Balik Kucing

Dalam berbagai permainan tradisional di daerahku ada sesuatu yang dinamakan balik kucing. Term ini dipakai untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang mundur, dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Misalnya saja jika dalam Gobak Sodor seorang pemain mundur ke petak yang telah ia lewati sebelumnya, maka timnya akan kalah. (Aku tidak ingat bagaimana contoh penerapan balik kucing pada permainan yang lainnya. Mungkin kalian bisa membantu?)

Bisakah kita curiga bahwa sebenarnya pelarangan balik kucing dimaksudkan untuk mengajarkan buruknya mundur dalam latar kehidupan nyata? Barangkali orang-orang zaman dulu ingin menginternalisasi semangat maju terus pantang mundur. Bagus juga ya.

Tapi tunggu dulu. Izinkan aku untuk berhenti sejenak dan merenungi kembali ‘kearifan lokal’ itu. Memangnya kenapa kok kita tidak boleh mundur? Apakah mundur selalu berarti regresi? Apakah orang-orang yang mundur adalah pengecut?

Pengecut? Alah. Kadang kita maju semata-mata karena merasa mundur tidaklah memungkinkan. Karena terlalu banyak investasi yang telah dicurahkan. Karena memalukan?

Ah, mundur dan maju sama-sama membutuhkan keberanian yang besar kok.

Mari kita revisi saja peraturan kuno itu: kini balik kucing diperbolehkan! Lalu kita bisa berlarian maju maupun mundur dengan perasaan yang lebih ringan.

Nah, bagaimana kalau kita balik kucing saja? Yuk?

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Balik Kucing”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s