Aku dan Kasur: Hubungan yang Halal

“Kenapa kamu nggak menyelesaikan urusanmu segera, mandi, salat; supaya kamu bisa segera tidur, menikmati hubungan yang halal dengan kasur.”

Malam itu aku menginap di rumah Hana. Sekarang dia punya kasur yang besar, nggak kayak di asrama dulu. Sudah begitu kasurnya mengundang sekali, ditambah selimut yang kalau pagi bisa jadi musuh dalam selimut, membuat orang tergoda untuk bolos kuliah.

Sepertinya aku bakal terus mengingat-ingat cara pandang ini. Iya, kalau kita cinta sama kasur ya harus membuat hubungan itu jadi halal, harus dipersiapkan dengan matang. Masa baru sampai kamar, mentang-mentang capek, ujug-ujug langsung minta dipeluk kasur?

Nggak boleh, belum halal itu.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

7 thoughts on “Aku dan Kasur: Hubungan yang Halal”

      1. sering saya lakukan mbiyen hehe. pengen nyari cara ben gak rujuk bari pisah tekan kasur pas subuh

        Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s