Aksi, Emosi

Bayangkan kamu sedang berjalan-jalan santai di taman. Sore hari, udaranya sejuk, damai sekali. Sempurna. Tapi tiba-tiba saja ada krusak-krusuk dari balik pepohonan. Kamu mendekat untuk mencari tahu ada apa di sana, dan tiba-tiba keluarlah seekor singa! Dia mengaum, memamerkan taringnya, dan mendekat ke arahmu.

Dalam situasi ini biasanya orang akan lari ketakutan.

Nah aku ingin sedikit membahas perihal itu.

Umumnya kita menganggap bahwa jika melihat singa kita akan lari karena kita takut. Jadi prosesnya begini…

lihat singa –> takut –> lari

Ternyata ada yang nggak sependapat dengan urutan itu. Adalah William James dan Carl Lange yang kemudian berkata bahwa proses yang benar itu begini…

lihat singa –> lari –> takut

Katanya, saat kita melihat singa kita tidak langsung merasa takut. Pikiran kita bekerja dan memberitahu bahwa singa adalah hal yang berbahaya, maka kita seharusnya berlari. Pada bagian ini kita belum merasakan emosi apapun, kita hanya merasionalisasi keadaan. Kemudian kita berlari, bersamaan dengan itu detak jantung dan produksi keringat meningkat. Emosi, dalam hal ini rasa takut, justru adalah hasil dari reaksi-reaksi fisiologis tersebut.

Jadi, aksi dulu baru emosi.

James-Lange Theory itu memang sudah jadul sekali. Beberapa ilmuwan lain sudah mengeluarkan teori yang menentangnya. Tapi aku pikir teori ini cukup berguna.

Ketika aku tergeletak di kasur, sudah bergulung berjam-jam dan masih juga merasa not in the mood untuk melakukan apapun, teorinya James dan Lange inilah yang bisa jadi gaya penentang gravitasi. Yuk bangun, mandi, beres-beres, selesaikan apa yang perlu diselesaikan. Karena aksi dulu baru emosi. Tarik dulu kedua ujung bibir ke atas, rasa bahagia akan datang kemudian. Kerjakan dulu tugas-tugas, rasa bersemangat dan produktif akan muncul mengiringi deh.

Aksi dulu baru emosi!

Dulu, di awal masa kelas 3 SMA, aku nggak begitu yakin akan melanjutkan kuliah kemana. Kalau ditanya orang aku akan jawab, “Belum tahu,” karena memang belum merasa seyakin itu. Kan aku memang nggak punya banyak pengetahuan tentang seperti apa setiap jurusan itu, apa yang akan dipelajari di sana, dan apa plus-minus-nya.

Tapi suatu malam, saat buka bersama generasi, ada seorang kakak-gen yang bertanya soal pilihan jurusan ini dengan sedikit mendesak-desak. Jadi aku jawab dengan terpaksa, “Psikologi UI mungkin.. tapi belum tahu.” Mendengar jawaban jelek itu, dia bilang seperti ini, “Nah gitu. Bilang aja. Yakin aja. Nanti yang dengar kan ikut mendoakan.”

Sejak saat itulah aku mencoba menjawab dengan pasti kalau ditanya. Lalu lama-lama bukan hanya orang yang bertanya, kertas LJK try-out pun ikut menuntutku untuk mengisi kode pilihan jurusan. Aku rasa, baru setelah itulah aku merasa benar-benar yakin ingin masuk ke Psikologi UI. Aku mengatakannya dulu, baru aku merasa yakin.

Teori ini mungkin nggak bisa dipakai di segala kondisi, tapi bagi seorang yang ‘lembam’ banget sepertiku ini aksi dulu baru emosi bisa banget jadi slogan penyeimbang hidup.

Lebih lanjut soal James-Lange Theory:
http://psychology.about.com/od/jindex/g/jameslange.htm

berbagai teori tentang emosi:
http://psychology.about.com/od/psychologytopics/a/theories-of-emotion.htm

coba juga deh cari-cari penelitian tentang ekspresi wajah yang memengaruhi emosi.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s