Rangkuman Rasa 28-29 Mei 2013

Malam. Fakultas Hukum.

Pedagang, mahasiswa, dan beberapa orang lainnya berkumpul untuk merundingkan teknis di Stasiun UI esok hari. Aku yang baru datang duduk mendekati Andina, Nisa, dan Mbak Erita yang sudah terlebih dahulu berada dalam forum itu. Setelah beberapa lama, Mbak Er menunjuk seorang ibu di kiri kami. “Sengaja dress up lho dia.”

Ibu tua itu duduk terbungkuk dengan kaki berselonjor ke depan. Bajunya mungkin tidak sebagus baju-baju gemerlap yang kita pakai ke pesta-pesta, tapi kalau memperhatikan dengan jeli tampaklah bahwa yang dikenakannya bukan baju sehari-hari. Ketika ia menoleh baru kulihat bibirnya merah tersapu lipstik. Ketika ia menggerakkan tangan tampak gelang-gelang di sana. Dia sengaja berdandan untuk menghadiri pertemuan dengan para mahasiswa. Sungguh begitu kah?

Postur dan cara duduknya mengingatkanku pada ibu-ibu tua di lingkungan pergaulan eyangku. Aku merasakan sedikit aroma Bagong* pada momen itu, ketika aku memperhatikan sang ibu tua. Aku tidak yakin bisa menjelaskannya padamu. Yang jelas begini, bahwa seorang ibu tua bother to dress up untuk menghadiri rapat bersama mahasiswa ini membuatku merasa.. merinding. Haru.

Pagi. Stasiun UI.

Baru saja terdengar pecah suara keributan dari dalam peron. Kak Maul dan beberapa orang menggiring seorang ibu yang terguncang. Ia kami arahkan ke pos satpam UI di seberang stasiun. Berteriak. Meronta. Menangis. Setiap reaksi darinya membuat sesuatu dalam diriku tergetar getir, tidak nyaman.  “Sakit.. Sakitnya!” Ia mengucap terbata, disela nafas yang pendek-pendek dihelanya, berlanjut teriakan histeris, “Sakitnya jadi orang kecil!”

Uh.

Kalimat itu terasa amat pamungkas menyerang kenyamanan-diriku. Pikiranku yang sok objektif dan liar sempat mampir pada rasa penasaran, apakah untaian kalimat itu telah disusun dalam perencanaan matang sedemikian rupa untuk memantik rasa iba? Ih pikiran yang jahat ya.

Sementara itu di teras stasiun massa aksi berkumpul. Bola-bola mata berkaca-air, tangan-tangan sigap menyekanya. Orasi. Sambut-sambutan dengan suara kecil yang coba menyembunyikan ketakutan.  Sebagai latar belakang adalah suara yang amat seru dari dalam stasiun. Suara kehancuran. Dalam situasi seperti itu sang pemegang komando mengajak massa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Aku bergidik, antara merinding, merasa lucu, dan jijik. Seperti biasa aku menolak ikut menyanyikannya. Indonesia Raya pagi itu adalah Indonesia Raya yang terdengar paling bohong selama hidupku. Menakjubkan sekali orang-orang di depanku ini masih sudi menyanyikannya dengan khidmat.

Petang. Stasiun UI’.

Puing-puing berserakan. Stasiun UI berubah menjadi Stasiun UI aksen, tidak cocok dengan schema dalam kognisi. Tapi disequillibrium ini akan dengan cepat teratasi. Segera, kita akan menyesuaikan diri dengan tiadanya tembok dan atap yang dulu sangat akrab. Aku berjalan melewati jalur yang sudah berkali-kali kulewati. Tapi kali ini berbeda.. rasanya seolah ditelanjangi..

Lalu besok.. besok.. apa yang akan terjadi di sini?

Malam. Kamar Nyaman.

Serangkai perasaan aneh sepertinya mulai menguasaiku. Gamang. Datar. Bingung. Apakah karena penggusuran? Apakah karena esai perilaku ekonomi yang sangat berantakan? Apakah karena malas menghadapi ujian P3 besok? Apakah karena kurang tidur saja? Entahlah. Entahlah.

Menjadi lemah dan teraniaya tidak lantas menjadikan kita sebagai pihak yang benar, tentu saja. Tapi kita adalah manusia dengan rasa. Membiarkan diri kita tersentuh rasa-rasa yang menguar dari yang lemah dan teraniaya, menurutku, akan membuat kita menjadi sesuatu yang lebih kaya. Walau begitu hari ini aku takut sekali membiarkan diri terlarut dan terhanyut dalam setiap rasa itu. Aku takut bersedih, aku takut menangis. Aku takut barang setitik air di mataku mengandung konformitas dan hipokrisi.

Begitulah. Entahlah.

Catatan ini kututup dengan kesadaran bahwa di masa depan hari ini barangkali akan kulupakan.

*Bagong adalah sebuah area perkampungan dekat rel kereta api di daerah Ngagel, Surabaya. Di sana adalah rumah eyangku. Aku juga merasakannya sebagai ‘rumah’ yang kurindukan. 

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Rangkuman Rasa 28-29 Mei 2013”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s