Aku Bukan Toko Permen

“Aku bukan toko permen.”

Tiba-tiba dia berkata begitu. Matanya lurus menatap meja yang memisahkan kami. Dia terlihat amat kaku saat mengucapkannya. Lalu, seakan untuk mengurangi kekakuan itu, dia tersenyum sedikit. Tetap tanpa melihatku.

Awalnya aku tidak sepenuhnya paham maksud perkataannya tadi. Aku hanya bisa merasakan bahwa ada yang salah.

“Aku bukan toko permen,” dia mengulanginya, memperjelas. “Kamu tidak bisa begitu saja datang, mengambil beberapa Smarties dan Chacha, membayar, lalu pulang. Aku bukan toko permen.”

Saat itu barulah aku bisa sedikit mencerna analoginya (sambil berpikir, Aih, kenapa nggak ngomong langsung pakai kalimat denotatif sih? Ribet banget). Aku belum sempat berpikir harus menjawab apa. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri, tersenyum sedikit sambil menganggukkan kepala, lalu membalik badan dan pergi.

Dia bahkan tidak menghabiskan es rumput laut yang sudah kubelikan, yang setahuku sangat ia sukai.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Aku Bukan Toko Permen”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s