Kami yang Kehilangan

Pagi ini aku berangkat ke kampus melalui rute biasa: menyeberangi Margonda, menyeberangi rel kereta, dan.. sebelum dilanjutkan dengan menyeberangi jalan di depan Fakultas Hukum, aku melihat seorang teman berdiri sendiri di pinggir jalan.

“Ogi!”

Yang dipanggil mengenali suaraku dan balas menyapa, “Afina!”

Nama lengkapnya Hendi Hogia, akrab dipanggil Ogi. Dia adalah teman seangkatanku di Fakultas Psikologi. Kutanya, sedang apa dia berdiri di pinggir jalan. Ternyata dia sedang menunggu seseorang yang bisa membantunya menyeberang. Ternyata lagi, tongkatnya baru saja hilang.

Oh iya, temanku ini tuna netra.

Jadi kami bersama-sama menyeberang, lalu menyusuri jalan sampai ke Fakultas Psikologi. Tidak sepertiku yang hampir-tanpa tujuan, Ogi ke kampus karena ada kuliah. Pada saat itu ia sudah terlambat 30 menit dari jadwal (walaupun itu tidak masalah karena dosen kelasnya adalah Mas A*** yang biasa datang lebih terlambat lagi).

Aku jadi kepikiran saja, berapa lama ya Ogi sudah menunggu? Bagaimana ya rasanya? Apakah dia se-percaya-itu bahwa akan ada orang yang menolong?

Aku dan Ogi sama-sama baru saja kehilangan sesuatu. Dan bersama dengan itu, saat ini ada banyak orang lain yang juga kehilangan berbagai macam hal penting bagi diri masing-masing. Semoga kami dapat belajar dengan baik dan bersabar tanpa batas.

Kamu yang sedang membaca ini, boleh lah turut doakan yang baik-baik bagi kami :). Terima kasih.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s