Melihat Apa yang Kamu Lihat

Saat ini tidak ada permintaan maupun harapan yang berani aku genggam seperti dulu. Harapan yang serupa es batu itu sudah mencair di tanganku sendiri. Sensasi sengatannya yang panas–kontradiktif–masih terasa, dan aku belum melihat keperluan untuk kembali membuktikan ketangguhan diri dengan mengambil sebongkah es baru dari lemari pendingin di liang hati. Semacam lelah.

Tidak apa. Aku hidup dengan cukup selimut dan makanan kecil. Juga, baru-baru ini, Inotia. Jadi tidak masalah.

Satu keinginanku (yang bisa juga kita namakan ‘keinginan terakhir’) adalah melihat apa yang kamu lihat. Menghirup apa yang kamu hirup. Merasakan sejumput waktu tentang hari-hari perjalananmu yang sudah berbulan.

Dan tanpa tendensi apapun.

Pernyataan itu boleh jadi dipertanyakan. Tapi ketahuilah, null hypothesis itu belum berhasil ditolak. Sungguh, segala sampel tindakanku sejauh ini tidak cukup signifikan dan melebihi batas.

Kembali pada keinginanku. Aku, kurang lebih, baru saja mencapainya. Tentu saja kamu tidak tahu. Memang tidak perlu. Dan dengan sedikit kesedihan yang aku harap masih dalam kadar manusiawi yang bisa dimaklumi, kukatakan bahwa hal ini tidak lagi sempat menyentuh harapmu bahkan dalam dunia basa-basi. Oh tapi tidak apa. Di titik ini aku semakin merasa bahwa urusannya hanya antara aku dan aku-dulu.

Yasudah. Untuk pencapaian mini yang tidak gampang terealisasi ini.. alhamdulillah.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s