Pekerjaan Tidak Berguna

Suatu pagi, setelah selesai belajar bersama teman-teman dari Mbak Alin, ia mulai bercerita sedikit tentang keluarganya. Lalu tentang anaknya. Kalau nggak salah namanya Zulfan. Aku lupa usianya berapa, yang jelas bagiku masih kecil. Dia suka sekali main bola. Kata Mbak Alin dia bahkan mulai bercita-cita mau jadi pemain bola sungguhan. Dengan kata lain, atlet sepak bola.

Kalau aku jadi ibunya, sepertinya aku tidak akan suka dengan ide itu. Jujur saja, bagiku pemain bola itu salah satu jenis pekerjaan yang tidak berguna. Coba bandingkan dengan pekerjaan lain yang lebih konkret wujud gunanya.

Seorang guru, misalnya, sangat berjasa dalam membukakan wawasan anak didiknya. Menjadi fasilitator, penunjang ilmu pengetahuan. Memberikan semangat dukungan bagi orang lain. Secara tidak langsung bahkan bisa membentuk karakter!

Yang lebih keren ada lagi: dokter. Dia meringankan sakit yang diderita orang. Menjadi penenang di saat kita kebingungan tentang badan sendiri. Menyelamatkan nyawa manusia!

Atau jenis pekerjaan yang selalu kudambakan: tukang bangun jembatan. Berkat jembatan yang terbangun itulah orang bisa lebih mudah bepergian, bisa mencicip udara pulau luar. Memudahkan akses segala macam.

Tapi pemain bola? Berlatih sekuat tenaga biar bisa… memasukkan bola ke gawang lawan. Biar bisa men-dribble bola dengan baik. Biar bisa menangkap bola sebelum menjebol gawang.

Lalu kalaupun menang kenapa?

Padahal ‘lawan’ yang tadi mau dikalahkan pun bukan lawan sesungguhnya. Tidak jarang dalam pertandingan malah jatuh, cedera, atau jadi musuhan sama pemain tim lawan. Memang sih sering dapat banyak tepuk tangan. Tapi semua itu semu.

Apa coba kebermanfaatan yang bisa diberi?

Hmm.

Pikiran pendekku mungkin bilang begitu. Tapi ternyata ada juga kebaikan yang bisa dilakukan oleh atlet sepak bola, walaupun tidak secara langsung. Misalnya mereka yang sukses, lalu punya uang banyak, lalu rajin beramal buat anak-anak kurang mampu sedunia. Atau mereka nggak ngapa-ngapain, tapi kisah perjuangan-tanpa-kenal-menyerahnya bisa menyemangati orang-orang dari beragam latar belakang.

Begitu ya.

Ketika aku ingat tentang ‘kebermanfaatan tersembunyi’ ini, aku pikir… jadi apa saja, dimana saja, tidak masalah. Jadi yang aku suka saja, tidak apa-apa. Kadang terasa susah sekali kalau perencanaan tentang masa depan harus sudah terhubung dengan rencana kebermanfaatan yang akan dilakukan. Kalau aku terus berusaha untuk menjadi orang yang baik dan berguna, pasti akan ada suatu cara. Pasti.

Dan akhirnya, kalaupun aku tidak memberi pengaruh baik yang segitunya kepada dunia, kalau kata Bima..

Bahkan secuil daging sisa makanan hiu itu berguna bagi hewan di laut dalam.

Pasti ada gunanya, walaupun tidak selalu terlihat jelas bagi mata kita.

Mungkin begitu. Mungkin.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Pekerjaan Tidak Berguna”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s