Hua. Uwawa.

Rasanya tangisan adalah ungkapan paling asli dari diri seseorang. Begitu lahir kita menangis tanpa pernah mempelajarinya. Di minggu-minggu awal kehidupan tangisan menjadi satu-satunya cara mengungkapkan apa-apa yang kita rasakan, mulai dari kegerahan, kelaparan, gatal, kelembapan, dan lain-lainnya yang entah apa lagi. Kita semua sudah lupa alasan-alasan sesungguhnya dari tangisan-tangisan itu.

Walau begitu tangisan kita di tahun-tahun selanjutnya sudah pasti berbeda. Ada efek belajar padanya. Seiring dengan pemahaman dan keterampilan kita menggunakan bahasa, tangisan sebagai cara berkomunikasi mulai kita pinggirkan. Seiring dengan harapan lingkungan akan kedewasaan kita, semakin lihai kita menahan dan menyembunyikan tangis.

Aku ingat suatu episode di masa kecilku ketika aku sudah cukup mahir berbahasa dan diharapkan berlaku dewasa, tapi masih hobi menangis dengan raung-raungan. Ini jenis tangisan yang emosional, berisik, dan bersedu-sedan. Aku ditanya kenapa menangis, lalu aku menjawabnya sambil masih menangis. Tentu saja ini menyebabkan omonganku tidak terdengar jelas. Tidak ada yang paham. Bahkan rasanya tidak ada yang mau berusaha memahami atau menajamkan kuping sedikit. Tidak.

“Kenapa? Ngomong yang jelas,” begitulah ibuku bertanya, ringan, tanpa nada concern. Akulah yang disuruh berusaha mengungkapkan diri. Uh aku masih ingat rasanya. Mangkelno sekali.

Waktu itu aku menggerutu dalam hati, dipikir gampang apa ngomong sambil nangis? Karena kesal aku justru jadi enggan berusaha bicara dengan jelas. Aku malah ingin menunjukkan bahwa itu adalah hal yang susah, bahkan mustahil dilakukan. Tapi kalau hanya begitu aku jadi pihak yang paling rugi karena tidak dipahami sama sekali. Untungnya aku menemukan suatu solusi yang brilian… walaupun agak aneh: kamus tangisan.

Jadi aku menuliskan suara-suara yang umumnya kuucapkan ketika menangis disertai dengan kata yang sesungguhnya aku maksudkan. Harapanku, nanti ketika aku menangis orang-orang bisa menilik kamus mini itu untuk mengartikan ungkapan-ungkapan yang tidak jelas. Aku lupa ada berapa lema yang berhasil kususun. Paling tidak aku masih ingat entri paling atasnya, kutulis: wawa = mama.

(Kalau tidak salah ibu dan kakak perempuanku tersenyum geli ketika kuserahkan kamus itu pada mereka.)

(Solusi itu ternyata tidak berhasil. Aku justru merasa aneh sendiri karena harus mencocokkan ekspresi tangisan–yang seharusnya bebas, emosional, minim kontrol–dengan lema.. yang kubuat sendiri.)

Di tahun-tahun selanjutnya aku memperkaya pengalaman dengan beragam jenis tangisan. Tangisan malu, kecewa, sekaligus bingung yang membuat kertas ujian matematika seorang teman jadi basah kuyup. Tangisan tipis-tipis dan perih-pedih pada malam hari karena patah hati. Tangisan karena jarak demarkasi yang mengucilkan diri sendiri. Dan banyak lagi yang lainnya, yang dari tiap bulir air di momen itu aku belajar lagi tentang tangisan.

Lebih dalam? Aku tidak yakin setelah sekian tahun ini aku memiliki pemahaman dan penghayatan yang lebih mendalam mengenai hubungan diri, rasa, dan air mata. Sepertinya tiap pelajaran yang berbeda itu menarikku ke poros yang berbeda dalam sebuah garis kontinum bercabang (waduh jenis skala pengukuran macam apa ini).

Lebih paham? Tidak juga. Kadang aku merasa kembali ke episode pertama yang kuceritakan tadi, hanya saja sekarang akulah yang tercenung menghadapi tangisku sendiri. Kenapa nangis jeh? Ngomong apa kamu? Nggak jelas. Ditambah lagi kali ini tidak ada kamus yang bisa berguna. (Kenapa?) Karena tidak ada lagi suara-suara berisik HUUAAA UWWAAWAAA yang keluar. Tidak ada tanda-tanda kasatmata yang dapat kukenali (untuk dicocokkan dengan lembar observasi). Diriku menangis dalam standar kedewasaan usianya, dalam kediaman, dengan cepat-cepat menyelamatkan titik-titik air yang lolos dari kelopak mata agar tidak sampai terpeleset di pipi. Tangis itu bahkan begitu saja reda sebelum aku mengerti apa yang ingin diungkapkannya.

Nah. Jadi jelas bahwa aku tak pantas muluk-muluk berharap kamu memahami ketika bahkan tidak tahu apanya yang aku ingin kamu pahami.

Sudah sudah, kita sudahi saja deh.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

4 thoughts on “Hua. Uwawa.”

    1. Jangan pertentangkan dua hal yang sebenarnya sejalan lah Nas: membaca dan menulis. Makasih sudah baca-baca tulisanku, tapi tetap taktunggu lho cerita-cerita roller coastermu. :}

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s