Seberapa Baikkah Diri?

Satu titik yang sendirian tidak mungkin dapat kita gunakan untuk membilang posisi. Posisi selalu berkaitan dengan acuan relatif tertentu. Dengan melihat letak titik itu terhadap suatu acuan, barulah dapat kita bilang posisi; kanan, kiri, depan, atau belakang. Jika kita memberi satuan-satuan pada tiap sekian dan sekian secara ajek, kita bisa menyebutkan satu konsep lagi: jarak. Kita mulai bisa membilang, misalnya, bahwa titik A berada 30 satuan di kanan titik 0. Bayangkan saja penggaris atau skor ujian.

Tapi cukupkah pembilangan posisi dan jarak itu?

Sebenarnya dari ’30 satuan di kanan’ itu kita belum mendapatkan makna apapun. Pun dari skor ujian sebesar 80 dalam rentang 0 hingga 100, kita belum dapat menarik makna apapun. Jangan tergesa menganggap 80 sebagai skor yang tinggi. Pemaknaan tergesa yang seperti ini menunjukkan bahwa skor ujian yang biasa kamu peroleh lebih rendah dari 80.. hehehe. Bayangkan jika skor semua penempuh ujian yang lain mencapai 100. Apakah 80 dapat dikatakan tinggi?

Nah kan. Posisi dan jarak ternyata belum cukup. Kita masih membutuhkan perbandingan. Untuk memaknai titik A, kita membutuhkan titik B yang memiliki posisi-dan-jarak terhadap acuan-yang-sama dengan titik A. Dengan begitu baru kita dapat mengatakan bahwa skor 80 itu (lebih) rendah (dibandingkan dengan skor 100).

Sudah cukupkah itu?

Belum.

Begini. Biasanya ada banyak sekali titik dengan posisi-dan-jarak yang bervariasi. Jika titik B yang kita ambil sebagai perbandingan kebetulan saja nyleneh, kita bisa salah memaknai titik A. Bayangkan saja pemilik skor 80 tadi hendak membandingkan hasil ujian, tapi ia (kebetulan) cuma bertanya pada seorang temannya yang mendapat skor 70. Padahal selain mereka berdua, semua penempuh tes mendapat skor 100.

Satu titik pembanding tidaklah cukup. Menurut buku statistika yang kubaca, paling tidak kita butuh tiga puluh titik pembanding. Walau begitu kondep ‘lebih banyak lebih baik’ juga tetap berlaku dalam hal ini.

Huh.

Maaf, aku sebenarnya tidak berniat menceloteh tentang statistika. Yang sedang kupusingkan adalah konsep diri. Konsep kebaikan diri.

Bagaimanakah diri yang disebut baik? Dan seberapa baikkah yang dapat dikategorikan baik?

Pertama, titik acuan apa yang harusnya aku pakai untuk menentukan posisi kebaikan diri? Standar mana, menurut interpretasi siapa?

Kedua, dalam membandingkan diri sendiri dengan diri lain aku pasti menggunakan jalan pintas. Heuristic. Rasanya tidak mungkin aku akan menelaah dengan saksama, memastikan tiap diri menggunakan titik acu yang sama, memastikan bahwa diri yang kupetakan paling tidak berjumlah tiga puluh. Hadeuh.

Ketiga, akibat proses pembandingan yang sangat subjektif itu aku sangat mungkin malah merasa tertekan. Merasa buruk. Putus asa. Dan kemudian bergulung-gulung.. dan seterusnya dan seterusnya…..

Keempat, sebagai alternatif, ada yang bilang kita harusnya tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bandingkanlah diri-saat-ini dengan diri-masa-lalu, sudah lebih baikkah? Kepada alternatif ini aku ingin berkata.. ya susah lah! Kita ini memiliki ingatan, dan berkat ingatan lah kita memiliki diri yang utuh, kontinu hingga sekarang. Diri-masa-lalu itu bukankah diri kita juga? Kontinuitas ini menyebabkan diri-masa-lalu dan diri-saat-ini terpersepsi sebagai satu titik. Dan satu titik tidak dapat dibandingkan.. kan?

Aku jadi tidak paham… bagaimana aku bisa memetakan posisi kebaikan diri dan mengambil manfaat–demi perbaikan–atas pemetaan itu?

Mungkin ‘jawabnya ada di ujung langit’. Jadi aku harus cari anak yang tangkas dan pemberani untuk ke sana. Bertarunglah dragon ball!!

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

5 thoughts on “Seberapa Baikkah Diri?”

  1. Kenapa gak dibandingkan dengan sesuatu yg absolut? Kalo buat ujian, bisa pake batas kelulusan. Jadi ya batas minimum baik itu kalo lulus. Untuk kebaikan, kan kita sudah ada acuan. Qur’an dan hadist. Seberapa baik diri kita ya tergantung dari seberapa paham.

    Liked by 1 person

  2. Kalau dikaitkan dengan pandangan manusia, rasanya manusia sudah punya standar masing-masing yang tidak bisa diukur dengan angka-angka tertentu. Sebagaimana dalam statistika, cara sampling yang benar tidak asal banyak, tapi harus merata di tiap daerah yang heterogen. Nah, gimana bisa diukur, jika barangkali “titik nol”nya saja nggak ketemu. Di barat, mungkin dianggap menghormati tamu dengan (misal) “cipika cipiki”. Lah di timur? bisa hilang kepala jika berani-berani melakukan itu dengan istri.

    Makanya bisa dibilang susah untuk mencari “orang baik” yang diterima di otak sebagian besar manusia di muka bumi, kalau orang baik yang dimaksud menurut standar manusia perorangnya.

    Seharusnya, jika dibandingkan dengan sesuatu yang absolut (mis : Qur’an Hadits) harusnya masalah itu selesai. Tapi, as you know, akan timbul pertanyaan baru yang bikin masalah “baik” itu ga terukur lagi, yaitu , “Menurut interpretasi siapa?”

    Jadi, yang dimaksud baik menurut siapa?

    Liked by 1 person

  3. Kayak mendaki gunung akan lebih baik kalo meniti langkah2 satu per satu daripada membandingkan posisi sekarang sama posisi puncak. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan dan jalurnya, lama2 juga sampai di puncak. Jalur kehidupan sudah ada di al quran dan hadits, finishnya juga sudah jelas. Tetapi kita nggak tau seberapa jauh kita sama finishnya. Kalo ketemu orang yang lebih tua, anggap ilmu dan amalannya lebih besar dari kita, kalo sama yang lebih muda, anggap dia lebih sedikit dosanya. Begitu menurut saya pin

    Liked by 1 person

  4. ahahahah :D pertanyaan bagi semua umat yang memikirkan :D
    hal yang juga, sempat, pernah, dan masih dipikirkan.
    konsep yang kompleks menurutku, tapi yaaa itu… uh

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s