Pada Pangkal Dini Hari

Di sini lagi. Pada pangkal dini hari. Kita menyelami hening yang begitu ribut dalam kepala sendiri.

Ada waktu-waktu ketika malam sudah naik tinggi, bulan sudah penuh mengisi lubang yang ditinggalkan matahari. Keduanya mengancam sesiapa yang belum terlelap dengan konsekuensi bangun kesiangan di esok hari.

Tapi kita kan pemberani. Atau mungkin luput menilai diri. Kita tantang saja malam dan bulan itu dengan telunjuk.

Kamu, yang telah bertahun memperkuat diri dan bersemedi, mungkin mampu bertahan. Tapi aku sering kali kalah. Awalnya memang cuma berbaring, memandang bintang-bintang di atas. Tak lama setelahnya badanku terseret ke bawah. Tiba-tiba aku merasakan air. Bintang-bintang masih di atas. Air semakin tinggi. Mataku tetap tertuju pada langit.

Badanku tenggelam. Jatuh jauh ke kedalaman.

Kilau bintang-bintang tersamar, terbias air.

Cemerlangnya. Kerlipnya. Sekarang mereka ada di mana-mana. Seluruh lapang pandangku penuh oleh bintang. Eh ataukah itu kunang-kunang?

Apalah, bintang maupun kunang-kunang, atau buih maupun petir. Lalu aku apa? Aku manusia. Setelah sampai dasar lautan aku berubah jadi setengah bintang laut. Serupa Patrick. Tak berotak. Setengah kemanusiaanku menjaga diri dengan membungkusnya dalam pelukan tanah. Rendah. Lebih di bawahnya lagi. Lagi.

Dan nanti pagi, malam dan bulan akan kembali menghitung lembar-lembar keuntungan taruhannya di balik horison.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Pada Pangkal Dini Hari”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s