“Kakak nggak suka matematika!”

Malam ini anak sulung kami mengerjakan PR-nya sambil menangis.

“Kakak nggak suka matematika!”

Berkali-kali ia menyerukan kalimat itu. Kadang dengan nada kesal, kadang dengan nada lirih memelas. Seperti memohon untuk dibebaskan dari penyiksaan. Walau begitu tangannya tetap erat menggenggam pensil, mengguratkan angka-angka yang kikuk berpose di lembaran bukunya.

Sejak kecil kami sudah melihat bakatnya. Ia adalah anak yang pintar. Mumpung baru duduk di kelas 1 SD, kami tidak ingin menyia-nyiakan masa emas perkembangan otaknya ini. Kami mendaftarkannya pada sekolah terbaik dan tempat les terbaik. Jadwalnya penuh, pagi sampai malam, enam hari dalam seminggu. Pokoknya jangan sampai ia tertinggal dari anak-anak lain dan akhirnya kalah dalam persaingan hidup yang lebih kejam di masa depan.

“Kakak suka Bahasa Indonesia, Bu..”

Ia memandang ke arahku, memohon bantuan. Aku tahu, sudah tahu dari dulu bahwa ia paling suka bercerita dan membaca. Hanya saja, dalam hidupnya nanti tidak semua hal dapat ia peroleh menurut kesukaannya kan?

“Cepat selesaikan PR-nya, Kak.”

Suatu hari nanti ia akan menyadari manfaat dari segala kerja kerasnya hari ini. Semua yang kami lakukan adalah demi kebaikannya sendiri. Ia hanya masih terlalu kecil untuk mengerti.

Tulisan ini fiktif, namun diadaptasi dari tweets @masyreef pada 27 September 2013 yang merupakan kisah nyata.
Bagaimana menurutmu?

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s