Ini Tahunnya Perempuan

Beberapa bulan lalu, ketika sedang menunggu jam terbang pesawat, aku bertemu dengan seorang perempuan. Setelah bercerita sedikit tentang tempat tujuannya dan lain-lain, aku–entah bagaimana–bertanya, “Mbak belum menikah to?”

Mbak itu tersenyum, lalu melanjutkan dengan jawabannya, “Aku sudah punya anak satu. Tapi aku sudah pisah sama suamiku.”

Then and there. Dengan keberanian dan kelancangan yang entah dari mana, aku mencoba mem-probing, “Boleh tahu alasannya nggak mbak?”

Dan dia tersenyum lagi. Boleh, katanya, karena kita bisa sama-sama saling belajar dari pengalamannya.

Singkat cerita, ia dijodohkan dengan seorang lelaki dari desa asalnya. Tanpa berat hati ia menerima perjodohan itu. Namun setelah beberapa lama menjalani pernikahan, sesuatu terjadi. Kita biasa sebut hal itu ‘KDRT’. Selain dengan tangan juga dengan kata-kata. Menurut tuturannya, segala yang dilakukan mbak ini selalu salah di mata suaminya.

“Kalau cuma kekerasan fisik mungkin aku masih bisa tahan ya. Biru-biru bisa hilang sendiri. Luka juga bisa sembuh. Tapi yang aku nggak bisa tahan itu kekerasan secara mentalnya,” begitu ceritanya.

“Padahal aku kan ya nggak malu-maluin banget ya. Maksudnya tampang ya ada lah walaupun cuma sedikit. Nggak jelek-jelek amat gitu lho.”

Aduh. Aku sedih sekali untuk bagian ini. Keberhargaan diri.

Mendengar cerita itu, dalam hati, aku membayangkan.. kalau aku yang ada di posisinya, apa yang akan aku lakukan? Ambil inisiatif untuk menggugat cerai tampaknya terlalu menegangkan. Bersabar sambil menangis-nangis sedikit agaknya terasa lebih aman.

Semester lalu aku mengambil mata kuliah Psikologi Perempuan & Gender dan Paradigma Feminisme. Aku sudah menyelesaikan membaca Cinderella Complex yang sempat tertunda tahun lalu. The Ten Year Nap yang dibeli dengan harga diskon menjadi perwakilan kategori fiksi dalam penghayatanku. Sementara perkenalan dan obrolan dengan Mbak Yun, Mala, Bu Sri, Teh Ila, serta Bu Syarifah menjadi perwakilan kasus faktualnya. Dan, of all things, aku mulai berlangganan Jurnal Perempuan. Beuh.

Rasanya ini semacam ‘Tahunnya Perempuan’ bagiku.

Ada rasa setali antara hal-hal ini. Walau begitu aku belum bisa menuliskan thesis apapun mengenainya. Aku masih dalam tahap menghujani diri dengan seluas-luas (semoga) sudut pandang, dan menubruk-nubrukkannya dalam kepala. Aku hanya baru bisa merasakannya.

And I think, no, I’m not going with the wagon.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

5 thoughts on “Ini Tahunnya Perempuan”

  1. Apa kesetaraan yg perempuan cari dalam pandanganmu? Apa kamu juga berpendapat kalo Cinderella Complex itu suatu bentuk kelemahaan dari perempuan karena ternyata perempuan mempunyai tendensi untuk bergantung dengan lelaki yg mana itu berarti mereka tidak bisa mandiri?

    Like

    1. Dalam pandanganku kesetaraan yang dicari itu sangat beragam, banyak dipengaruhi oleh bagaimana pengalaman tiap perempuan–atau paling tidak tiap kelompok perempuan. Tidak bisa mudah ditunggalkan.
      Lalu tentang cinderella complex, menurutku itu jadi kelemahan kalau orang menyerah terhadapnya. ‘Tendensi’ baru setengah cerita, selanjutnya tentu bergantung dengan bagaimana orang mengelolanya. Itu pun kalau tendensi itu memang ada. Nggak semua perempuan ber-cinderella complex kan. :B

      Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s