyikan di balik jubah besarnya. Berinteraksi dengan mereka, biasanya dalam hati aku akan berkata, “Ah, akan kupastikan menjadi seorang bukan-dia.”

Bukan-dia berarti negasi-dia, pokoknya apa saja yang bukan dia. Seperti apa itu, ya disesuaikan saja dengan diri dan pengalaman. Konyol kan kalau aku melakukan sesuatu yang aku anggap rendah.

Dengan semangat itu aku pernah beberapa kali berhasil menjauhi hal buruk yang awalnya melemahkan hatiku. Mungkin aku harus mengucap terima kasih juga ya untuk orang-orang–kalian–yang sudah menjadi contoh hidup bagiku.

 

Saat kelas Psikologi Pendidikan minggu lalu. Maria Montessori yang tersenyum melalui poster di dinding, memamerkan konsep yang tidak-terlalu-aku-pahami-tapi-terdengar-keren, awalnya membuat kagum. Lalu mataku menangkap tulisan di pojok kanan bawah, “Walaupun sangat menyayangi anak-anak, Montessori tidak terlalu dekat dengan anaknya sendiri, Mario.”

Oh. Akan kupastikan menjadi seorang bukan-Montessori deh. Bismillah.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s