Aku Akan Mati Muda [2]

baca cerita sebelumnya: Aku Akan Mati Muda [1]

..Pada akhirnya ia sungguh tampak seperti orang biasa.

Bertahun-tahun lewat dan kami tidak lagi berinteraksi. Aku kembali ke kota kelahiranku dan menjalankan bisnis kecil di sana. Mengenai kawanku ini, terakhir kali ada desas-desus di grup WhatsApp angkatan kami yang mengatakan bahwa ia pergi ke Jepang (aku memperkirakan kemungkinan kecelakaan pesawat saat mendengarnya). Di kali lain tersiar kabar angin bahwa ia meluncurkan sebuah buku masak (aku memperkirakan kemungkinan keracunan bahan-bahan kadaluarsa, kejatuhan pisau besar, dan semacamnya). Di tengah kesibukanku membangun jaringan bisnis tidak pernah ada kesempatan untuk benar-benar mengecek keabsahan berita-berita tersebut. Walau begitu aku masih dilingkupi perasaan misterius yang menegangkan. Bayangan karton hijau sederhana beserta ekspresi lugunya saat mengatakan ingin mati muda masih terus kuingat. Entah mengapa aku memiliki keyakinan penuh bahwa kawanku akan benar-benar meraih impiannya.. dengan suatu cara yang tidak umum.

Keyakinanku tidak pernah pudar bahkan hingga saat ini, ketika usiaku telah mencapai enam puluh tahun. Karena usiaku sudah setua ini, maka aku rasa kawanku ini pasti sudah mati walaupun kabarnya tak pernah menyentuh daun telingaku. Di waktu-waktu senggang aku terkadang masih memikirkan beberapa kemungkinan tentang bagaimana ia akhirnya menghadapi kematian. Kuperkirakan usianya saat itu sekitar dua puluh sembilan tahun. Entah mengapa angka itu, aku hanya merasa dua puluh sembilan adalah angka yang cocok untuknya.

Pagi ini terasa damai ketika aku membaca sebuah novel lawas di bangku taman sambil sesekali mengangkat kepala untuk mengawasi cucu-cucuku yang sedang bermain (mereka memang agak brutal dan membutuhkan pengawasan ketat). Pikrianku bertamasya mengenang sosok kawanku, membayangkan pemakamannya yang tidak pernah kuhadiri. Apakah ia mati dengan senyuman? Apakah jenazahnya menguarkan aroma wangi? Kata orang-orang begitulah ciri-ciri orang baik kan?

Kulirik ke tempat bocah-bocah liar tadi bermain. Tampaknya seorang lelaki terjebak di dalam permainan aneh mereka (ah, lelaki yang malang). Tapi lelaki yang sudah cukup berumur itu kelihatannya malah menikmati permainan cucu-cucuku. Ia tertawa lebar, ikut melompat, dan berlari-lari kecil lincah. Beberapa saat kemudian mereka tampak kelelahan, lalu menghentikan permainan dan berjalan ke arahku. Demi menyambut lelaki tadi aku bangkit dan menyiapkan beberapa permohonan maaf basa-basi. Namun sebelum sempat mengucapkannya, lelaki itu membuka lengannya dan memelukku singkat. Wajahnya cerah saat ia menepuk-nepuk pundak sambil menyebutkan namaku, “Fajri!”

Ia mengenalku?

“Kamu tidak mengenaliku?”

Lalu ia terdiam, menatap saksama ke kedalaman mataku, seolah memberi kesempatan bagiku untuk mencetak skor sempurna dalam menebak jati dirinya. Setelah beberapa detik barulah tampak jelas dalam penglihatanku.. lelaki ini adalah kawanku yang dulu itu!

“Ardi!”

Aku menepuk-nepuk pundaknya dengan antusias. Ia ikut-ikutan menepuk pundakku. Hasilnya adalah serangkaian gerakan aneh di antara kami berdua. Cucu-cucuku memperhatikan kami dengan tatapan geli.

Tanpa mampu menahan diri aku kontan berkata, “Masih hidup juga kamu, Di! Bukankah dulu mau mati muda?”

“Ahahahaha.. begitulah. Ya mau bagaimana lagi.”

Kami menghentikan tepuk-tepukan kami dan menenangkan diri. Aku kembali duduk di bangku taman dan dengan satu gerakan tangan mengundang Ardi duduk di sebelahku.

“Tapi aku masih selalu mengharapkannya, Jri,” ucap Ardi sambil menyamankan posisi duduknya.

“Apa? Mati muda?”

Ia tersenyum. Lalu menoleh ke arahku seolah memberikan afirmasi. Dipalingkannya lagi kepalanya ke arah cucu-cucuku yang sudah kembali asyik bermain gulat. Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya bicara, “Iya, tentu saja. Belum terlambat untuk itu.”

“Kamu kan sudah tua, Di,” kataku, setengah bercanda.

“Ooh, tidak, tidak. Kamulah yang tua!” balasnya sambil tergelak. “Orang yang cuma duduk menonton permainan orang lain, itulah yang tua sekali. Ya kamu itu, Jri! Bukan aku. Hahahaha!”

Aku terkaget mendengar jawabannya. Ide mengenai ‘tua’ yang seperti itu tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Agaknya ekspresi wajahku begitu aneh hingga Ardi tergerak untuk memberi penjelasan lebih lanjut, “Tua dan mudanya seseorang tidak hanya dinilai dari berapa lama ia hidup. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menjalani hidupnya.”

Aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil diam-diam mengagumi kebijakan kawanku. Sambil menahan malu juga. Sebab rasanya amat pendek, amat kaku pikiranku selama ini. Ah betapa aku sudah sejak lama menjadi seorang tua!

“Jadi itu yang dulu kamu maksud dengan mati muda Di? Setua apapun angka usiamu kamu tetap mau mati sebagai orang berjiwa muda?”

Pertanyaanku yang bernada serius membuat Ardi tertawa. “Tidak juga sih, tidak juga,” katanya sambil mengatur nafas. Kemudian ia menjelaskan padaku bahwa dulunya ia sungguh-sungguh ingin mati dalam usia yang muda.

-akan disambung lagi-

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Aku Akan Mati Muda [2]”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s