Tawa

Hari ini, di halte, aku mendengar tawamu.

Tentu tidak perlu menoleh. Mulut yang menyuarakan tawa itu tidak mungkin milikmu. Aku cukup hafal dengan fakta bahwa kamu tidak di sini.

Tawa itu juga bukan dari kepalaku, aku yakin. Aku mungkin sering berbicara, menggumam, dan menggeleng sendiri, tapi aku tidak pernah ‘mendengar suara-suara’. Tidak pernah.

Tawa itu berasal dari seseorang di belakangku.

Nah. Ia tertawa lagi.

Walaupun tidak begitu sering bertemu denganmu, tawa itu… aku selalu mencoba mengamatinya baik-baik–selalu tahu bahwa aku tidak bisa mendengarnya setiap hari.

Eh aku jadi khawatir. Bagaimana kabarmu di sana? Berbahagia kah? Aku khawatir kalau tawamu hilang.. atau dicuri orang.. lalu dijual di pasar gelap kepada orang di belakangku ini.

Yah.

Semoga segenap dirimu masih baik dan lengkap. Tetaplah sehat, selamat, dan semangat.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s