Merakit Makna

dari potongan maksud dan kata yang sampai ke tanganku.

Konon katanya, merakit makna adalah pekerjaan yang cukup riskan. Kalau tidak ahli, kalau tidak punya cukup material yang kokoh, jangan coba-coba! Karena risikonya adalah karam di tengah perjalanan.

Tapi pikiran–dan mungkin juga hati–memang punya tendensi untuk berlayar. Bahkan kalau bisa melayang terbang. Sebab selalu ada titik jauh di depan mata yang ingin dia tuju.

Aku tuju.

Merakit makna butuh imajinasi dalam porsi yang cukup. Jika tidak, visi tentang rakit itu tak mungkin bakal ada. Dan jika terlalu banyak, rakit itu tak bakal jadi nyata. Karena imajinasi biasanya suka berpetualang kemana-mana, berjalan-jalan jauh, bahkan berlarian tantrum.

Aku belajar melalui petunjukmu untuk mengumpulkan potongan materi fakta, menyusunnya sedemikian rupa agar bisa kutarik simpul di antara mereka, menjadi sebuah rakitan makna. Aku mengejar ketertinggalan dari mu dan mu melalui rumah-rumah beraneka warna, pemilik, dan hewan peliharaannya. Melalui atase pemerintahan dan duta besar yang tak ingin sekadar duduk santai bersama. Melalui tumpukan pancake yang siap dibalik.

Melalui negeri para pembohong, sambil mendeteksi kebohongannya.

Sebab ketika ada satu yang berbohong, selalu ada potongan fakta yang muncul melengkapi puzzle.

Simpul-simpul ini siap kutarik. Tapi mengapa bayang hitammu–yang terlalu pekat untuk jenis orang semacammu–ikut terikat juga?

Aku merasa sedang menjadi perakit makna yang tidak sopan.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Merakit Makna”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s