Rafilus oleh Budi Darma

Beberapa waktu lalu aku akhirnya selesai membaca Rafilus, sebuah novel fiksi oleh Budi Darma. Aku membeli buku ini di sebuah acara di FIB karena penasaran dengan Budi-Darma-nya. Gambar sampul Rafilus ini sebenarnya tidak terlalu menarik bagiku (khas buku-buku Jalasutra, hehe). Aku cuma pernah mendengar nama Budi Darma dari beberapa celetukan teman mengenai Olenka–yang sepertinya sangat menarik. Nah maka aku memutuskan untuk membeli buku ini.

Cerita dalam novel Rafilus dibuka dengan paragraf ini:

Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi. Padahal, semenjak bertemu dengan dia untuk pertama kali beberapa bulan lalu, saya mendapat kesan bahwa dia tidak akan mati. Andaikata tumbang, paling-paling dia hanya akan berkarat.

Dari sana penuturan berlanjut melalui sudut pandang Tiwar. Awalnya hanya deskripsi tentang Rafilus yang digambarkan sebagai manusia besi, lalu tentang Jumarup si orang kaya tidak sopan, selanjutnya tokoh-tokoh lain ikut diseret ke dalam cerita: Munandir si upas pos, Pawestri yang suka menulis surat panjang, Van der Klooning, Jaan van Kraal, Albatrip, dan Sinyo Minor. Kesemuanya dirangkum dalam latar kota Surabaya.

Rafilus jauh berbeda dari novel pada umumnya yang mempunyai satu jalan cerita jelas dan utuh dengan cabang-cabang pendek sebagai penyokong jalan utama. Cerita-cerita dalam novel Rafilus terasa seperti tersebar ke segala arah tanpa ada satu tujuan tertentu. Cabang-cabang yang menceritakan tokoh-tokoh pembantu bisa sangat panjang dan mendalam. Lalu ditinggalkan. Lalu, tetap dengan mulus, beralih ke cabang tokoh lain yang juga dideskripsikan panjang-panjang. Lalu ditinggalkan lagi.

Karena struktur yang seperti itu, sulit bagiku untuk menuliskan ringkasan cerita Rafilus dalam ulasan ini. Paragraf pertama di atas sebenarnya cukup memberikan gambaran. Cerita ini tentang Rafilus yang tampaknya tidak akan mati namun ternyata akhirnya mati juga. Tapi ringkasan yang seperti ini akan sangat mereduksi keseluruhan isi novelnya.

Walau cenderung abstrak, aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa novel Rafilus ini jelek. Pada bab-bab awal mungkin terasa seperti.. Ini maksudnya mau cerita apa sih? Tapi tidak lama kemudian aku jadi terbiasa dan menikmati alurnya. Aku jadi semacam sudah percaya saja pada Budi Darma dan berserah mau diajak jalan-jalan kemana lagi.

Penyebabnya adalah karena jalan-jalan cabang itu dituturkan dengan cara yang menarik. Surealis dan tegas. Sebagian besar cerita diisi dengan kelebatan pikiran tokoh-tokohnya yang dibuka lebar-lebar tanpa batasan etika. Kata-kata kasar seperti mampus dan goblog bertebaran (hal ini bagiku membuatnya makin terasa ‘Suroboyo banget’). Pokoknya tidak ada yang manis-manis-mengharukan dalam novel ini.

Walaupun satu per satu secara perlahan diseret ke dalam cerita, semua tokoh tetap terasa tegak berdiri sendiri. Tidak ada yang terlarut di dalam jalan kehidupan tokoh lain. Tidak ada yang terlebur dalam kehidupan Rafilus walaupun ia sebagai tokoh sentral dalam novel. Jika satu tokoh dicabut kelihatannya tokoh lain tidak akan terpengaruh. Ini aneh, karena ceritanya jadi terkesan tidak menyatu. Boros. Di sisi lain menurutku hal ini membuat ceritanya jadi terasa lebih realis. Tidak terlalu jelas bagiku apakah sebenarnya Budi Darma sudah merangkai tokoh-tokoh itu dengan satu benang tak terputus yang kemudian ia sembunyikan dalam-dalam, ataukah memang benang itu sama sekali tidak pernah ada.

Di bab-bab akhir beberapa tokoh yang pernah diceritakan sepanjang buku dikunjungi lagi, diceritakan kelanjutan nasibnya. Akhirnya cerita ditutup dengan mengait kembali pada paragraf pertama. Cara mengakhiri yang sangat cantik dan memuaskan!

Overall, Rafilus sangat bagus dan unik. Layak dimiliki, tapi kalau hanya ingin membacanya silakan pinjam padaku. Hati-hati saja karena di beberapa bagian bisa jadi sangat liar dan kasar. Aku rekomendasikan buku ini pada kalian, terutama sekali pada kalian yang orang Surabaya atau mengenal Surabaya. Benarlah seorang pengulas di goodreads yang menyebut novel ini Suroboyo soro, rek!

Lihat ulasan Rafilus lainnya di goodreads.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

6 thoughts on “Rafilus oleh Budi Darma”

  1. Rafilus dan Olenka menurutku memang nggak bisa diringkas, karena plot-nya juga hampir nggak ada. Memang dua novel itu menekankan bahwa tokoh-tokohnya adalah orang biasa dan berfokus pada lintasan pikiran mereka. Kalau mengutip katanya Budi Darma di bab terakhir Olenka:

    Setiap orang pada hakikatnya adalah seorang Immanuel Kant. Hidupnya terkungkung, tapi pikirannya berloncatan ke sekian banyak dunia.

    Budi Darma sendiri bilang kalau tulisannya itu karena ada suatu dorongan, lalu nulis ngalor-ngidul dan tahu-tahu novelnya sudah jadi. Kejadian-kejadian dalam novel mayoritas adalah hasil “kolase”-nya Budi Darma atas pengalamannya sendiri (ditulis di catatan-catatan kaki yang banyak itu). Proses kreatif yang nggak biasa, memang. :P

    Like

    1. Iya, dia menceritakan proses kreatif yang.. luar biasa gitu. Kemudian dia juga bilang bahwa dalam pengakuannya bisa jadi seseorang masih munafik…. Aku jadi menghubung-hubungkan kedua hal ini hmmm..

      Like

  2. Entah kenapa, buku terbitan jalasutra itu banyak yang ga bisa dibaca. tulisannya terlalu belibet-libet. yah mungkin ini cuma gw doang kali ya.. -_-..

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s