Catatan Perjalanan Pulang

Ketika aku sendirian dan tidak melakukan apa-apa, kesadaran tentang sekitar tiba-tiba meningkat tajam. Kesadaran ini sering kali terasa asing, tidak ramah, dan menyakitkan. Misalnya aku jadi memperhatikan garis-garis keramik di lantai, menelusurinya, dan mencari pola-polanya. Lantas merasa menjadi ‘orang kurang kerjaan’. Aku juga jadi lebih memperhatikan orang lain dengan perjuangan dan kebosanan masing-masing. Melihat orang tengah tertawa bersama kawan/kawanannya membuatku semakin merasa sendirian. Bukan perasaan yang enak. Bahkan melihat orang lain tersedot ke dalam gawainya masing-masing bisa sedikit menyakitkan, seperti ada suara: Asyik sekali lho ngobrol dengan teman, membaca update terbaru, dan berbagi gambar-gambar cantik dengan dunia. Aku ndak sendirian seperti kamu, you poor thing.

Hahahahahaha.

Orang-orang meletakkan tas-tas besar di tempat duduk di samping mereka. Fungsi ganda: menjaganya tetap aman dalam jangkauan dan mencegah orang asing berada terlalu dekat. Ruang tunggu domestik tidak terasa sehangat ruang tunggu internasional. This, I find it funny. Dalam kesamaan yang kita sandang, ironisnya, tidak ada yang menyatukan kita. Kita sudah merasa cukup nyaman dengan koran, earphone, dan gawai masing-masing. Kita aman di dalam dunia kita sendiri, yang kita kenali dengan baik. Kita tidak perlu mencari-cari dukungan dari orang lain. Sementara di lingkungan yang asing mata kita justru spontan mencari-cari bentuk wajah dan warna kulit yang familiar. Menemukan teman sebangsa terasa membahagiakan, dan keberanian untuk mengobrol tiba-tiba hinggap. Hap.

Ah, ‘kita’? Oke itu mungkin aku saja.

Di depanku ada seorang laki-laki dengan baju loreng tentara. MUJI terjahit di dada kanannya, sementara INDONESIA di dada kiri. Topi baretnya berwarna biru dengan emblem lambang PBB. Lambang yang sama ada di bahu kanannya, sementara bendera merah putih ada di bahu kiri. Sepatunya terlihat sangat profesional, sangat ‘tentara’ (apa sih – -). Bagaimana kita menyebut tentara semacam ini? ‘Tentara internasional PBB’? ‘Tentara dewan keamanan’? Barusan aku nyata-nyata melihatnya langsung, tepat di wajah, tidak menyembunyikan bahwa aku menaruh perhatian. Sebentar kemudian ia menerima telepon. Bicara beberapa hal dengan wajah ceria. Lalu berdiri. Dan pergi. Dari jauh tampaknya ia menemukan tempat duduk di pojok lain.

Apa? Dia menjauhiku? Dia mengira aku mata-mata asing yang punya rencana jahat tertentu pada PBB? Dia tadi menelepon rekannya melaporkan kejanggalanku? Wuo..

Padahal di kepalaku banyak sekali pertanyaan soal Pak Muji. Seperti, kenapa dia mengenakan seragam tentara begitu? Apakah dia baru saja pulang dari tugas internasional di suatu negara jauh? Seperti apakah negara itu? Dari corak warna loreng seragamnya aku merasa seragam itu cocok digunakan di lingkungan kering-padang pasir, apakah benar? Seperti apakah tugas yang dia jalankan? Apakah ada makna tertentu dari warna biru baretnya? Bagaimana ceritanya kok bisa menjadi ‘tentara PBB’? Bagaimana dia mendapati kawan-kawan tentara dari negara yang lain?

Dan seterusnya.. dan seterusnya.

Yasudah. Selamat tinggal, Bapak Muji.

Except that it’s not actually a separation. Karena ternyata dia menaiki pesawat yang sama denganku. Dan ternyata dia duduk tepat di depanku.

Tidak, tentu saja aku tidak melakukan apa-apa, mencoba mengobrol atau apa, tidak.

Pesawat itu transit di Semarang, sedang aku akan melanjutkan perjalanan sampai Surabaya. Kebanyakan penumpang turun di Semarang sebagai tujuan akhir, sementara penumpang transit sepertiku diminta pergi ke ruang tunggu.

Dan. Ternyata. Pak Muji juga transit untuk kemudian terbang lagi ke Surabaya. Wah. Pak, pertanda apa ini Pak? :0

Ketika kami menaiki pesawat lagi, melalui bayangan ulap di jendela samping kursinya kulihat Pak Muji mengenakan kacamata hitam. Menurutku kacamata hitam selalu memberi kesan don’t disturb, leave me alone. Entahlah. Mungkin aku saja.

Di hamparan langit biru di luar bisa kulihat kawanan domba awan kecil-kecil berbaris tidak teratur. Hmm aku yakin mereka nggak kecil-kecil amat.. tapi terlihat imut sih. Pingin bawa pulang satu. Aku punya koleksi pasir dari beberapa pantai dan gunung. Coba ya kalau awan bisa dikoleksi begitu.

Akhirnya mendaratlah pesawat udara di Juanda. Ketika berjalan di koridor menuju pintu keluar kudapati Pak Muji berbelok ke arah toilet. Baiklah, ini benar-benar perpisahan ya Pak. Selamat tinggal. Kalau suatu hari bertemu lagi mungkin aku akan coba menanyakan hal-hal di atas tadi. Maaf kalau aku menuliskan hal-hal aneh di sini.

Oh omong-omong, kalau kamu belum tahu, ‘gawai’ itu bahasa Indonesia dari gadget.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Catatan Perjalanan Pulang”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s