“Atas Nama Kemanusiaan!”


Duh.

Dalam memperjuangkan suatu urusan, apakah kita perlu mengadunya dengan urusan lain?

Jika kita sepaham bahwa hak asasi manusia adalah hal yang penting untuk diperjuangkan, untuk apa sih memandang rendah urusan HAM lain yang diperjuangkan orang lain?

Lalu ada yang begini..

tweet ulil

Hm. Sepemahamanku, setiap orang memang berempati dengan ‘selektif’. Lha setiap hari saja kita memang mencurahkan perhatian kita secara selektif kok. Coba bayangkan kalau kita tidak punya kemampuan seleksi itu. Penuh distraksi. Tidak akan ada yang benar-benar bisa kita kerjakan.

Seseorang pernah berkata padaku bahwa sebenarnya tidak ada yang dinamakan orang apatis. Hanya saja masing-masing punya prioritasnya masing-masing, punya muara kepeduliannya masing-masing. Kalaupun ada yang dinamakan orang apatis, maka sesungguhnya semua orang adalah apatis untuk urusan tertentu. Ada yang apatis terhadap persoalan pedagang stasiun, ada juga yang apatis terhadap perhelatan konser jazz di kampus.

Kita memilih perjuangan dengan keyakinan bahwa urusan yang kita bela memiliki derajat kepentingan yang tinggi. Orang lain pun begitu. Anehkah jika persepsi kepentingan yang kita miliki beragam?

Aih. Maaf ya. Hal semacam ini agaknya tidak seberapa perlu dibahas. Yang lebih banyak diperlukan dunia adalah tangan kita yang bekerja.

Bagaimana menurutmu, kawan? Luruskanlah aku jika menurutmu salah.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

7 thoughts on ““Atas Nama Kemanusiaan!””

  1. mungkin ada juga yang menganggap urusan membenarkan persepsi orang tentang apa yang penting untuk diurus itu memiliki derajat kepentingan yang tinggi

    Like

  2. Kadang rancu dalam mendefinisikan HAM. Akhirnya masing2 orang punya persepsi tentang HAM, dan menabrakkannya dengan persepsi orang lain. Perlu pelurusan dalam definisi HAM ini seperti apa sehingga HAM tidak dibawa-bawa ke ranah yang tidak perlu. How?

    Like

    1. Dalam kondisi yang sekarang, mungkin PBB-lah yang paling legit untuk mendefinisikan HAM. Dan aku rasa mereka sudah punya (yo masak ngga punya sih?).
      Lho tapi apa nggak ‘mendefinisikan HAM’ itu adalah hak asasi setiap orang juga? :) *mbulet*

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s