Dari Pembeliangan: Hidup Berumah-Tangga

“Gue rasanya pingin nyuruh temen gue yang ngebet nikah buat ikut K2N deh! Biar dia ngerasain hidup sama orang lain itu nggak gampang.”

Sudah beberapa kali Embun mengulang-ulang kalimat itu. :))

Yah, hidup bersama orang lain itu nggak mudah. Hal ini sudah kuinsafi dalam kepala, tapi baru pada K2N kurasakan langsung deritanya. Hahahah.

Oh ya, sekali lagi, K2N itu Kuliah Kerja Nyata. UI menolak menyingkatnya sebagai KKN karena identik dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Nah, pada saat menjalankan K2N tahun ini, aku hidup bersama teman-teman sekelompok selama sebulan penuh. Mereka adalah Fa’i dari FH, Tanto dari MIPA, Kak Firman dari FISIP, Embun dari FIB, Eva dari FIK, juga Hani dan Zahrina dari FKM. Di Desa Pembeliangan kami tinggal di Posko PKK, sebuah bangunan dengan empat ruangan (dua difungsikan menjadi kamar tidur, satu menjadi dapur, satunya adalah ‘ruang tengah’) dan satu kamar mandi.

Kali ini akan kuceritakan sedikit bagaimana rasanya menjalani ‘simulasi rumah tangga’ selama satu bulan di Pembeliangan.

1. Bermacam Cara: Begini, Begitu, dan Beginu

Dalam memanajemen rumah tangga ini kami memiliki cara yang berbeda-beda. Misalnya, ada yang setelah mengupas bawang lalu mencucinya, ada yang tidak. Ada yang menanak beras sambil terus diaduk-aduk, ada yang dibiarkan saja. Ada juga yang tidak bisa masak jadi nurut-nurut saja.

Dalam hal ini status yang setara juga menimbulkan polemik tersendiri. Tidak ada yang lebih berkuasa, tidak ada yang lebih berhak diikuti caranya. Yang mau melakukan sesuatu jadi ragu-ragu (ini kalau dibeginikan nggak papa kan ya..), yang merasa tidak sreg jadi ragu-ragu (ih kok jemur bajunya begitu sih.. kalau diingatkan tersinggung ga ya..).

Yah itu memang beberapa contoh kecil saja. Tapi percayalah, kecil-kecil begitu kalau banyak ya terasa mengganggu juga.

2. Habituasi dan Selective Attention

Tentu saja aku punya macam-macam perkiraan (baca: prasangka!) sebelum akhirnya tinggal serumah dengan orang-orang ini. Secara umum aku tidak suka anak FH, Eva terlihat sangat rempong, Tanto terasa aneh plus jayus, dan Zahrina tampak terlalu baik hati seperti tokoh protagonis di sinetron RCTI. Namun setelah beberapa lama akhirnya kutemukan bahwa prasangka itu…

..banyak benarnya.

Iya. But somehow it’s bearable.

Barangkali dari hari ke hari bergulung-gulung bersama mereka sejak subuh hingga listrik mati membuatku tidak begitu sensitif lagi. Kita menyebut fenomena ini ‘habituasi’. Atau mungkin sifat-sifat baik mereka sudah cukup mengkompensasi sifat-sifat menyebalkannya. Yang ini bisa disebut ‘selective attention‘.

3. Rencana-rencana, dari Kepala ke Lidah (dan ludah)

Satu hal yang menurutku paling melelahkan dalam simulasi berumah-tangga ini adalah ketika kita harus mengutarakan setiap rencana. Kalau tinggal sendirian kita bisa melakukannya dalam kepala, sendirian saja, tanpa bercakap-cakap. Kita bisa menunda atau menyegerakan sesuatu sesuai keinginan. Lha kalau hidup kita sudah berkaitan dengan orang lain, setiap rencana harus dibagi, lalu disesuaikan dengan kebutuhan yang lain.

Nah. Sudah sih. Itu saja. Lagipula ini kan bukan blog soal rumah tangga atau pasutri jadi tidak perlu dibahas panjang-panjang. :B

Satu hal yang pasti, sebulan K2N membuatku merasa harus beneran hati-hati memilih rekan berumah-tangga. Kalau kedapatan yang nyebelin pasti capek banget rasanya.. Lha sebulan aja udah capek, apalagi kalau (harus) bertahun-tahun. . . 

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s