Aku Akan Mati Muda [3]

baca cerita sebelumnya: Aku Akan Mati Muda [1]
Aku Akan Mati Muda [2]

“Tidak juga sih, tidak juga,” katanya sambil mengatur nafas. Kemudian ia menjelaskan padaku bahwa dulunya ia sungguh-sungguh ingin mati dalam usia yang muda.

“Aku rasa aku akan bosan kalau hidup lama-lama Jri. Sudah begitu dosaku akan tambah banyak juga haha. Kutargetkan hidupku tidak lebih dari tiga puluh tahun.”

Hampir pas seperti dugaanku! Memang angka yang cocok untuknya.

“Nah sudah tentu sebelum mati aku ingin merasakan berbagai pengalaman hidup. Jadi aku menikah dengan seorang perempuan berhati lembut.”

“Wah ada juga Di yang mau menikah dengan orang sepertimu?”

Kami tertawa-tawa sejenak. Lalu Ardi melanjutkan ceritanya. Katanya, suatu hari istrinya yang berhati lembut itu menemukan buku catatan rencana hidupnya. Maka sampailah sang istri pada halaman terakhir yang memuat rencana mati muda Ardi. Begitu selesai membaca hal itu istrinya langsung menangis tersedu-sedu. Agaknya pernikahan mereka berdua amat membahagiakan hingga sekadar membayangkan perpisahan dengan Ardi sanggup membuat perempuan itu sesenggukan.

“Ia menangis hebat sekali Jri! Sampai kehabisan nafas! Aku rasa kalau saat itu tidak cepat-cepat kutenangkan ia benar-benar bisa mati dirundung kesedihan.”

Dalam situasi yang genting seperti itu, kata Ardi, akalnya tidak tinggal diam. Akhirnya ia jelaskan pelan-pelan pada istrinya bahwa mati muda yang ia maksud adalah mati dengan jiwa muda. Yah, intinya persis seperti yang ia sampaikan padaku barusan. Setelah mencerna baik-baik penjelasan itu barulah tangis istri Ardi mereda. Peristiwa itu diakhiri dengan deklarasi janji di antara Ardi dan istrinya bahwa mereka akan bersama-sama ‘mati muda’, dengan kata lain mereka akan selalu hidup dengan jiwa muda. Implikasinya, sang istri pun betul-betul mengusahakan pola hidup yang sehat, fisik maupun mental, di dalam rumah tangga itu.

“Memang melenceng dari rencana semula, tapi tidak apa-apa. Justru lebih baik,” katanya menutup cerita.

Kisah Ardi dan istrinya sebenarnya terdengar lucu bagiku, tapi aku menahan diri agar tidak tertawa lagi kali ini. Aku tidak mau Ardi menganggapku mengolok-olok istrinya. Dari sorot matanya ketika berceita dapat kulihat bahwa Ardi pun hidup selama ini dengan cinta yang besar terhadap perempuan-berhati-lembut itu. (Apa? Kalian ingin bilang bahwa aku sudah tua dan mataku sudah rabun dan aku tidak mungkin dapat melihat cinta hanya dari sorot mata seseorang? Sudahlah! Ini akan membuat ceritanya terkesan lebih manis kan!?)

Berbagai hal dalam kehidupan ini mungkin sudah kita gambarkan blueprint-nya dalam garis-garis perencanaan sempurna. Namun yang terjadi sering kali melenceng dari gagasan semula. Mengecewakan? Sebenarnya garis-garis rencana yang kaku itu membelok dan melengkung, hingga ketika kita melihatnya lagi dalam pandangan lebih luas tampaklah pola yang indah.

Melihatku yang merenung dalam diam, Ardi berkata, “Sudah, ayo kita berdiri. Yang duduk-duduk dan mengobrol basa-basi seperti ini cuma orang tua, Jri! Ayo kita main bersama cucu-cucumu itu!”

Maka aku berdiri, dan mencoba memuda.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s