Walden Two, Sebuah Praktik Behavioral Engineering

Sudah munculkah di jangkau-pandangmu baliho-baliho berukuran jumbo yang memuat wajah-wajah penuh senyum, dibubuhi kata-kata hebat dan gelar-gelar kebesaran?

Wuhu, ‘tahun politik’ mulai terasa ya. :D

Aku sedang dalam proses membaca Walden Two, sebuah fiksi karya B. F. Skinner (iya, Skinner yang psikolog behavioris itu). Kebetulan di dalam buku ini aku menemukan kutipan-kutipan menarik berkaitan dengan politik.

An important theme in Walden Two is that political action is to be avoided. Historians have stopped writing about wars and conquering heroes and empires, and what they have turned to instead, though far less dramatic, is far more important. The great cultural revolutions have not started with politics. The great men who are said to have made a difference in human affairs–Confucius, Buddha, Jesus, the scholars and scientists of the Revival of Learning, the leaders of the Enlightenment, Marx–were not political leaders. They did not change history by running for office. We need not aspire to their eminence in order to profit from their example. What is needed is not a new political leader or a new kind of government but further knowledge about human behavior and new ways of applying that knowledge to the design of cultural practices.

Kutipan di atas diambil dari “Walden Two Revisited,” sebuah prakata yang disusun Skinner 28 tahun setelah karyanya diterbitkan.

Pada dasarnya buku ini ingin menjawab pertanyaan: kehidupan yang baik itu bagaimana sih? Nah agaknya menurut Skinner kehidupan yang baik tidak bisa dicapai melalui jalan perpolitikan. Jalan yang tepat menuju kehidupan yang baik itu psikologi. Eh, tepatnya behavioral engineering.

Walden Two adalah nama sebuah komunitas fiktif yang dibentuk seseorang bernama Frazier dengan banyak konsep behavioris; perilaku manusia-manusia di dalamnya dibentuk hingga mencapai idealitas.

“I used to think you were sort of immoral–in a civic sense, I mean. But I can see your point now, and so does Steve. Politics really wouldn’t give us the chance we want. You see, we want to do something–we want to find out what’s the matter with people, why they can’t live together without fighting all the time. We want to find out what people really want, what they need in order to be happy, and how they can get it without stealing it from somebody else. You can’t do that in politics. You can’t try something, first one way and then another, like an experiment. The politicians guess at all the answers and spend their time persuading people they’re right–but they must know they’re only guessing, that they haven’t really proved anything.” 

(Rogers, dalam Walden Two)

Aku memang belum selesai membacanya. Sejauh ini bukunya terasa sangat menarik dan mengalir luwes. Yang lebih menarik lagi beberapa komunitas kemudian dibuat beneran di kehidupan nyata dengan konsep-konsep yang dipakai dalam Walden Two. Salah satunya komunitas Twin Oaks di Virginia.

“Political action was of no use in building a better world, and men of good will had better turn to other measures as soon as possible. Any group of people could secure economic self-sufficiency with the help of modern technology, and the psychological problems of group living could be solved with available principles of behavioral engineering.”

Bagi kalian yang ingin membawa perbaikan pada dunia, entah dengan jalan politik atau jalan psikologi, aku sarankan membaca buku ini.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

3 thoughts on “Walden Two, Sebuah Praktik Behavioral Engineering”

    1. Halo Man, lama tak berjumpa.
      Soal mengubah dunia lewat behavioral engineering? Aku setuju bahwa itu bisa dilakukan, dan sepatutnya dimaksimalkan. Kalau ngomongin secara makro, kebijakan publik seharusnya disusun dengan dasar kajian psikologis. Misal, jembatan penyeberangannya sudah mahal-mahal dibangun tapi tidak ada orang yang mau pakai. Percuma. Sasaran kebijakan publik itu bagaimanapun juga tetap manusianya.
      Hanya saja kita juga perlu menjawab masalah etis nantinya. Seperti, apakah etis untuk ‘mendorong’ orang melakukan hal-hal yang ‘baik’? Apa tidak seharusnya orang diberi kebebasan untuk memilih jadi ‘jahat’ maupun ‘baik’? Sejauh apa kita boleh mendorong orang? Semacam itu mungkin. Eh, pernah baca Nudge?
      Soal politik yang tidak berguna, hmm entahlah. Untuk menjalankan behavioral engineering secara makro tampaknya perlu rezim politik yang mendukungnya juga.

      Like

      1. Sepakat banget! Ini sering dibahas di himpunan sini, walaupun dalam skala yang sangat kecil ya, tapi prinsipnya sama persis.

        Ah, menurutku untuk masalah “mendorong orang melakukan hal-hal baik”, agaknya terlalu berlebihan untuk dianggap kurang etis. Walaupun, memang, kita sama-sama tahu bahwa kebaikan adalah hal yang subjektif dan sangat bergantung pada konteks. Kita berdasar pada kebaikan yang universal saja, seperti, misalnya semakin kaya seseorang maka seseorang tsb akan semakin sejahtera, it seems quite reasonable and “good”, don’t you think? Masyarakat kita dorong untuk hal-hal semacam ini.

        Akhir-akhir ini aku sedang mencoba untuk kembali kepada “sumber”, fin, bahwa formalisasi agama (Islam) dalam bentuk pemerintahan politik sepertinya merupakan jawaban terbaik dibandingkan dengan bentuk-bentuk bebas yang lain (tentunya bukan dalam bentuk khilafah yang akhir-akhir ini sedang populer ya, hahaha). Kalau demikian, permasalah etis nggak etis nggak usah kita pikirkan karena percaya saja sama versi Yang Maha Kuasa (terkesan agak dogmatis ya..), walaupun ujung-ujungnya mungkin berantem tentang ijtihad mana yang kita ambil. Tapi yah setidaknya nggak buta-buta amat.

        Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s