Heidi dan The Secret Garden

Kali ini aku akan menulis ulasan dua buku dalam satu post. Menurutku keduanya ada mirip-miripnya sedikit lah.. sama-sama berpusat pada tokoh anak perempuan, sama-sama berakhir bahagia, tapi aku lebih menyukai yang satu ketimbang yang lain. Mari disimak.

Heidi


Heidi pertama kali ditulis pada tahun 1880 oleh Johanna Spyri. Tua juga ya. Pada kaver depan dikatakan bahwa novel ini sudah terjual lebih dari lima puluh juta eksemplar di seluruh dunia, difilmkan belasan kali, dibuat serial televisi dan radio, serta sukses dalam bentuk komik. Ketika aku membawa-bawa buku ini ke kampus, beberapa orang mengenalinya dan berkata, “Eh, Heidi yang itu?” Hal ini mengonfirmasi kemasyhuran Heidi. Kalau aku sendiri sih belum pernah kenal sebelumnya, dan membeli bukunya pun sekadar karena murah.

Novel  ini berkisah tentang tokoh utama yang bernama Heidi, seorang anak perempuan berusia lima tahun yang yatim piatu. Cerita dimulai ketika Heidi mulai tinggal di rumah kakeknya, ‘Paman Alm’, di pegunungan Alpen. Paman Alm ini orang yang sangat grumpy dan seram. Pernikahan kedua orang tua Heidi dahulu pun tidak mendapat restu darinya. Namun dengan keceriaan, keluguan, dan kesucian hati Heidi, ternyata Paman Alm meluluh dan lambat laun jadi amat mencintai cucunya. Untuk sementara waktu hidup Heidi berjalan indah bersama kakek, sinar matahari, domba-domba, dan rumput-rumput.

Ketika Heidi mulai besar (8 tahun), bibi Heidi datang ke rumah Paman Alm dan ‘mengambil’ Heidi. Heidi dipaksanya pindah ke rumah seorang kaya di Frankfurt untuk bertugas menjadi teman anak perempuan di rumah itu. Kebetulan anak perempuan itu sakit-sakitan dan pemurung. Pendek cerita, kembali dengan keceriaan, keluguan, dan kesucian hatinya Heidi berhasil ‘memperbaiki’ keadaan di rumah itu. Ia pun kembali lagi ke pegunungan Alpen dan tinggal bersama kakeknya.

Kurang lebih begitulah jalan cerita Heidi ini. Intinya bagaimana seorang anak perempuan yang ceria, lugu, dan suci bisa menjadi penerang bagi sekitarnya. Novel ini juga punya nuansa religius yang kental. Doa dan lagu-lagu pujian jadi bagian yang penting dalam ceritanya.

Misalnya ketika Heidi berputus asa di Frankfurt ia mulai belajar cara berdoa kepada Tuhan. Namun tidak lama setelahnya ia berhenti berdoa. Kata Heidi, “Itu tidak ada gunanya. Tuhan tidak mendengarku. Aku yakin jika semua orang di Frankfurt berdoa memohon sesuatu pada saat yang sama, Tuhan tudak mungkin memperhatikan semuanya, jadi aku tahu Dia tidak mendengarku.” “Aku mendoakan hal yang sama setiap hari selama berhari-hari, tetapi tidak ada yang terjadi.” Lalu ia pun mendapat ceramah dari Nyonya Sesemann bahwa ‘doa tidak bekerja seperti itu’, dan bahwa Tuhan adalah begini dan begitu. Setelah itu Heidi pun berjanji tidak akan melupakan Tuhan lagi.

Dalam pembacaanku, Heidi terasa cukup inspiratif, walaupun dengan cara yang agak klise. Tapi nggak klise-klise amat kok. Ceritanya cukup ringan untuk dibaca anak-anak, tapi bisa jadi tidak seringan itu kalau diperhatikan dalam-dalam. Ada banyak pesan sarat nilai, seperti tentang hubungan selaras si kaya dan si miskin, keajaiban, dan kekuasaan Tuhan yang tidak berbatas.

The Secret Garden


The Secret Garden ditulis pada tahun 1909 oleh Frances Hodgson Burnett, dan disebut-sebut sebagai salah satu novel anak terbaik sepanjang masa. Buku ini berkisah tentang Marry, seorang anak kecil yang menyebalkan dan egois. Ketika kedua orang tuanya meninggal, ia pun dikirim ke rumah pamannya di Inggris. Rumah pamannya sangat luas dan cenderung sepi, karena itu Marry sering merasa bosan. Berkat usulan seorang pelayan, Marry akhirnya memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan di kebun rumah pamannya yang luas. Suatu hari, ia menemukan jalan masuk ke dalam sebuah taman rahasia yang ada di dalam kebun itu. Ia pun kemudian berteman dengan Dickon, Colin, dan Ben si tukang kebun. Keajaiban dari sinar matahari dan tumbuh-tumbuhan membuat Marry tumbuh lebih sehat dan menjadi anak yang lebih baik hati, sambil tetap mempertahankan keangkuhan dalam kadar seperlunya.

Ini benar-benar buku anak-anak yang penuh dengan munculnya keajaiban tepat saat keajaiban itu diperlukan. Segalanya berjalan relatif lancar, tanpa hambatan, tanpa kegagalan. Ada burung robin yang memberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan, ada anak laki-laki yang bisa memahami bahasa hewan, dan ada keluarga pelayan miskin yang–walaupun serba kekurangan–tetap bijaksana.

Selain dari itu, buku ini banyak bicara soal tanah, sinar matahari, tumbuhan, dan perkebunan. Munculnya tunas dari tanah memang bisa dikatakan sebuah keajaiban ya. Itu hal yang menarik.

Secara umum aku merasa buku ini biasa saja. Mungkin kalau aku membacanya saat masih SD buku ini akan terasa lebih indah. Mungkin juga karena aku belum pernah merasakan transisi dari musim dingin ke musim semi, tuturan tentang keindahan yang dibawa novel ini terasa terlalu muluk. Mungkin juga karena begitu selesai membaca novel ini aku langsung lanjut baca Of Mice and Men yang punya suasana lebih… realistis. Mungkin.

Yah, demikianlah ulasanku tentang Heidi dan The Secret Garden. Barang siapa yang tertarik untuk membacanya silakan meminjam padaku.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Heidi dan The Secret Garden”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s