Cerita Sebuah Nama: Novi

Ada seorang anak perempuan bernama Novi. Setiap orang yang berkenalan dengannya selalu menebak dengan keyakinan penuh, “Kamu pasti lahir di bulan November!” Padahal tidak. Novi lahir di bulan Desember.

Dan Novi sudah cukup bosan meluruskan asumsi orang-orang di sekitarnya soal bulan kelahiran ini. Untunglah ia masih berhasil merawat kesabaran itu selama delapan belas tahun belakangan. Walau kadang ada juga orang-orang yang langsung lupa dan kembali bertanya, “Eh Novi lahir di bulan November kan?”

Soal mengapa ia diberi nama Novi meski lahir di bulan Desember punya cerita tersendiri. Alkisah, dokter memperkirakan Novi akan lahir ke dunia pada tanggal 29 November. Ayah dan ibu Novi, yang sama-sama lahir di bulan November, girang bukan kepalang dengan kabar ini. Mereka sangat menyukai bulan November, bahkan melebihi bulan Ramadan sekalipun. Maka mereka pun antusias mempersiapkan segala atribut November-ish untuk sang calon anak. Tak terkecuali nama. Novi Ema Berlian. Yang jika dipaksa-paksakan menjadi akronim akan terbaca ‘November’.

Ketika akhirnya tanggal 29 November tiba, ibu Novi tidak mengalami reaksi apa-apa. Dokter yang menanganinya malu-malu mengaku bahwa ia telah salah ucap ketika memberi tahu tanggal prediksi. Sebenarnya, sang dokter memperkirakan bayi itu akan lahir pada minggu pertama Desember.

Tentulah ini bukan persoalan yang penting. Tak ada masalah apakah seorang anak lahir di bulan November, Desember, atau bulan Muharram sekalipun. Yang penting ia lahir dengan selamat dan sehat. Tentu hal ini amat jelas kita pahami. Orang tua Novi pun mafhum sekali. Hanya saja terkadang semata-mata jarak antara kenyataan dan harapan membuat kita melongo sejenak. Seolah dipermainkan. Lalu muncullah kesakitan. Hal inilah yang dirasakan, dan kemudian menguasai ayah dan ibu Novi.

Pada akhirnya mereka berdua tetap teguh memberi nama sang anak sesuai rencana awal. Setiap memanggil nama anak itu, “Novi, Novi sayang,” kembali ayah dan ibunya diingatkan mengenai salah-ucap yang bodoh. Kegirangan yang tinggi. Kekecewaan yang irasional. Kekerasan kepala.

Kadang terbersit juga dalam kepala ayah dan ibu itu–masing-masing, sebab mereka tidak pernah saling bicara perihal ini secara terbuka–apa jadinya jika mereka memberi nama anaknya Desi alih-alih Novi. Desi Ema Berlian yang lahir di bulan Desember. Akankah mereka merasa konyol? Akankah ada rasa berkhianat kepada ‘Novi’ yang tidak pernah hadir di dunia? Novi-Novi yang sudah rajin mereka doakan tak putus-putusnya..?

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Cerita Sebuah Nama: Novi”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s