Menjelang Musim Gugur di Mataku

“Kapan kita akan mulai menyapu daun-daun itu?”

Aku melongok ke luar jendela. Warna cokelat kering terbentang di seluruh halaman. Orang-orang mungkin akan mulai mengira rumah ini tidak berpenghuni.

“Besok,” jawabmu dengan nada tinggi. Untuk kesekian kalinya.

Aku memalingkan wajah dari dunia luar, menatap kembali bayanganmu di cermin—seperti yang beberapa pagi ini selalu aku lakukan. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, aku tidak akan mendorongmu untuk memberi penjelasan lebih lanjut atas ‘besok’ yang terus kamu ulang. Aku sudah merasa cukup dengan menduga-duga bahwa kamu memiliki kenangan tertentu dengan guguran dedaunan.

“Pohon-pohon itu berusaha sangat keras untuk terlihat kokoh dan tegar,” kataku, mencoba membuka pembicaraan. “Tapi mereka sudah membuat suatu jadwal tetap. ‘Musim pemakluman diri’, mereka menyebutnya. Pada musim itu mereka mengakui kelemahan, menyesali kebodohan, dan menangis tersedu-sedu. Mereka jadi rapuh serapuh-rapuhnya. Itulah yang terjadi sekarang.”

Kamu mengangkat wajah, tampak tertarik. “Air mata pohon itu… daun?”

“Iya.”

“Mereka membutuhkan satu musim penuh untuk meratapi diri? Memalukan sekali.”

“Dua musim, sebenarnya. Karena setelah ini mereka akan pura-pura mati selama semusim penuh.”

Matamu membelalak tidak percaya. Lalu dengan ekspresi gusar kamu berkata nyinyir, “Dan kutebak setelah itu mereka akan muncul berseri-seri seolah tidak ada yang terjadi.”

“Sebab pohon-pohon itu ingin orang-orang mengicip kehidupan yang tanpanya. Dengan begitu mereka akan diharapkan kembali. Mereka sebenarnya sangat ingin dirindukan.” Aku mendekatkan wajahku pada cermin, menatap matamu dalam-dalam, dan berbisik, “Bukankah kamu juga begitu?”

Kamu memalingkan mata. Marah karena tertangkap basah?

“Sudahlah. Sebaiknya kita akhiri saja ‘musim amarah membara’ itu.”

Dari cermin kamu memandangku, seolah meminta diyakinkan. Dan setelah kita mengangguk bersamaan, beberapa helai air perlahan gugur dari mata.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Menjelang Musim Gugur di Mataku”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s