Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso

Ditulis sebagai tugas mata ajar Paradigma Feminisme.

Fenomena

Beberapa hari lalu saya pulang ke kota asal saya, Surabaya. Ketika menyusuri jalanan Surabaya yang diwarnai oleh berbagai ragam kuliner, ayah saya tiba-tiba mengangkat suatu fenomena menarik. Ia memperhatikan bahwa makanan-makanan tertentu memiliki segmentasi gender dalam penamaan mereknya. Untuk soto dan bakso biasanya digunakan nama-nama laki-laki, misalnya Soto Pak Djayus dan Bakso Pak Gendut. Sementara itu untuk gudeg dan pecel biasanya digunakan nama-nama perempuan, misalnya Gudeg Bu Mien dan Pecel Bu Kus. Hal ini menjadi sangat menarik karena belum pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya, dan juga belum pernah saya baca di literatur manapun.

Saya kemudian melanjutkan riset kecil mengenai fenomena tersebut melalui internet. Saya menggunakan mesin pencari Google dengan lokasi spesifik negara Indonesia dan menelusuri hasil hingga laman kelima. Kata kunci yang saya gunakan adalah ‘gudeg’, ‘pecel’, ‘soto’, dan ‘bakso’. Dari hasil pencarian tersebut  saya menyaring entri-entri yang mengandung nama laki-laki atau perempuan sebagai merek dagangnya.

Untuk kata kunci ‘gudeg’ saya menemukan hasil ‘Gudeg Bu Amad’, ‘Gudeg Yu Djum’ (6 entri), ‘Gudeg Yu Nap’, ‘Gudeg Wijilan Bu Lies’ (2 entri), ‘Gudeg Pak Atmo’, ‘Gudeg Kaleng Bu Tjitro’ (3 entri), ‘Gudeg B. Djuminten’, ‘Gudeg Permata Bu Pujo’, ‘Gudeg Mercon Bu Tinah’, ‘Gudeg Bu Kris’, ‘Gudeg Manggar Bu Tinur’, dan ‘Gudeg Yu Narni’. Dapat kita lihat bahwa dari total 20 entri merek gudeg tersebut hanya terdapat 1 entri yang mengandung nama laki-laki.

Untuk kata kunci ‘pecel’ saya menambahkan kata kunci ‘-lele’ untuk menghindari hasil pencarian ‘pecel lele’. Dari pencarian tersebut saya menemukan hasil ‘Pecel Bu Broto’ (2 entri), ‘Pecel Yu Sri’, ‘Pecel Bu Sumo’, dan ‘Pecel Cak Yok’. Dari total 5 entri merek pecel hanya terdapat 1 entri yang mengandung nama laki-laki.

Untuk kata kunci ‘bakso’ saya menemukan hasil ‘Bakso Malang Cak Su Kumis’, ‘Bakso Pak Joko’, dan ‘Bakso Kota Cak Man’. Hanya terdapat 3 entri merek bakso dan semuanya bernama laki-laki.

Untuk kata kunci ‘soto’ saya menemukan hasil ‘Soto Ayam Ambengan Pak Sadi’ (2 entri), ‘Soto Ayam Lamongan Cak Har’, ‘Soto Betawi H. Mamat’, ‘Soto Kambing Pak Kumis’, ‘Soto Pak Marto’, ‘Soto Pak Sholeh Al Barokah’, dan ‘Soto Kudus Pak Minto’. Dari 8 hasil entri merek semuanya bernama laki-laki.

Hasil pencarian tersebut mengonfirmasi pernyataan dari ayah saya bahwa terdapat perbedaan penamaan, laki-laki ataupun perempuan, antara jenis makanan tertentu. Gudeg dan pecel cenderung menggunakan nama-nama perempuan yang ditandai dengan kata ‘Bu’ dan ‘Yu’. Sementara itu bakso dan soto cenderung menggunakan nama-nama laki-laki yang ditandai dengan kata ‘Cak’ dan ‘Pak’.

Makalah ini akan mencoba melakukan analisis terhadap fenomena tersebut.

 

Teori

Feminisme liberal adalah salah satu aliran feminisme yang muncul sekitar tahun 1970. Aliran feminisme ini disebut-sebut dipicu oleh buku karya Betty Friedan yang berjudul The Feminine Mystique yang menggambarkan bagaimana citra perempuan ideal di masyarakat, yang digambarkan sebagai seorang ibu rumah tangga yang berbakti, menyimpan suatu masalah tak-terkatakan di diri perempuan itu sendiri. Feminisme liberal memandang bahwa perempuan seharusnya diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki karena keduanya sama-sama memiliki potensi. Dengan menempatkan perempuan pada ranah domestik saja maka sia-sialah potensi yang ada dalam diri perempuan itu.

Teori feminisme yang lain adalah feminisme postmodern. Aliran ini memandang terdapat peran yang besar dari bahasa terhadap relasi antara perempuan dan laki-laki. Secara umum feminisme postmodern menolak penjelasan tunggal mengenai masalah perempuan, karena masalah perempuan harus dilihat dari konteks lokal dan situasi khusus yang melingkupinya.

 

Analisis

Dalam menganalisis fenomena yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menggunakan dua macam pendekatan.

Pendekatan pertama lebih bersifat retrospektif, yang diwujudkan dalam pertanyaan: mengapa terjadi perbedaan gender dalam penamaan merek makanan? Jawaban sederhana yang dapat kita ajukan adalah karena memang sejak mulanya orang-orang yang menjual soto dan bakso adalah laki-laki sedangkan orang-orang yang menjual gudeg dan pecel adalah perempuan. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pun tidak pernah menemui penjual soto dan bakso perempuan ataupun penjual gudeg dan pecel laki-laki. Tetapi terhadap jawaban tersebut kita masih dapat bertanya lebih lanjut: lalu mengapa soto dan bakso cenderung dijual oleh laki-laki sedangkan gudeg dan pecel cenderung dijual oleh perempuan? Untuk kembali menjawab pertanyaan ini kita membutuhkan lebih banyak analisis historis dari tiap jenis makanan tersebut. Kita kemudian harus mengaitkannya juga dengan konteks sosial di mana makanan tersebut berasal, menjadi populer, dan kemudian mulai diperjual-belikan.

Pendekatan kedua lebih bersifat prospektif, yang diwujudkan dalam pertanyaan: bagaimana pengaruh fenomena tersebut terhadap hal-hal lain di sekelilingnya? Terhadap pendekatan kedua ini rasanya kita membutuhkan perabaan jawaban yang lebih luas dan dalam. Secara sepintas perbedaan gender dalam penamaan makanan tertentu tidak memiliki pengaruh apapun terhadap hal-hal di sekitarnya. Paling tidak, agaknya kita tidak merasakan ada kerugian signifikan—baik di sisi perempuan ataupun laki-laki—dari fenomena tersebut. Namun untuk menyimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh apapun rasanya terlalu terburu-buru. Dalam hal ini kita bisa mengingat kembali bahwa bahasa bukan semata produk dari budaya, namun juga justru memproduksi budaya. Salah satu contoh yang dapat kita acu adalah sistem bahasa feminin-maskulin yang berlaku di berbagai negara. Pada masa lalu penggunaan bahasa kurang mendapatkan perhatian, namun kini kita mulai ‘tersadar’ bahwa sistem bahasa menjadi representasi sekaligus alat preservasi sistem patriarkal di negara-negara tertentu.

Pendekatan Retrospektif

Untuk pendekatan retrospektif, saya belum berhasil menemukan asal usul sosio-historis dari soto, bakso, gudeg, maupun pecel. Dengan metode penalaran sederhana pun saya tidak berhasil menemukan benang merah yang cukup meyakinkan antara soto dengan bakso dan gudeg dengan pecel. Satu-satunya dugaan—yang masih sangat meragukan juga—adalah bahwa soto dan bakso adalah makanan berkuah dan dengan demikian lebih berat dalam hal massa. Dengan demikian dibutuhkan tenaga ekstra untuk memasak dan kemudian menyajikan soto serta bakso. Risiko kecelakaan pun rasanya lebih besar pada dua jenis makanan tersebut karena berkaitan dengan kuah yang panas. Maka mungkin perempuan cenderung tidak berjualan soto dan bakso disebabkan keterbatasan kekuatan otot dan tingginya risiko. Karena aktivitas berdagang umumnya dilakukan dalam tujuan memperoleh penghasilan, perempuan dapat memilih alternatif cara lain yang sama-sama menghasilkan uang yakni dengan berjualan jenis makanan lain yang lebih ‘mudah’ ditangani. Maksud saya, akan berbeda jadinya jika aktivitas berdagang ini dilakukan atas dasar renjana ataupun ketertarikan serius terhadap jenis masakan spesifik.

Kendati demikian, penjelasan tersebut masih harus menjawab pertanyaan: lalu mengapa laki-laki juga cenderung tidak berjualan gudeg dan pecel? Bukankah laki-laki juga berkemampuan untuk menangani pengolahan kedua jenis makanan tersebut? Satu-satunya dugaan yang dapat saya tawarkan adalah bahwa laki-laki cenderung menghindari pekerjaan-pekerjaan yang terlalu ‘mudah’ karena merasa bahwa itu bukanlah ‘lahannya’. Barangkali laki-laki merasa bahwa ia harus berlaga di medan perang untuk mendapatkan dan mempertahankan maskulinitasnya.

Sebenarnya penggunaan nama perempuan dalam merek dagang gudeg dan pecel menunjukkan bahwa ia berdaya dalam aktivitas perekonomian. Perempuan tidak lagi hanya menjadi sosok yang terbatasi dalam peran-peran di lingkungan rumah tangga dan keluarga. Hal ini juga berbeda dengan penggunaan nama atau simbol keperempuanan dalam produk ritel komersial yang lebih berniat mendekati konsumen. Sebagai contoh, merek MamaSuka secara harfiah melabeli dirinya sebagai produk yang disukai oleh kaum mama untuk kemudian mendongkrak penjualan. Gudeg dan pecel umumnya tidak diberi nama merek demi membangun citra yang dekat dengan konsumen segmen perempuan. Gudeg dan pecel umumnya hanya menggunakan nama penjualnya yang adalah seorang perempuan. Maka ini adalah wujud keberdayaan perempuan dalam bidang usaha kuliner.

Kendati demikian, terdapat kesimpulan lain yang bisa kita tarik dari paparan di atas. Perempuan memang tidak lagi terbatasi dalam peran-peran domestik saja. Di sini kita seolah telah memperoleh kesetaraan yang dicita-citakan oleh feminisme liberal. Namun ternyata perempuan masih tetap terbatasi dalam kapasitas kemampuan tubuhnya dalam menangani suatu pekerjaan. Dalam gambaran yang lebih luas kita dapat melihat garis persamaan fenomena ‘gudeg-dan-pecel’ ini dengan stereotip pekerjaan perempuan. Misalnya bahwa guru TK, perawat, dan sekretaris adalah pekerjaan untuk perempuan sedangkan profesor, dokter, dan manajer adalah pekerjaan untuk laki-laki. Tidakkah hal itu terdengar senada dengan “gudeg dan pecel adalah jualannya kaum perempuan sedangkan soto dan bakso adalah jualannya kaum laki-laki”? Barangkali kita kemudian perlu mendorong perempuan untuk berani berjualan soto dan bakso, jika ia memang menginginkannya. Kita tidak pernah tahu, tapi mungkin saja terdapat masalah yang belum pernah diangkat mengenai kerendah-dirian perempuan yang hendak merintis usaha berjualan soto atau bakso lantaran tidak ada perempuan lain yang melakukannya.

Pendekatan Prospektif

Ketika menanyakan pendapat teman saya mengenai fenomena yang saya angkat, ia mengungkapkan bahwa (memang) terasa janggal jika membayangkan seorang laki-laki berjualan gudeg ataupun pecel. Dalam bayangannya seorang penjual gudeg dan pecel biasanya menjajakan makanan dengan duduk ‘lesehan’, dan agak janggal baginya membayangkan laki-laki duduk di bawah.

Jawaban teman saya di atas adalah salah satu contoh implikasi dari perbedaan gender dalam penamaan makanan tertentu. Tentu saja ini baru satu contoh yang belum tentu dapat digeneralisasi kepada subjek lain. Dari satu contoh tersebut setidaknya saya melihat bagaimana bahasa berpengaruh terhadap kognisi seseorang. Segmentasi yang terpisah antara penjual laki-laki dan perempuan memunculkan stereotip tertentu dalam cara berdagang masing-masing kelompok subjek tersebut. Stereotip ini kemudian terus bertahan, difasilitasi oleh bertahannya perbedaan penamaan laki-laki dan perempuan di tiap jenis makanan.

Dalam hal bahasa, Indonesia sendiri tidak mengenal pembedaan feminin-maskulin. Hal ini bukan lantas berarti Indonesia lebih setara-gender. Sebagai gantinya terdapat simbol-simbol tidak kasat yang menjadi pembeda antara perempuan dan laki-laki. Kita dapat melihat perbedaan nama merek makanan sebagai salah satu contoh simbol ini.

 

Kesimpulan

Bagi saya, baik pendekatan retrospektif maupun prospektif ini sebenarnya sama-sama pelik untuk dikupas. Terutama dalam ulasan prospektif, saya merasa masih banyak hal yang dapat diperdalam lagi. Namun saya mengakui bahwa belum ada pisau teori dan paradigma yang dapat saya genggam dengan mantap untuk melakukan bedah analisis. Dengan demikian ini adalah ulasan yang belum selesai, dan menurut saya dapat menjadi bahan untuk dianalisis dengan lebih matang di kesempatan selanjutnya.

 

Barangkali ada yang mau meneruskan, memperdalam analisis yang masih dangkal ini? Beritahu aku ya.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso”

  1. wah, aku baru ngeh juga soal fenomena ini. menarik juga ya, bahwa feminisme pun bisa ditilik dari hal yang kasat namun jarang “dilihat” ini. sy nunggu aja deh kalau ada yg bikin kajian lebih dalam. penasaran juga. hehehe

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s