Soalnya Begini

Soalnya begini. Ada saat-saat ketika rasanya nggak baik-baik saja, tapi masih susah mendefinisikan permasalahanya. Ada saat-saat ketika kecemasan memuncak, lalu jadi beku tanpa tahu harus melakukan apa.

Ada pandangan pesimistis yang bilang begini: Jangan menceritakan masalah atau keluhanmu pada orang lain. Sebagian dari mereka tidak peduli dan sebagian sisanya justru senang atas kemalanganmu. Beuh. Dogma yang menyedihkan sekali.

Aku sih percaya atas keberadaan orang baik di sekelilingku. Orang-orang yang peduli. Orang-orang yang berdekatan dengan mereka membuat nyaman. Seperti selimut di saat hujan.

Tapi kemudian kalau aku perhatikan lebih saksama.. aku bisa melihat kilatan air dalam mata mereka. Air itu bergoyang sedikit tapi tidak menetes. Ada ‘hujan lokal’ di dalam sana. Bahkan badai mungkin. Aku tidak pernah tahu. Mengira-ngira itu kadang mengerikan.

Ada juga jenis yang lain. Orang-orang baik yang ini tungkainya tidak pernah berhenti bergerak. Kakinya berlarian ke sana dan ke sini. Punggungnya memikul amanah. Tangan kanannya menggendong buku-buku tebal dan tangan kirinya menjinjing belanjaan dari Alfamart. Halah. Sudah begitu senyum gadis sampul masih terulas manis di wajahnya.

Terakhir, ada sepasang orang yang aku tahu begitu besar menyayangiku. Sepasang orang yang sangat baik, tentu saja. Saking baiknya sampai membuat aku sungkan berbagi. Kamu paham? Soalnya orang-orang yang keterlaluan baiknya seperti ini kadang-kadang sangat reaktif. Kalau aku cerita sedikit mereka akan khawatir, ikutan cemas, ikutan sedih. Duh duh.

Di antara semua itu aku harus apa ya? Aku mengirim sebuah tweet. Ungkapan yang jujur. Tambahkan emoticon biar terkesan tidak terlalu emo atau suicidal (hah suicidal? O_o). Sebentar lagi juga mungkin dihapus.

Soalnya begini. Kalaupun ditanya “Kamu kenapa?” aku pun tidak bisa menjawab. Kalau bisa aku ingin ditemani saja dengan sewajarnya.

Yasudah, baiknya aku lanjut mengerjakan LPJ saja.

*update*

..lalu ada seseorang yang bersedia duduk menemani walaupun matanya berkabut dan akulah penyebab sebagian kabut itu. Dan mendekatinya jadi sulit karena aku tak mau melihat dekat-dekat hasil perbuatanku yang jahat. Terima kasih, terima kasih banyak. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih dahsyat.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

4 thoughts on “Soalnya Begini”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s