Pohon, Matahari, Mogri Forest

“Jadi intinya, punya kemampuan untuk bisa membahagiakan diri sendiri tanpa harus menghadirkan orang lain itu penting, sangaaat penting.” (Chadavi, 2013)

Sebagai makhluk sosial manusia selalu butuh berinteraksi dengan orang lain (ini kalimat pembuka klise banget ngga seeh). Karena kecenderungan berinteraksi ini, menurutku berbahagia tanpa orang lain adalah hal yang cukup susah. Tapi aku tetap setuju dengan pendapat Davi di atas. Kita harus coba mengeksplorasi hal-hal yang bisa membahagiakan diri sendiri tanpa harus menghadirkan orang lain.

Nah, salah satu hal yang kuketahui bisa membahagiakan diriku adalah ini: kombinasi pohon dan matahari. Dan mungkin juga, hubungannya dengan ingatan tentang Mogri Forest.

Ada sebuah ruas jalan pendek di kawasan industri Rungkut (SIER) dengan deretan pohon tinggi di kanan kiri. Kadang mereka menggugurkan daun-daunnya dan membuat ruas jalan itu seolah sedang diterpa musim gugur. Di waktu lain mereka  menggugurkan bunga-bunga kecil berwarna kuning. Setiap pergi ke Surabaya dari rumah (yang mana sangat sering sekali kulakukan) aku selalu melewati ruas jalan ini. Dan entah bagaimana pohon-pohon itu di pagi hari, dengan kombinasi sinar matahari yang masih hangat, terlihat bagus sekali.

Ada ruas jalan yang lain: Jalan Kendangsari. Di jalur hijaunya ada deretan pohon juga, tapi aku belum pernah melihatnya bergugur ataupun berbunga. Jalan Kendangsari punya ‘fitur’nya sendiri. Karena jalan ini lebih panjang daripada ruas jalan yang di SIER, dan karena jalannya yang nggak lurus-rus melainkan agak meliuk, setiap melewatinya aku jadi teringat Mogri Forest, sebuah track dalam Chocobo Racing. Menurutku kedua track itu mirip! Kalau sedang naik motor sendiri melewati Kendangsari aku jadi merasa sebagai Chocobo. Musik latar khas Mogri Forest pun langsung bermain di kepalaku :))

Begitulah. Hal-hal membahagiakan ini tidak bergantung pada orang lain, tapi bergantung pada pohon eh. Makanya aku sangat berharap semoga selama hidup masih bisa menemui banyak pohon di mana-mana. Biar bisa bahagia sedikit lah :)

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

8 thoughts on “Pohon, Matahari, Mogri Forest”

    1. Aku skeptis sama pernyataan “Sebagai makhluk sosial manusia selalu butuh berinteraksi dengan orang lain”. Tidak ada bukti yang menjamin pernyataan itu. Faktanya, ada beberapa manusia ‘unik’ yang lebih suka untuk hidup terisolasi dari yang lain. Such people are called ‘hermits’.

      Ya, cara mendapatkan kebahagiaan yang tidak melibatkan ‘manusia’ sebagai mediumnya, menurutku penting. Dan kamu termasuk orang yang beruntung karena telah mengetahui caranya. Mencari cara seperti ini bukanlah hal yang mudah, perlu eksplorasi, dan keberuntungan.

      Like

      1. Well, ada beberapa penelitian sih soal manusia yang butuh berinteraksi dengan orang lain. Misalnya King (2011) menyebutkan dalam bukunya “Individuals who participate in more social networks live longer than those with a narrower range of social relationships (Vogt & others, 1992).” Ya tentu saja pasti ada outliers dalam segala macam hal, termasuk interaksi sosial ini. Intinya, secara general manusia punya karakteristik begitu.

        Untung di kampus banyak pohon. Aku selalu senang melihat pohon besar di FH yang bergoyang kena angin. Cuma sayang di Margonda ga ada D:

        Like

  1. baru bacaa tulisanmu ini fin hahaha..
    gegara ngepoin blog orang2..dan sampai pada postingan ini..
    beruntung ada yg setuju dgn pendapat bahwa ga harus ada orang lain buat menjadi seorang yg bahagia~

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s