Menyelamatkan Pahlawan

Sesekali, kita butuh diselamatkan.

Mungkin awalnya karena ketidakmampuan kita untuk, misal, berjalan mantap dengan dua kaki sendiri. Seiring waktu kita semakin mampu melakukan ini dan itu. Tapi tetap saja, ada yang namanya kealpaan, kemalasan, keterhanyutan dalam suasana, dan seterusnya, yang membuat kita masih butuh diselamatkan. Sesekali.

Sesekali, kita berubah.

Dalam wujud yang paling kentara sampai wujud yang hanya dapat dirasa-rasa. Six packs di perutmu itu mungkin saja akan segera menjelma jadi family pack jumbo. Pahlawan di hari ini mungkin saja menjadi orang zalim di kemudian hari. Tapi ini dan itu adalah dua hal; yang terakhir tidak mengurangi nilai kebaikan yang pertama.

Aku perlu merangkai maksudku jadi satu?

Wan, Pahlawan, aku selamanya bersyukur atas aksi heroikmu menyelamatkanku. Aku harap ada orang yang dapat menjadi pahlawan bagimu sebagaimana kamu bagiku. Orang itu, aku rasa bukanlah aku. Sayangnya tidak bisa. Aku, tentu saja, akan berusaha jadi pahlawan pada kasus-kasus yang memungkinkan.

Walau, sesekali, tetap butuh diselamatkan.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s