Perkembangan Moral, Sudah Sampai Mana?

Halo.

Saat ini aku sedang teringat pada sebuah pertemuan di kelas Teori Perkembangan bersama Mas Ewa. Saat itu kami sedang membahas moral development berdasarkan teori beberapa tokoh, seperti Turiel dan Kohlberg.

Aku teringat, saat itu ada seorang mahasiswa yang berbagi tentang karirnya di dunia hukum-dan-kepengacaraan. Tentang bagaimana orang-orang di dunia itu mencari celah dalam aturan dan memainkannya sedemikian rupa. Tentang bagaimana teman-temannya sudah bermobil-mewah dengan cara itu, sementara dia masih ‘gini-gini aja’. Aku ingat Mas Ewa menunjuk ke jendela di belakang kami–di sanalah fakultas itu berdiri. Aku ingat tentang sebuah kesimpulan yang terdengar cukup judgemental: moral development mereka masih berada di level rendah.

Eh lah ndalah malam ini aku menyaksikan sesuatu lewat layar laptop. “Aturan mana yang dilanggar?” kata seseorang di dunia maya.

Ah, sebentar, aku terangkan konteksnya dulu ya.

Jadi malam ini seorang-teman berkicau dengan indah, mengungkapkan kekagumannya terhadap dua orang mahasiswa. Kicauannya ini, tak tanggung-tanggung, berseri sampai 22 nomor.

Eh adakah yang salah dengan itu?

Tidak ada.

Hanya saja kebetulan dua orang mahasiswa mengagumkan tadi adalah calon ketua dan wakil ketua BEM UI 2014, dan kebetulan saat ini sedang masa pemungutan suara, yang berarti kampanye sudah tidak boleh dilakukan. Oh, kebetulan seorang-teman ini bukan Tim Sukses kok. Bukan.

..Bukan.

Menurut pengakuannya sendiri pun seorang-teman menyatakan bahwa kicauannya bukanlah sebuah bentuk kampanye. Benarlah, ketika kita merujuk pada peraturan Pemilihan Raya UI, yang dinamakan kampanye adalah yang dilakukan oleh kandidat dan/atau timnya, serta memuat unsur meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan/atau program. Ketika teman ini bukanlah tim sukses, otomatis hal apapun yang dilakukannya tidak bisa disebut ‘kampanye’ dong. Cmiiw.

Hm.

Aku ini bukan orang yang paham benar dengan hukum. Jadi, permisi dulu, aku merasa ada yang sangat salah di sini. Dan saat itulah ingatan tentang kelas Teori Perkembangan melintas.

Inilah tahapan moral development menurut Kohlberg yang akhir-akhir ini sering kurenungkan:

Level 1. Preconventional Morality

  • Stage 1 – Obedience and Punishment
    The earliest stage of moral development is especially common in young children, but adults are also capable of expressing this type of reasoning. At this stage, children see rules as fixed and absolute. Obeying the rules is important because it is a means to avoid punishment.
  • Stage 2 – Individualism and Exchange
    At this stage of moral development, children account for individual points of view and judge actions based on how they serve individual needs. In the Heinz dilemma, children argued that the best course of action was the choice that best-served Heinz’s needs. Reciprocity is possible at this point in moral development, but only if it serves one’s own interests.

Level 2. Conventional Morality

  • Stage 3 – Interpersonal Relationships
    Often referred to as the “good boy-good girl” orientation, this stage of moral development is focused on living up to social expectations and roles. There is an emphasis on conformity, being “nice,” and consideration of how choices influence relationships.
  • Stage 4 – Maintaining Social Order
    At this stage of moral development, people begin to consider society as a whole when making judgments. The focus is on maintaining law and order by following the rules, doing one’s duty and respecting authority.

Level 3. Postconventional Morality

  • Stage 5 – Social Contract and Individual Rights
    At this stage, people begin to account for the differing values, opinions and beliefs of other people. Rules of law are important for maintaining a society, but members of the society should agree upon these standards.
  • Stage 6 – Universal Principles
    Kohlberg’s final level of moral reasoning is based upon universal ethical principles and abstract reasoning. At this stage, people follow these internalized principles of justice, even if they conflict with laws and rules.

Yuk kita kembali ke kasus tadi.

Apresiasi kepada orang lain adalah hal yang sangat indah (yang aku sendiri masih perlu belajar dalam melakukannya).. tetapi apakah kita buta terhadap latar waktu? Apakah kita buta terhadap konteks? Mengapa harus disampaikan di muka publik dan di masa seperti ini?

Maksudku begini. Kalau cuma melihat peraturan sebagai rangkaian kata-kata yang harus dipatuhi saklek tanpa mempedulikan esensi keteraturan yang ingin dijaganya.. kalau celah-celah dicari dan disusupi tindakan lugu.. kalau berlindung dengan ‘tidak ada peraturan yang dilanggar’…

yah….

itu sih moral development-nya masih di stage 1. Lha dua puluh tahun lebih hidup ngapain aja?

Aih, maafkan aku. Semoga kita tidak terjebak dalam eksistensi saja. Semoga kita senantiasa mengingat esensi yang menjadi inti segala bentuk-bentuk.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Perkembangan Moral, Sudah Sampai Mana?”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s