Dua Anak Perempuan: Lizzie dan Matilda

Tulisan ini dibuat untuk tugas mata ajar Paradigma Feminisme.

Dalam tugas ini saya akan memperbandingkan karya dari dua penulis, yakni Jacqueline Wilson dan Roald Dahl. Mereka adalah dua penulis novel anak-anak yang mewarnai masa kecil saya. Keduanya adalah penulis asal Inggris yang terpaut kelahiran 29 tahun (Roald Dahl lahir tahun 1916 dan Jacqueline Wilson tahun 1945). Kebetulan di tempat tinggal saya saat ini (kost) tidak terdapat buku dari kedua penulis tersebut, sehingga perbandingan ini lebih banyak mengandalkan ingatan masa kecil dan penyegaran-ingatan melalui beberapa jelajah internet.

Lizzie Zipmouth & Matilda: Persamaan

Karya mereka yang ingin saya perbandingkan adalah Lizzie Zipmouth (Jacqueline Wilson) dan Matilda (Roald Dahl). Kedua novel ini berpusat pada tokoh utama anak perempuan usia sekolah. Baik Lizzie maupun Matilda mengalami konflik ketika mereka berada di suatu tempat yang tidak mereka senangi: Lizzie yang berada di lingkungan ayah barunya; Matilda yang berada di lingkungan keluarganya sendiri serta sekolahnya. Kedua tokoh juga mulai mengalami resolusi setelah bertemu dengan seorang tokoh perempuan lain: nenek buyut untuk Lizzie; Mrs. Honey untuk Matilda.

Lizzie Zipmouth

Pada novel Lizzie Zipmouth, Jacqueline berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Lizzie dari keluarga yang bercerai. Ia hidup dengan ibunya yang kemudian beberapa kali menjalin hubungan lagi dengan lelaki, tapi kemudian selalu kandas di tengah-tengah. Lizzie menjadi muak dengan situasi ini. Konflik timbul ketika ibu Lizzie bertemu dengan seorang lelaki dan menikah dengannya. Lizzie merasa laki-laki ini akan sama saja dengan para laki-laki sebelumnya, sehingga ia pun melancarkan aksi protes dengan cara tidak berbicara (zipmouth). Kekerasan hati Lizzie kemudian mencair setelah ia bertemu dengan nenek buyut dari pihak ayah barunya. Lizzie dan nenek buyut berbagi ketertarikan yang sama pada boneka. Setelah mampu berkawan dengan nenek buyut tersebut, perlahan Lizzie lebih mudah menerima ayah barunya dan juga adik-adik tirinya.

Seperti novel-novel Jacqueline yang lain, Lizzie Zipmouth berkutat pada persoalan realistis dalam kehidupan seorang anak, tepatnya kehidupan pasca perceraian orang tua. Dalam novel ini saya lebih melihat bahwa Lizzie melawan ketakutan dan egonya sendiri yang menutup diri dari kehadiran orang-orang baru. Ia ingin tetap bertahan dalam zona nyaman bersama sang ibu saja. Bagi saya cara Lizzie menunjukkan protesnya juga sangat khas: tutup mulut. Ketika orang-orang di sekeliling tidak juga memahami argumen yang disampaikan oleh perempuan (saya mengambil jalan generalisasi di sini), diam adalah satu-satunya jalan. Jacqueline tidak membiarkan Lizzie berjuang sendirian, namun ‘memfasilitasi’-nya dengan tokoh pendukung yakni nenek buyut. Setelah itu barulah Lizzie dapat menghadapi ketakutannya sendiri. Dari sini terlihat bahwa tokoh Lizzie mengalami perkembangan seiring berjalannya cerita.

Matilda

Pada novel Matilda, Roald Dahl berkisah tentang seorang anak perempuan yang sangat istimewa. Dikisahkan bahwa sejak sangat kecil Matilda sudah bisa membaca karya-karya Dickens secara kilat, mengerjakan soal-soal hitungan yang sulit, dan memiliki kemampuan telekinesis. Matilda seakan lahir di keluarga yang ‘salah’ karena kedua orang tuanya tidak pernah memberikan perhatian ataupun stimulasi padanya. Ayah dan ibunya justru menganggap Matilda bodoh karena tidak mengikuti aturan standar. Di sekolah, Matilda kembali harus menghadapi gurunya, Mrs. Trunchbull, yang sangat kejam dan bahkan suka menyiksa anak-anak. Lizzie kemudian bertemu dengan guru yang lain, Mrs. Honey, yang sangat baik hati dan lembut. Dari Mrs. Honey-lah kemudian Matilda memperoleh dukungan sehingga dapat mengembangkan kemampuan dan minatnya.

Seperti novel-novel Roald yang lain, Matilda lebih banyak menstimulasi imajinasi pembaca. Jika hendak menghadirkan tokoh antagonis, Roald melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini dapat kita lihat dalam tokoh Mrs. Trunchbull, Roald tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan kekejaman dan keburukannya, bahkan terkadang cenderung vulgar. Sebaliknya, tokoh-tokoh protagonis juga ditunjukkan dengan sempurna tanpa cacat yang berarti. Misalnya saja Matilda yang sedari kecil memang adalah anak yang baik dan cerdas. Ia sudah seperti itu dari sananya dan hingga akhir cerita pun tetap sebaik itu.

Lizzie Zipmouth & Matilda: Perbedaan

Dari dua novel karya dua penulis tersebut saya dapat menyimpulkan beberapa perbedaan:

  1. Lizzie Zipmouth lebih realistis sedangkan Matilda lebih imajinatif.
  2. Lizzie Zipmouth menggunakan bahasa yang lebih halus dan ‘baik’ (lebih cocok untuk anak-anak) sedangkan Matilda mengandung beberapa unsur yang kasar.
  3. Tidak terdapat tokoh antagonis dalam Lizzie Zipmouth, sedangkan terdapat pembedaan yang tegas antara protagonis dan antagonis dalam Matilda.
  4. Sebagai implikasi, pada Lizzie Zipmouth cerita berakhir bahagia dan ‘semuanya menang’ sedangkan dalam Matilda, cerita berakhir bahagia bagi tokoh protagonis (saja). (Dalam kepala saya, yang terakhir ini terasa sebagai wujud ‘oposisi biner’.)
  5. Lizzie adalah tokoh yang berkembang menjadi lebih baik sedangkan Matilda sudah dari awal adalah tokoh yang baik.
Revolusioner?

Mana yang lebih ‘revolusioner’? Dari perbandingan yang telah saya paparkan, saya menilai bahwa Lizzie Zipmouth dari Jacqueline Wilson adalah karya yang lebih revolusioner. Ceritanya memang tidak terlalu fantastis dan imajinatif, namun karakternya lebih berkembang. Jacqueline lebih menunjukkan cairnya batas antara yang ‘baik’ dan yang ‘buruk’. Ia seakan mengatakan bahwa kita tidak harus menjadi orang suci, bahwa normal untuk sesekali menjadi egois dan ngambek pada dunia. Yang terpenting adalah bagaimana kita kemudian menghadapi diri dan dunia tersebut.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s